Brandal Couple

Brandal Couple
*Makan Malam


__ADS_3

Drett...


Rosyi membiarkannya ponselnya berdering terus, sedangkan ia sibuk melihat penampilan nya di kaca.


Dirasa penampilan nya sudah cukup, ia pun mengambil tas selempang kecil miliknya lalu mengambil ponselnya yang telah berhenti berdering. Ternyata orang yang tadi menelfonnya juga meninggalkan pesan yang bertuliskan 'Aku menunggumu di halte bus dekat rumahmu. Jangan menaiki motor sendiri.'


Gadis cantik dengan pakaian serba hitam itu berdecak kesal, apakah Ryan ingin dirinya di bunuh hidup-hidup oleh sang ibu?


Jari indah Rosyi mulai mengetikkan pesan balasan kepada Reyn dengan lincah dan cepat.


^^^Gak, gue naik motor sendiri.^^^


Rosyi hendak memasukkan ponselnya ke dalam tas, namun benda pipih dengan kamera seperti Boba itu tiba-tiba berbunyi menandakan pesan balasan dari Reyn telah masuk.


Bareng gue, tau gue samperin lo ke rumah?!


S*al, Reyn benar-benar menyebalkan!


Rosyi langsung memasukkan produk ponselnya ke dalam tas lalu berjalan keluar kamar dengan perasaan kesal bukan main.


Sedangkan disisi lain, Reyn tersenyum puas ketika Rosyi tak lagi membalas pesannya.




Tak...Tak...Tak...


Langkah Rosyi terburu-buru ia bahkan hampir menabrak sang mommy yang baru saja pulang bekerja.


"Sayang, pelan-pelan dong. Memangnya kamu mau kemana sih?" Tanya wanita itu dengan suara yang lembut.


"Maaf mom, Amelia buru-buru, soalnya mau udah di tungguin Amira sama Nadia." Rosyi tersenyum canggung pada sang ibu.


Nyonya Tari mengangguk, lalu menyodorkan tangannya yang langsung disalimi oleh Rosyi. "Jangan pulang terlalu malam oke?" Di kecupnya kening sang anak.


Rosyi mengangguk, ia memeluk sang ibu sebentar sebelum melambaikan tangan dan berlari keluar rumah.



Reyn memang menyebalkan, ia membuat Rosyi berbohong kepada ibunya dan satpam rumahnya sendiri. Sekarang, laki-laki itu juga membuatnya harus berjalan beberapa puluh meter untuk sampai di halte.


"Padahal gue bisa naik motor sendiri, dasar monyet!"


"Seharusnya gue gak nerima tantangan itu, AKHH! MENYEBALKAN!"


"Gue bakal bunuh dia, awas aja nanti." Rosyi terus saja menggerutu sejak dirinya keluar dari gerbang rumah.


"Berhenti menggerutu dan cepat naik!" Karena terlalu asyik menggerutu, Rosyi sampai tak sadar jika ia telah sampai di halte yang di tuju.


Gadis itu menatap nyalang Reyn, "Bisa gak sih kalau Lo tuh gak ngagetin gue?!"


Reyn mengangkat bahunya acuh, "Gue gak ngagetin, lo nya aja yang gak konsen."


"Udahlah, naik cepet." Reyn menarik tangan Rosyi untuk segera naik.


"Iya-iya, sabar kalik!"





Selama perjalanan, keduanya hanya diam, tak ada yang berinisiatif membuka suara, bahkan hanya untuk sekedar mengobrol ringan saja tidak.


"Habis ini belok kiri."


Reyn tak menjawab, ia terus menjalankan motor lurus ke depan, dan itu membuat dahi Rosyi berkerut. "Kenapa gak belok?! tadi kan gue suruh Lo belok!"

__ADS_1


"Gue masih lurus, ogah banget gue belok." Jawaban Reyn benar-benar membuat Rosyi kesal, sangking kesalnya ia sampai memukul kepala Reyn yang tertutup helm.


BUGH...


"Woy!" Teriak Reyn karena ia sempat oleng tadi.


"Puter balik! ini bukan jalan ke rumah Orion!"


"Emang bukan," Jawab Reyn acuh.


"Terus kita mau kemana bangsat?!" Rosyi sudah benar-benar naik darah sekarang.


"Kita makan malam di rumah gue."


