Brandal Couple

Brandal Couple
*Chapter 42


__ADS_3

"Gimana kalau Rosyi sama Reyn kabur ke negara lain aja?" Usul David.


"Wilayah kekuasaan keluarga Freins itu gak kecil, mereka bisa dengan mudah menemukan kami kemanapun kami pergi."


Apa yang Reyn ucapkan memang benar, Rosyi setuju dengan laki-laki itu. Lagipula, dari pada terus-menerus kabur, bukankah lebih baik mereka melawan.


Dengan melawan, kesempatan mereka menang memanglah kecil, tapi bukan berarti tidak mungkin.


"Ros, gue mau tanya deh."


"Tanya aja."


"Emangnya lo di sana gak di perlakuin dengan baik ya? Kenapa lo kayaknya pengen banget kabur dari sana? Mereka juga kan keluarga lo." Pertanyaan Amira ini adalah pertanyaan yang juga ingin ditanyakan oleh mereka semua.


Helaan nafas Rosyi terdengar begitu berat. "Sebenarnya mereka gak perlakuin gue dengan buruk, mereka baik, apalagi grandma. Tapi entah kenapa gue merasa gak nyaman disana, semua perlindungan mereka malah ngebuat gue terancam."


Rosyi menjeda ucapannya sebentar, menatap mereka semua baru setelah nya ia lanjut berbicara. "Gue gak sengaja denger kalau bokap gue mau jodohin gue sama anak rekan bisnisnya. Dan kalian tau sendiri, gue gak suka di tekan ataupun di atur-atur kayak gini."


Mereka semua mengangguk paham atas apa yang Rosyi ucapkan.


"Kalian mungkin bakal kaget sama berita yang bakal gue kasih tau ini." Andrew tiba-tiba meletakkan selembar foto di atas meja bundar itu.


Tak ada satupun dari mereka yang mengerti apa maksud dari foto yang Andrew tunjukkan itu.


"Emang kenapa sama foto itu?" tanya Orion.


"Ros, lo liat baik-baik deh foto ini. Lo familiar gak sama orang ada di foto itu?"


Rosyi mengerutkan dahi, foto itu sedikit gelap jadi wajah orang yang ada di dalam foto tidak bisa terlihat dengan jelas. Namun sepertinya yang Andrew katakan benar, Rosyi merasa sedikit familiar dengan dua orang di foto itu.


"Itu, daddy sama bokap gue kan?"


Ctak...


Andrew menjentikkan jarinya, "That's right."


"Ini foto yang gue dapet dari Nathan, gue gak tahu kenapa dia bisa ngasih foto ini sama gue. Tapi yang pasti, dia kayaknya mau ngasih tau kita sesuatu."


Mereka semua terdiam, berpikir keras untuk menebak apa maksud dari foto tersebut.


Ting...


Tiba-tiba ponsel milik Rosyi berbunyi, membuat Mede semua mengalihkan pandangannya.


Rosyi mengambil ponselnya, membuka pesan yang baru saja masuk.


"Suami ibumu meninggal tepat setelah dia dan ibumu berpisah." Pesan yang dikirimkan Nathan ini terlihat sangat aneh.


"Kalian baca deh." Rosyi menyerahkan ponselnya untuk dilihat teman-temannya.

__ADS_1


Mereka semua mengerutkan dahi saat membaca pesan itu. "Apa jangan-jangan ini ada hubungannya sama ni foto lagi?" tebak Liam asal.


"Kayaknya Nathan emang mau ngasih tau kita sesuatu deh." Reyn yakin, pasti ini ada hubungannya dengan foto itu.


Didalam foto itu ada ayah kandung dan suami dari ibunya Rosyi, apakah itu sebuah kebetulan?


Tunggu dulu, sepertinya Rosyi menyadari sesuatu. "Apa jangan-jangan bokap gue ada sangkut pautnya sama kematian almarhum?"


"Lo kok bisa kepikiran gitu Ros?" Ini Orion yang bertanya.


"Tapi mungkin aja sih, bokapnya Rosyi, mommy nya Rosyi dan mendiang suami mommynya Rosyi seperti punya masalalu yang cukup rumit." Reyn dan Rosyi seperti nya memang sepemikiran.


"Lo berdua yakin?"


"Gak yakin banget sih, tapi bisa aja iya kan?"





Tari sangat merindukan Rosyi, sungguh. Namun, ia harus menyelesaikan pengobatannya terlebih dahulu. Tari tidak ingin mengulangi perbuatannya dulu, jadi, lebih baik ia fokus untuk kesembuhannya terlebih dahulu.


