Brandal Couple

Brandal Couple
*Kabur


__ADS_3

Keadaan Reyn semakin memburuk hingga ia akhirnya di larikan ke rumah sakit. Sayangnya, Jay tidak bisa berada disana sebab dirinya harus melakukan perjalanan bisnis yang amat penting dengan seorang pengusaha terkenal asal China.


Setiap hari yang Reyn lakukan hanyalah diam menatap keluar jendela sambil menggenggam sepotong foto seseorang yang sangat ia rindukan.


Reyn selalu ingin sendiri, ia tak mengizinkan teman-temannya atau siapapun masuk kedalam kamar inapnya kecuali sang ibu, Flo.


"Reyn sayang, makan dulu yuk. Kamu dari tadi malam belum makan. Kamu juga harus minum obat supaya cepat sembuh," bujuk Flo dengan halus berharap sang anak akan mau makan walaupun hanya sesuap.


Reyn menoleh, menatap sang ibu lemah. "Apakah jika Reyn sembuh, Rosyi akan kembali?"


Rasanya Flo ingin sekali menangis melihat keadaan sang putra yang terlihat begitu mengenaskan.


"Iya sayang, Rosyi pasti kembali. Tapi Reyn harus sembuh ya. Kalau Reyn sakit, Rosyi gak akan mau kembali sama Reyn. Jadi Reyn harus sehat dulu." Percayalah, Flo adalah wanita kuat yang masih bisa menahan tangisnya ketika melihat keadaan sang anak yang sudah seperti hidup namun tak hidup.


Setelah menggunakan 1001 bujukan, akhirnya Reyn mau makan juga walaupun hanya menghabiskan setengah dari isi piring.


Selesai makan dan minum obat, akhirnya Reyn tidur karena pengaruh obat tersebut.


Flo menghela nafas pelan, tak tega rasanya ia melihat Reyn yang begitu kacau. "Rosyi, kembali sayang. Jangan menyiksa anak mommy seperti ini."





Jabat tangan tanda terjalin nya kerjasama antara dua pria itu mengakhiri meeting yang sudah berjalan sekitar 2 jam itu.


"Terimakasih tuan Adhitama, saya sangat puas dengan hasil kerja perusahaan Anda."


"Terimakasih tuan Freins, semoga kita bisa menjalin kerjasama sama lain selanjutnya."


Vico dan Jay sama-sama tersenyum. Selesai rapat, Vico mengundang Jay datang kerumahnya makan malam sekaligus berbasa-basi untuk mempererat hubungan.


Jay tentu tidak menolak. Besok ia akan langsung terbang kembali ke Indonesia untuk menjenguk sang anak dan ikut merawatnya.





Rosyi sangat kesal, sejak sore tadi ia benar-benar tidak di perbolehkan untuk keluar dari kamar bahkan untuk makan malam pun sampai di bawakan ke kamar.


"Kemarin aku hanya terluka sedikit saja, kenapa kalian berlebihan sekali?!!" Marahnya pada Rania dan Riani.


Kedua pelayan pribadinya itu hanya mampu menundukkan kepala, "Maaf nona besar, ini sudah menjadi perintah dari tuan."


"Cih, dasar menyebalkan!!"

__ADS_1


Rosyi harus berpikir lebih keras lagi untuk keluar dari kamar, ia dengar malam ini ada tamu yang datang, itu adalah waktu yang tepat baginya untuk kabur.


"Aku harus bisa kabur malam ini bagaimana pun caranya."





Harus diakui bahwa Rosyi itu pintar dan cerdik dalam hal melarikan diri. Ia berhasil mengelabuhi Rania dan Riani juga para penjaga dan berhasil kabur melalui balkon kamar.


Rosyi berjalan perlahan-lahan menuju ke halaman depan, berhati-hati jika saja ada penjaga yang melihatnya.


Sebuah keberuntungan, di halaman depan ada sebuah mobil mewah yang terparkir. Dan yang lebih untungnya lagi, mobil itu tak di kunci hingga Rosyi bisa masuk dan bersembunyi di bagasi mobil.


Masa bodoh bila mobil itu membawanya ke tempat antah-berantah, yang penting Rosyi bisa kabur dari laki-laki yang mengaku sebagai ayah kandungnya itu.


Sedangkan itu, seluruh rumah sudah heboh mencari nona besar mereka yang tiba-tiba menghilang, bahkan Jay sampai di buat kebingungan dengan beberapa pengawal yang beberapa kali menghampiri mereka untuk membisikkan sesuatu pada Vico.


"Jika boleh saya tahu, sebenarnya apa yang terjadi? Pengawal Anda sepertinya terlihat cemas."