"W_what?!"


"ANJ SI*LAN LO!" Rosyi reflek memeluk Reyn karena laki-laki itu tiba-tiba saja menambah kecepatan laju motornya.


"Gue bener-bener pengen bunuh nih orang." Gerutu Rosyi dalam hati.





Dahi Rosyi berkerut ketika dilihatnya begitu banyak mobil dan motor yang terparkir di halaman rumah Reyn. "Apakah ada pesta?"


"Hanya makan malam bersama keluarga besar," Jawab Reyn santai.


"What?!" Rosyi melongo.


"LO GILA YA?! NGAPAIN NGAJAKIN GUE BEGO?!" Gadis itu langsung naik pitam, masalah nya, ia hanya mengenakan pakaian yang biasa kenakan untuk nongkrong dengan teman-temannya, sedangkan ini adalah acara makan malam keluarga besar Reyn, keluarga yang tidak biasa yang pasti di acara seperti ini orang-orang akan mengenakan pakaian pesta yang mewah nan elegan.


"Santai aja kalik, ayo masuk." Reyn menarik tangan Rosyi untuk masuk, namun gadis itu menahannya. "Lo gak liat ya pakaian gue kayak gini? Ya masa di acara makan malam keluarga Lo gue pakai baju yang kayak gini?"


"Udahlah, gak akan ada yang berani ngomongin Lo juga kalau Lo pakai baju kayak gitu."


Satu alis Reyn terangkat, "Lo masih punya malu juga ternyata?"


"Reyn! Serius dikit bisa gak sih?" Sumpah, Rosyi benar-benar kesal sekarang, sedangkan oknum yang membuatnya kesal malah tertawa tanpa dosa.


Rosyi langsung mencubit pinggang Reyn hingga tawa laki-laki itu terhenti, "Aw! Iya-iya, maaf deh. Nanti lo pakek baju si Amira aja, gue udah bilang sama dia buat bawa baju lebih."


Oh ya, Amira. Rosyi hampir saja lupa jika teman nya itu adalah sepupu si kampret Reynhart Adhitama.


"Ayo, kita duduk disana dulu, Amira belum dateng." Reyn menarik tangan Rosyi menuju bangku taman didepan rumahnya.


Beberapa saat keduanya duduk sambil menunggu, akhirnya Amira datang bersama Liam. Entahlah, Rosyi tidak berfikir bahwa Amira akan membawa Liam dalam acara ini.


"Rosyi!" Gadis itu langsung berlari menghampiri mereka tanpa menunggu Liam yang masih sedikit kesulitan mencari parkir.


Kedua gadis itu berpelukan, mengucapkan kata-kata penuh rindu, seperti tak bertemu satu tahun saja.


"Lo kok bisa ada disini sih?" Tanya Amira keheranan.


"Gue di culik," Jawab Rosyi malas.


Amira menyipitkan mata, menatap Reyn sambil tersenyum geli. "Oh Hohoho, apa ini?"


Reyn meraup wajah Amira kasar sehingga perempuan itu berteriak kesal, "YAK! untung gue belum makek make up."


Rosyi terkekeh pelan melihat wajah kesal Amira, sedangkan Reyn tersenyum melihat Rosyi yang terkekeh. "Sana, Lo bawa Rosyi ganti baju di kamar mommy."


Sepupu Reyn itu mengangguk dan langsung menarik Rosyi untuk masuk lewat pintu belakang, "Ayo Rosyi, kita ganti baju."



__ADS_1



Rosyi merasa canggung ketika Amira mendudukkan nya di kursi depan meja rias dan mulai mengoleskan beberapa riasan di wajah cantik Rosyi.


Sebenarnya Rosyi tak keberatan jika Amira mendadaninya, hanya saja, semua make up ini adalah milik ibunya Reyn. Apakah pantas jika Rosyi mengenakannya tanpa sepengetahuan yang punya?


"Udah, tenang aja, aunty Flo gak akan marah kalau Lo pakai make up-nya." Amira tiba-tiba menyahut, seolah ia tahu apa yang ada dalam pikiran Rosyi sekarang.


"Lihat deh, make up-nya Aunty Flo tuh bagus-bagus, merek mahal. Itu juga alasan gue gak make up dari rumah, gue mau minta make up-nya Aunty Flo." Gadis itu mengoleskan sedikit liptin di bibir Rosyi.