"Untuk memastikan apakah trauma anda benar-benar sudah sembuh atau belum, kita perlu melakukan praktek."


"Praktek?" Kedua alis Tari berkerut, apa yang dimaksud psikolog ini dengan praktek?


Tari dan Vico saling pandang, keduanya terdiam karena ucapan sang dokter barusan. Haruskah mereka melakukannya? Tapi jika tidak, ini adalah pengobatan terakhir yang bisa dilakukan.


"Jika anda belum siap, tidak masalah. Praktek ini bisa kalian lakukan kapanpun nyonya siap. Setelah melakukan nya, kalian bisa datang kemari untuk konsultasi terakhir."


"Baik dok, kalau begitu kami permisi." Tari pun mengajak Vico pulang setelah mendengar semua ucapan psikolog tersebut.




Di dalam perjalanan pulang, keduanya hanya terdiam. Nampaknya Tari masih memikirkan ucapan psikolog tersebut. Apakah ia harus melakukan hal itu lagi dengan Vico?


Tapikan, mereka belum memiliki hubungan apapun. Lalu jika nanti saat akan melakukan itu, tiba-tiba Tari kambuh lalu menyakiti Vico bagaimana? Bisa-bisa Tari dipenjara di negara orang nanti.


"Gak usah terlalu di pikirin kata-kata dokter tadi. Kalau belum siap jangan dipaksa, takutnya bahaya buat mental kamu," ucap Vico tiba-tiba seolah-olah ia bisa membaca isi pikiran Tari.


"Em...iya," jawab Tari sedikit canggung.



__ADS_1




PLAK...


"DAD!" Arin menangis memeluk anak laki-lakinya yang baru saja mendapatkan tamparan keras dari sang ayah.


"DASAR ANAK TIDAK BERGUNA! Kamu tidak mau meneruskan perusahaan, oke daddy terima. Tapi kamu jangan pernah ikut campur dengan urusan daddy dan kakak kamu, JANGAN SOK JADI PAHLAWAN!" Kelvin paling benci dengan anak yang tidak penurut dan pemberontak.


"Nathan bakal diem aja kalau Daddy dan kakak melakukan sesuatu dengan tangan kalian sendiri, tapi jika kalian ingin mempergunakan Rosyi untuk melakukan hal keji itu, aku tidak akan terima!"


Nathan berdiri, tak peduli dengan sekujur tubuhnya yang sakit dan penuh luka. Ia mengabaikan sesaat suara isak tangis sang ibu yang menyuruhnya untuk jangan melawan sang ayah lagi.


"Hal ini bukan urusan kamu Nathan, sebaiknya kamu tidak ikut campur atau saya akan lupa kalau kamu ada anak saya."


"Jelas ini urusan Nathan. Rosyi itu keponakan Nathan, Rosyi itu anak perempuan keluarga kita satu-satunya, kenapa kalian bisa tega?!"


Hari ini Nathan tidak akan menjadi anak penurut lagi, ia ingin melawan demi keadilan untuk keponakan yang sangat ia sayangi.


"Dalam keluarga Freins, laki-laki dan perempuan itu sama saja. Semua keturunan keluarga kita harus keji, hebat dan berkuasa!"


"Huh, pemikiran bodoh darimana itu?" Nathan tertawa miris mendengar nya.


PLAK...


"Mulai hari ini, kamu akan di hukum di penjara darah selama 1 bulan, saya harap kamu bisa merenungkan kesalahan kamu dengan baik."


"TIDAK!" Arin segera berlutut memeluk kaki sang suami saat itu juga. "Nggak, jangan hukum anakku disana, aku mohon. Aku akan melakukan apapun, tapi jangan lakukan itu."


Kelvin memang sangat mencintai sang istri, namun disaat seperti ini, ia sama sekali tidak akan memandang Arin.


"Istriku, kamu tau sendiri bahwa aku tidak akan mengubah keputusan ku, bahkan jika kamu memohon seperti ini."


"Tidak, jangan hiks...aku mohon."


"Mom, Nathan gapapa. Ayo mommy berdiri, jangan kayak gini mom." Nathan mengangkat tubuh sang ibu yang sudah sangat lemas karena menangis.


"Tapi Nathan..."


"Nathan gapapa mom."


Grep...


Arin memeluk sang anak erat sambil menangis.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


__ADS_1


Kadang gemes sampe pengen tak cekik.


__ADS_2