Brandal Couple

Brandal Couple
*China


__ADS_3

Tak...Tak...Tak...


Langkah itu terlihat begitu yakin tanpa keragu-raguan, tak peduli dengan tubuhnya yang baru saja keluar dari rumah sakit, kini Reyn sudah berdiri di dalam bandara tepat di samping sepupu perempuan satu-satunya.


"Lo yakin Reyn mau terbang sekarang? Lo kan baru pulang dari rumah sakit. Mending tunggu beberapa hari dulu deh," Nasehat Liam pada sahabatnya itu.


Reyn menggeleng kukuh. "Gue sembuh buat cari Rosyi, gak ada waktu buat istirahat atau apapun itu."


Amira mengusap bahu sepupunya dengan pelan. "Gue ngerti perasaan lo, gue juga ngerasain hal yang sama. Tapi, Reyn, lo jangan maksain diri lo."


"Gue gak maksain diri gue, gue akan istirahat nanti di China. Yang terpenting sekarang, kita harus sampai di China terlebih dahulu."


Menghela nafas lelah, Amira pun mengangguk. Tak apa, ia akan menjaga Reyn dan memastikan bahwa laki-laki itu istirahat nanti sesampainya mereka di China.





Bosan, satu kata yang menggambarkan kehidupan Rosyi sejak ia berada di China. Adanya Arin, Kelvin, Nathan dan Vico sama sekali tak membuatnya mereka lebih senang.


Setiap hari Rosyi selalu di awasi oleh beberapa penjaga juga dua pelayan pribadinya, Rania dan Riani, kedua gadis itu juga kembali ke China selang beberapa waktu setelah Vico sampai.


"Aku hanya akan bersantai di taman belakang, apakah kalian harus selalu mengawasiku? Itu berlebihan, aku tidak akan kabur." Rosyi merasa jengah dengan orang-orang yang terus saja mengikuti kemanapun ia pergi.


"Terakhir kali Anda juga mengatakan hal yang sama, nona besar," Ucap Rania yang terdengar seperti sebuah sindiran di telinga Rosyi. "Kau sedang menyindirku, Rania?"


Pelayan muda itu menggeleng sopan. "Saya tidak akan berani melakukan itu, nona besar."


Rosyi mendengus pelan, ia merasa seperti memiliki dendam kesumat dengan panggilan 'nona besar' ini karena ia selalu merasa kesal jika para pegawai mansion memanggilnya seperti itu.


Sesampainya mereka di taman, Rosyi langsung menyuruh bodyguard yang ada di belakangnya untuk menggelar tikar yang sejak tadi mereka bawa.


"Tolong ambilkan aku beberapa buah dan pisau buah, susu, madu dan jika ada kue juga boleh," Perintah nya pada mereka.


Rania dan beberapa bodyguard pun pergi untuk mengambil apa yang Rosyi minta.


"Nona besar, apa yang ingin anda lakukan?" Tanya Riani.


"Hanya bersantai." Rosyi mendudukkan diri pada karpet yang sudah di gelar oleh sang bodyguard. "Ayo," Ajaknya pada Riani sambil mengulurkan tangan.


Riani menunduk lalu segera memundurkan langkahnya. "Maaf nona besar, saya tidak pantas."


"Ck, duduklah bersamaku."


Gadis itu menggeleng pelan, memang tidak sopan jika ia menolak permintaan majikannya. Namun jika Riani menyetujuinya, maka para pelayan di kediaman akan membicarakan atau bahkan membenci dirinya karena rasa iri.

__ADS_1


"Ini adalah perintah!"


"Ba_baik nona besar." Akhirnya Riani duduk bersama Rosyi karena tak mau membuat sang majikan marah.




Rania di bantu dengan beberapa bodyguard mulai mengambil beberapa barang yang Rosyi inginkan.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Mereka semua langsung menunduk ketika Nathan memasuki area dapur.


"Kami sedang mengambil buah dan kue untuk nona besar, tuan," Jawab Rania dengan sopan.


Nathan mengangguk. "Kalian boleh pergi," Ucapnya pada para bodyguard itu.


Para bodyguard itu pun langsung pergi meninggalkan Rania dan Nathan berdua.


