Brandal Couple

Brandal Couple
*Menginap


__ADS_3

Hari sudah cukup malam, Flo mati-matian meminta Rosyi untuk menginap, lagipula besok mereka libur bukan?


Rosyi tentu tak bisa menolak permintaan dari wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri itu.


Flo dengan excited nya membawa Rosyi ke kamar tamu yang sudah ia persiapkan untuk Rosyi sejak hari dimana Reyn membawa Rosyi datang kerumah ketika acara makan malam keluarga.


"Nanti malam kamu tidur disini tidak apa-apa kan? Apakah kamarnya terlalu sempit sayang?"


Yang di ajak bicara hanya menggeleng sambil tersenyum manis, "Tidak mom, kamar ini cukup luas terimakasih."


Tunggu, mom? Ya, akhirnya Flo meminta Rosyi untuk memanggil nya mommy saja, katanya sih supaya lebih dekat aja.


"Bagus deh kalau kamu suka, ayo ke ruang tengah, Daddy sama Ryan sudah menunggu kita."


Rosyi mengangguk, ia hanya pasrah ketika Flo menarik tangannya dengan riang gembira la-la-la~



Malam ini ruang tengah keluarga Adhitama terlihat lebih ramai dari biasanya. Biasanya ruang tengah hanya di isi oleh kedua orang tua Reyn yang saling bermesraan, sedangkan sang anak entah pergi kemana.


Namun, malam ini mereka semua berkumpul, di tambah satu anggota baru, yaitu Rosyi.


"Reyn!" Teriak Rosyi kesal karena Reyn yang menjahilinya, laki-laki itu terlihat begitu bahagia ketika melihat wajah Rosyi yang penuh dengan coklat.


Plak...


"Aduh..." Remaja laki-laki itu meringis ketika tengkuknya di pukul dengan tanpa perasaan oleh sang ayah.


"Berani kamu jahilin menantu saya?!" Perawatan Jay yang seram dengan kumis tebalnya membuat Reyn merinding.


Laki-laki itu segera berdiri lalu membungkuk ala bangsawan, "Mohon maaf baginda raja."


"Karena kamu telah membuat kesalahan yang fatal, maka saya akan menghukum mu, kamu akan di penjara di ruang bawah tanah selama ratusan TAHUN!"


"AAAA, TIDAK~"


Rosyi tertawa geli melihat lawakan kedua anak dan ayah itu, kini ia tidak kesal lagi, ia malah merasa begitu senang melihat drama yang Jay dan Reyn tunjukkan.


"Tuh kan, mommy bilang juga apa. Daddy itu kelihatannya aja serem, tapi orang nya seru kok, humoris walaupun kadang-kadang cringe." Bisik Flo pada Rosyi.


Rosyi mengangguk dengan tawa yang semakin keras karena lagi-lagi drama Reyn dan Jay yang menggelitik perut.


Reyn yang meronta histeris sedangkan Jay menyeret laki-laki itu, berlagak seperti prajurit yang akan membawa Reyn ke sel tahanan.


"Udah, jangan ketawa terus, ayo cuci muka dulu sana. Mommy juga mau cuci muka nih." Ajak Flo yang sudah berdiri dari duduknya.


Rosyi hanya menurut, ia pun mengikuti Flo menuju kamar wanita itu. Memang semua kamar mandi di rumah itu memiliki skincare seperti sabun cuci muka, moisturizer dan lain sebagainya. Namun, skincare yang ada di kamar Flo jauh lebih lengkap dan lebih bagus, karena itulah ia membawa Rosyi ke kamar nya.


Rosyi pikir, Flo hanya akan mengajaknya untuk mencuci muka saja, namun ternyata tidak. Wanita itu tiba-tiba saja mengambil masker wajah, dan kini, wajah keduanya sudah full dengan masker berwarna putih itu.


"Aho iha hurun ahi." Ajak Flo.


Rosyi lagi-lagi hanya bisa pasrah mengikuti Flo, keduanya berjalan ke bawah dimana Reyn dan Jay masih setia berdrama, bahkan para pelayan yang lewat sampai di buat shock dengan kelakuan ayah dan anak satu ini.