"Nah, selesai. Sekarang minggir dulu ya, gantian gue nih."


Rosyi mengangguk dan langsung berdiri dari duduknya, "Jangan tebal-tebal bedaknya, muka Lo itu udah putih," Peringat Rosyi yang sudah tahu benar bagaimana Amira ketika sudah menemukan make up yang ia suka.


"Kita lihat aja nanti, HAHAHAH." Gadis itu tertawa jahanam.





Deg...Deg...Deg...


Degupan jantung Rosyi sudah tak terkendali lagi ketika mata semua orang yang ada di aula rumah besar keluarga Reyn itu menatapnya, seolah-olah ia adalah mempelai wanita yang baru saja datang berjalan menuju tempat pernikahan.


Tak ada yang bisa gadis itu lakukan selain tersenyum tipis untuk memberikan hormat kepada mereka.


Hampir semua orang yang ada disana tak ada yang Rosyi kenal kecuali kedua orang tua Amira yang memang cukup dekat dengannya, itu karena Rosyi dan Nadia sering menginap bersama di rumah Amira.


Seorang wanita setengah baya mendekati keduanya sambil tersenyum manis, "Kalian sudah datang? kenapa tidak memberitahu aunty?"


Amira, gadis itu nyengir lalu menyalimi wanita itu. "Dandan dulu aunty Flo."


Aunty Flo, jadi inikah ibu dari si playboy Reynhart Adhitama? Aunty Flo ini terlihat begitu mewah dan feminim, namun juga terlihat hangat layaknya seorang ibu yang sangat menyayangi keluarganya.


"Oh ya, ini Rosyi Amelia, dia pacarnya Reyn, aunty." Amira segera memperkenalkan Rosyi setelah melihat Flo yang terus saja menatap gadis itu.


Flo membuat bentuk O dengan mulutnya, lalu di pandang nya Rosyi dengan tatapan terkejut. "Wah, cantik sekali ya. Ternyata mata Reyn masih terbuka juga untuk melihat gadis secantik Rosyi ini." Wanita itu menyentuh dengan lembut pipi Rosyi.


Rosyi hanya tersenyum hangat kepada ibu dari Reyn itu. "Jangan berlebihan aunty."


"Huh, kamu tahu? anak itu matanya memang sudah benar-benar rusak. Buat apa pacar sebanyak itu jika etika dan parasnya saja tak ada yang bagus. Tapi aunty bersyukur, setidaknya dia mendapatkan kamu yang luar biasa cantik, dan yang pasti sopan seperti ini." Flo mendengus.


Dalam hatinya, Rosyi sudah membenarkan ucapan Flo yang mengatakan jika mata Reyn itu rusak, atau lebih tepatnya buta?


"Bener banget Aunty, Aunty tahu gak? Reyn sama Rosyi tuh bisa pacaran gara-gara aku tahu!" Amira menepuk dadanya bangga.


"Benarkah? aunty bangga padamu!" Wanita itu menepuk bahu Amira, membuat gadis itu semakin melayang.


"Sudah dulu ya, kalian susulin aja yang lain di samping kolam renang, aunty mau nyambut yang lainnya dulu."


"Siap Aunty!" Amira membuat pose hormat ala upacara bendera part 2


"Ayo!!" Ia pun menarik Rosyi part sekian menuju kolam renang.


Ternyata area samping kolam renang sudah di penuhi oleh para pemuda-pemudi keluarga besar Reyn, namun Rosyi sama sekali tak melihat keberadaan laki-laki itu disana.


"Tunggu disini sebentar ya Ros, gue kebelet nih." Amira menepuk bahu Rosyi dan langsung berlari pergi ke kamar mandi, sungguh, ia sudah tak tahan.


"Eh..." Rosyi hendak menyusul, namun Amira sudah tak terlihat lagi dan ia pun tak tahu kemana arah gadis itu pergi.


Kini Rosyi tak tahu apa yang harus ia lakukan di tengah kerumunan itu, ia tak mengenal satupun dari mereka. Rasanya Rosyi disana hanyalah sebuah patung yang tak bisa bergerak ataupun pergi kemana-mana.


"AMIRA! KENAPA LO GAK NGAJAK GUE?!!"


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Floria Emeryl

__ADS_1



Auranya mahal sekali.


__ADS_2