"Ah itu. Putri saya, dia suka sekali kabur dari rumah. Dan beberapa saat lalu dia baru saja kabur, makanya para pengawal saya terlihat cemas dan mencarinya kesana kemari. Anda tahu sendiri, anak remaja sekarang itu suka kehidupan yang bebas."


Jay mengangguk paham. "Ya, saya faham. Sepertinya dia merasa tidak bebas dengan banyaknya anak buah anda di rumah."


"Tidak. Anakku kuat, tidak akan ada yang terjadi padanya. Saya juga percaya, anak buah saya akan membawa dia pulang dengan segera."


"Wah, anda percaya sekali. Apakah anak buah anda benar-benar terlatih dan dapat di percaya?"


Vico sedikit mencondongkan wajahnya dengan tatapan penuh angkuh. "Orang-orang keluarga Freins selalu terpercaya, apakah Anda meragukan nya?"


Jay menggeleng pelan. "Tentu saja tidak tuan, tidak ada yang berani melakukan orang-orang keluarga Freins." Jay tersenyum, berusaha menyembunyikan perasaan gugup nya.


Benar apa yang di katakan kolega-kolega bisnisnya yang lain, ternyata Vico adalah sosok yang suka mengintimidasi dan memiliki aura pemimpin yang begitu kental.


Sadar akan waktu yang sudah semakin malam, Jay pun memutuskan untuk berpamitan karena besok pagi-pagi sekali ia harus terbang kembali ke Indonesia.


"Ini sudah cukup larut, sebaiknya saya kembali ke hotel sekarang, besok saya ada penerbangan ke Indonesia. Saya mohon pamit, tuan Freins," Jay berdiri, lalu membungkuk sebentar sebagai rasa hormat.


"Tentu, saya akan mengantarkan anda ke depan." Vico pun ikut berdiri.


"Terimakasih."


"Mari tuan, Adhitama."


Vico mengantarkan Jay ke depan. Mereka berbincang sebentar sebelum Jay benar-benar masuk kedalam mobilnya dan kembali ke hotel.


BRAK...

__ADS_1


Suara pintu mobil yang terbuka, lalu kembali tertutup membuat jantung Rosyi berdebar. Akhirnya setelah menunggu cukup lama, sang pemilik mobil masuk juga. Untung saja kaca belakang mobil sedikit terbuka hingga Rosyi tak kehabisan oksigen di dalam sana.


Rosyi bisa merasakan mobil itu mulai berjalan pergi menjauhi kediaman Zavico Freins, menuju tempat yang Rosyi tak tahu dimana.


"Aduh Reyn...Reyn... Gara-gara cewek kok bisa sampai drop gitu. Katanya buaya sejati, kok malah K.O." Jay bergumam sambil menggelengkan kepala heran.


Deg!


Tunggu, Rosyi tidak salah dengarkan? Reyn? Ia seperti mengenali suara ini. Apakah pemilik mobil ini adalah seseorang yang Rosyi kenal?


Dengan keberanian yang ia kumpulkan susah payah, Rosyi pun memutuskan untuk mengintip, melihat siapa si pengemudi.


Dan ketika mata Rosyi dan Jay bertemu di kaca spion dalam mobil...


CKITTT....


Jay mengerem laju mobilnya saat itu juga, hingga mengakibatkan dahi Rosyi terbentuk kursi belakang mobil.


"AKH! DADDY!!"





BRAK...PRANG...


Vico sangat marah, anak buahnya benar-benar tidak ada yang becus. Sudah dua jam mereka hanya muter-muter dan tidak menemukan Rosyi dimanapun.


"KALIAN SUDAH BOSAN HIDUP ATAU BAGAIMANA HAH?!" Bentak Vico pada anak buahnya dan juga kedua pelayan pribadi sang anak.


"Maaf tuan, namun kami sama sekali tak menemukan jejak nona besar. CCTV kamar, halaman depan dan halaman belakang semuanya sudah diretas, tak ada rekaman yang tersisa," Ujar salah satu dari mereka.


"Kalian memang bodoh! Dia adalah keturunan Freins! Meretas CCTV bukanlah hal sulit untuk dia lakukan."


"Izin menyela tuan. CCTV kita memiliki keamanan yang kuat karena tuan muda Nathan sendiri yang memperkuat keamanannya," Asisten Zhong menyela.


"Jika yang kau katakan benar, lalu bagaimana ini bisa terjadi?!"


"Karena aku sengaja." Pintu ruangan terbuka, langkah kaki seorang laki-laki memasuki ruangan dengan perlahan.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Asisten Zhong



Asisten dengan vibes seorang bos besar😭

__ADS_1


__ADS_2