"Dad, udah ah, capek." Reyn jatuh tertidur di lantai, tepat di depan TV yang menayangkan kartun kesukaan Flo, yaitu si kembar botak Upin dan Ipin.


"Ck, payah kamu, masa gitu aja udah tepar. Kayak daddy dong, walaupun umurnya udah gak muda tapi energi nya tetep muda." Jay menepuk dadanya bangga.


Yang lebih muda mengacungkan jempol, "Ya, energi nya sangat muda sampai Reyn mau di kasih adik di usia 17 tahun." Puji Reyn yang lebih seperti sebuah sindiran.


"Alah kamu Reyn, punya adik di usia segini tuh malah seru. Anggap aja simulasi punya anak."

__ADS_1


"Heh! Anak apa?!" Suara teriakan Flo sontak membuat keduanya langsung menoleh.


"AAA HANTU! DADDY ADA HANTU!" Reyn yang awalnya rebahan, tiba-tiba bangkit dan berlari seperti orang kesetanan.


Tak jauh beda dengan sang anak, Jay kini juga sudah berlari kesana kemari dan berakhir ngumpet di belakang sofa.


Melihat reaksi anak dan suaminya yang seperti itu, Flo tentu langsung naik pitam. "HANTU?! KALIAN BILANG KALAU MOMMY ITU HANTU?!"


Dengan polosnya, Reyn dan Jay berhenti lalu menatap Flo bingung. "Mommy?" Tanya keduanya seolah baru menyadari jika dua perempuan yang berdiri di depan TV itu adalah Flo dan Rosyi.


"KALIAN BERDUA TIDUR DI RUANG TENGAH MALAM INI!"


Kedua laki-laki beda generasi itu pun membolakan matanya, "WHAT?!"





"Ini semua salah Daddy!" Reyn memalingkan wajah kesal sambil memeluk bantal bergambar Patrick si bintang laut kesayangan Reyn yang sempat ia ambil dari kamarnya sebelum ruangan itu di kunci oleh sang ibu.


"Apa-apaan salah Daddy, orang kamu yang duluan lari sambil teriak ada hantu." Sungut Jay tak terima.


Keduanya bertatapan sengit, jika mereka ada didalam sebuah komik, mungkin sudah ada sengatan listrik yang saling menyengat dari mata keduanya.


"Huh, sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, ayo tidur." Nampaknya bapak Jay kita telah pasrah dengan keadaan. Masih mending disuruh tidur di ruang tengahkan, daripada gak ada jatah sebulan? Bisa mati penasaran dia.


Reyn berdecak kesal namun tetap ikut berbaring di salah satu sofa, mengikuti sang ayah yang sudah lebih dulu pergi ke alam mimpi.


Sedangkan itu, para perempuan tengah berpesta di atas penderitaan pasangan mereka yang harus tidur di luar.


Inilah yang dinamakan surga dunia, menonton Drakor kesukaan sambil nyemil malam memang benar-benar syahdu.


"Aduh, mom, sebentar ya, Rosyi kebelet nih." Gadis itu segera meletakkan Chiki yang sejak tadi ia makan.


Flo menoleh sebentar lalu mengangguk, "Yaudah, mommy pause dulu, kamu jangan lama-lama ya."


"Siap mom." Setelah mengatakan itu, Rosyi langsung berlari menuju kamar mandi, ia sudah benar-benar tak tahan.



Apakah kalian berfikir jika Rosyi benar-benar buang air di dalam kamar mandi? Tentu saja tidak! Gadis itu bukan nya buang air melainkan...


"Akh...Shh... Padahal lukanya sudah kering, tapi kenapa masih sakit sih." Gerutunya kesal sambil mengoleskan salep pada luka goresan yang ada di pinggang bagian kanannya.


"Nah, sudah."


Rosyi melihat dirinya sendiri di dalam cermin, gadis itu tersenyum miris melihat keadaannya sendiri.


Luka di pinggang nya itu adalah luka yang ia dapatkan dari sang ibu beberapa hari lalu.


Rosyi tidak tahu bagaimana bisa Tari mengetahui bahwa dirinya menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yaitu Reyn. Karena hal itulah Tari beberapa hari ini kambuh dan selalu menyiksa Rosyi tanpa henti.