"Saya juga permisi tuan." Rania hendak pergi namun Nathan menahannya dengan tubuh besar miliknya.


"Bisakah kita berbicara sebentar?" Nada suara Nathan terdengar lebih halus dari biasanya.


"Maaf tuan, namun sepertinya nona besar sedang menunggu saya di taman belakang," Tolak Rania dengan kepala yang tertunduk.


"Hanya sebentar, aku mohon." Nathan menggenggam tangan Rania, namun gadis itu segera menarik tangan nya kembali.


"Maaf tuan, saya benar-benar tidak bisa, permisi." Rania segera pergi dan kali ini Nathan pun membiarkan nya pergi.


Semua orang di kediaman Freins tahu benar jika Nathan menyukai Rania, pelayan cantik nan muda yang mengabdikan diri kepada Vico sejak pria itu menemukannya dan adiknya di kolong jembatan.


Sebenarnya tak ada yang salah dengan cinta Nathan, namun Rania masih sadar diri. Dia siapa, dan Nathan siapa?


Keluarga Freins sendiri juga bungkam, mereka tak melarang atau mendukung tindakan Nathan yang mencintai Rania.





Rania segera menyusul Rosyi setelah nya. Seperti apa yang gadis itu lakukan pada Riani, Rosyi juga memaksa Rania untuk duduk di sampingnya.


"Aduh, kurang sirup nih. Masa es buah gak ada sirupnya. Kalian, tolong ambilin dong."


"Tidak perlu." Rosyi menoleh ketika mendengar suara sang paman yang menyebalkan berada di belakangnya.


Laki-laki itu meletakkan sebotol sirup di samping Rosyi. "Kamu akan membuat apa?"

__ADS_1


"Es buah, kau mau?" Tawarnya.


"Boleh." Nathan langsung duduk di samping Rania tanpa disuruh.


Rania menggeser duduknya supaya tidak terlalu dekat dengan Nathan, sedangkan Nathan malah tersenyum lebar dan Rosyi tentu melihat hal itu.


"Ada apa dengan mereka?" Bisik Rosyi pada Riani yang duduk disampingnya.


"Tuan Nathan suka dengan kakak, tapi kakak selalu menghindar," Bisik Riani balik.


Rosyi nampak terkejut. "Wah, benarkah? Aku sangat terkejut."


"Tapi kenapa Rania menghindar? Bukankah bagus jika uncle Nathan suka dengan dia?" Tanya Rosyi penasaran, tentu masih berbisik.


Yang di tanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.


"Ah, baiklah." Rosyi kembali pada kegiatannya, namun diam-diam ia menyunggingkan senyum.


"Astaga, pamanku yang malang. Haruskah aku membantunya mendapatkan Rania? Nanti aku akan meminta imbalan bebas dari sini. Hohoho, otakku pintar sekali."





Amira hampir saja membakar hotel karena Reyn yang susah sekali dikasih tahu.


"LO BILANG BAKAL LANGSUNG ISTIRAHAT YA SESAMPAINYA DI CHINA! TERUS KENAPA LO SEKARANG MALAH NGADEPIN LAPTOP?!"


Jika saja Liam tidak menelfon Amira yang ada di kamarnya tadi, mungkin ia tidak akan tahu kelakuan sepupunya yang keras kapala ini.


"Hanya sebentar, nanti aku istirahat."


"Gak ada nanti-nanti! Sekarang lo tidur atau gue aduin aunty Flo supaya lo di susul kemari Hah?!"


"Ck, baiklah-baiklah. Gue istirahat." Reyn mengangkat tangan nya, menyerah ketika Amira sudah berancang-ancang akan menelfon Flo.


"Bagus, gue bakal tungguin lo disini sampai lo bener-bener tidur." Amira melipat tangan di bawah dada, memperhatikan Reyn yang mulai beranjak ke kasur.


Reyn menghela nafas pasrah. Ia heran, kenapa Amira terlihat sangat galak hari ini? Rasanya Reyn bergerak sedikit saja kena marah oleh gadis itu.


Reyn sempat melirik sinis Liam sebentar sebelum dirinya menutup mata, lebih baik ia segera tidur atau Amira akan kembali mengeluarkan kodamnya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


__ADS_1



Gimana nih? Bisa jadi Couple gak ya?


__ADS_2