Dan sebenarnya, ia juga belum meminta izin pada sang ibu untuk menginap malam ini. Entahlah bagaimana tanggapan wanita itu ketika Rosyi pulang besok, ia tak peduli. Untuk sekarang, ia hanya menginginkan sebuah kasih sayang seorang ibu, dan ia bisa mendapatkan hal itu dari Flo, ibu Reyn.


Sebenarnya Rosyi bisa saja menemui tantenya, ibu Orion. Namun, entah bagaimana Rosyi malah kepikiran untuk bermanja pada ibu dari Reyn yang bahkan baru ia temui sekali.


"SAYANG! KAMU MASIH LAMA?" Suara teriakan Flo membuyarkan lamunan Rosyi pada pantulan dirinya sendiri di cermin.


"SEBENTAR MOM."

__ADS_1


Gadis itu membasuh wajahnya dengan air supaya terasa lebih segar, lalu baru setelah nya ia kembali ke kamar dimana Flo sudah menunggunya.


"Kamu sembelit ya? kok lama banget," Tanya Flo perhatian.


Yang di tanya hanya tersenyum lebar, "Sedikit."


Flo terkekeh maklum lalu mengajak Rosyi untuk duduk di sampingnya dan kembali menonton. Kedua perempuan berbeda usia itu menghabiskan waktu semalaman untuk menonton Drakor.


Kalian tentu tahu, jika perempuan sudah maraton Drakor, mereka bisa menonton sampai malam berganti pagi.





*Disisi Lain.


Tari sudah meledak-ledak karena Rosyi yang tak kunjung pulang. Di telfon tak diangkat, pesan pun tak dibaca, bahkan ponselnya mati.


"Kemana anak s*alan itu pergi hingga jam segini belum pulang? Apakah dia sedang mengangkang di hadapan pria tua untuk mendapatkan uang?!" Tari jika sudah kambuh, ia bisa mengatakan apapun tanpa berpikir sama sekali.


"Nyonya, jangan berbicara seperti itu. Mungkin saja nona Rosyi tengah menginap di rumah temannya, lagipula besok kan libur."


"Teman atau pacarnya?" Tanya Tari sinis, Bibi Na pun menundukkan kepala, ia juga tak begitu yakin sebenarnya.


"Lihat saja ketika ia pulang nanti, aku akan membuat nya masuk rumah sakit dengan tangan ku sendiri," Ucap Tari berapi-api.


Kedua mata bibi Na melotot lebar mendengar nya, "Tidak nyonya, jangan lakukan itu_"


"Aku tidak meminta mu untuk bicara!" Tegurnya keras.


"Anak itu memang perlu di kasih pelajaran supaya dia tahu siapa dirinya dan bagaimana dia harus bersikap."


Di belakang sana bibi Na sudah menggeleng heboh, ia tak ingin sang nyonya merealisasikan ucapannya barusan.





Rosyi masih terjaga, padahal hari sudah menjelang pagi dan Flo juga telah tertidur. Entahlah, rasanya kantuk belum menyerang Rosyi sama sekali, membuatnya tak bisa tidur untuk sementara waktu.


Pikiran gadis itu melalang buana, memikirkan nasibnya esok. Rosyi tidak takut, ia hanya kecewa.


Ia kecewa, kecewa kenapa trauma sang ibu jauh lebih mempengaruhinya nya dari Rosyi, anaknya sendiri.


Ia kecewa, kenapa kasih sayang yang ia dambakan sejak dulu tak pernah ia dapatkan dari sang ibu.


Tari memang menyayangi Rosyi ketika dirinya sedang tidak kambuh, namun kasih sayang itu hanya sementara, bahkan terasa tak nyata. Tari selalu sibuk dengan pekerjaannya di perusahaan.


"Kenapa dunia begitu tak adil? Surga ada di telapak kaki ibu, namun kenapa surgaku begitu menyakitkan dan penuh rintangan? Kenapa?"


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Jayson Adhitama



Ketceh sekali bapak-bapak satu ini.

__ADS_1


__ADS_2