
Rosyi telah membuat kesalahan yang sangat amat fatal dengan mencintai seorang Reynhart Adhitama.
Perlakuan Reyn yang begitu manis membuat mata Rosyi tertutup untuk sesaat. Laki-laki itu masihlah Reyn yang sama yang memiliki pacar di setiap sekolah di Jakarta bahkan sampai keluar Jakarta.
Rosyi pikir, ia istimewa untuk Reyn. Namun, nyatanya, ia sama saja dengan pacar Reyn yang lain. Ia hanya salah satu dari sekian, bukan satu-satunya dari sekian.
Ia sadar, sangat sadar ketika Reyn dengan mudahnya meninggalkan Rosyi ketika salah satu pacarnya menelfon dan memberitahu nya bahwa ia tengah sakit dan di bawa ke rumah sakit. Padahal, saat itu seharusnya Reyn menemani Rosyi pergi, laki-laki itu sudah janji.
Rosyi tahu ia egois, namun waktunya dengan Reyn hanya sisa 1 Minggu lagi, dan setelahnya Tari akan membawa ia pergi dari sana. Pergi dari Reyn dan teman-temannya.
Rosyi tak tahu kenapa Tari sangat ingin membawanya pergi, tapi yang satu, ibunya itu menjanjikan sesuatu padanya. Jika Rosyi bersedia pergi dan ikut dengan nya, maka ibunya akan menyayangi Rosyi, dan tidak akan menyakiti Rosyi lagi.
Janji itu memang terdengar seperti bualan belaka, namun Rosyi tetap berharap jika apa yang ibunya katakan akan benar-benar terjadi.
•
"Hei! Aku memanggil mu sejak tadi, apakah kau tidak mendengarnya?" Entah darimana datangnya Nadia yang tiba-tiba berjalan di samping Rosyi dan merangkul nya.
"Hem, ada apa?" Rosyi menatap Nadia bingung, ia terlihat seperti seseorang yang baru saja sadar dari lamunan.
Mata Nadia memicing, "Kamu ngelamun?"
"Enggak," sangkal Rosyi.
Berhubung Nadia anaknya gak kepoan, gadis itu cuma ngangguk aja.
"Ngomong-ngomong, kok hari ini gak bareng Reyn? Dia kemana?"
Rosyi mengangkat bahu acuh, "Gak tau, di culik badut mungkin."
Pagi ini Rosyi sengaja berangkat bareng supir, ia malas bertemu dengan Reyn.
Jika di tanya apakah Rosyi marah karena Reyn meninggalkan Rosyi kemarin, jawabannya tidak. Rosyi tidak marah, ia hanya sedikit kecewa. Padahal jika waktu itu Reyn mengajak Rosyi untuk ke rumah sakit untuk menjenguk pacarnya, Rosyi tidak keberatan.
Namun, Reyn tidak melakukan itu. Ia meninggalkan Rosyi begitu saja setelah menerima telfon dari pacarnya. Reyn meninggalkan Rosyi di keramaian pasar malam.
Rosyi mencari Reyn kesana kemari, namun ia tak menemukan laki-laki itu dimana pun, sampai akhir Reyn mengiriminya pesan bahwa laki-laki itu telah berada di rumah sakit untuk menjenguk pacarnya.
Oh, dan s*alnya, Rosyi datang bersama Reyn, otomatis gadis itu tak membawa kendaraan sendiri.
Rosyi sudah menunggu lebih dari 30 menit di halte terdekat, namun tak ada kendaraan umum yang lewat sama sekali. Ingin memesan ojek online, tapi HP nya lowbat.
Untung saja, saat itu ada Vincent. Ya, Vincent Bradikta ia adalah sepupu Reyn yang waktu itu Rosyi temui di acara makan malam keluarga laki-laki itu.
Mengingat kejadian semalam, membuat dada Rosyi sesak saja.
"Ros_Rosyi..." Gadis itu menoleh ketika di rasa Nadia menepuk-nepuk bahunya dengan cukup keras. "Apa?"
"Lihat depan deh."
Rosyi bingung, namun ia tetap melakukan apa yang Nadia perintahkan. Dan disaat itu juga, rasanya Rosyi ingin sekali membenturkan kepalanya di tembok hingga pingsan.
Di depan sana, Rosyi bisa melihat dengan jelas jika Reyn tengah memanggut mesra seorang gadis. Gadis yang terlihat asing dimata Rosyi.
"Itu bukan nya anak baru kemarin ya? Cecilia Bridista." Nadia menatap tak percaya apa yang ada di depan nya. Ia pun langsung merangkul Rosyi erat, menguatkan sahabatnya itu.
"Ayo ke kelas aja."
Nadia mengangguk, mereka pun berjalan ke kelas, melewati dua insan yang masih asik berciuman tanpa melihat keadaan sekitar.
•
•
•
Aksi berciuman Reyn dengan Cecilia pagi tadi langsung menjadi trending topik yang di bahas di seantero SMA Tunas Harapan.
__ADS_1
Memang Reyn terkenal dengan jiwa playboy nya yang tinggi, namun sampai berciuman di tempat umum? Oh, bahkan setahu mereka, Reyn memeluk pacar-pacarnya saja jarang, dan ini malah berciuman.
Berita itu tentu sampai di telinga Orion, dan akhirnya, terjadi keributan di kantin sekolah karena Orion dengan emosi yang menggebu-gebu tiba-tiba menonjok wajah Reyn tanpa banyak basa-basi.
Cecilia yang ada disana tentu saja sangat terkejut dan langsung memberingsut mundur, terlalu takut akan tatapan tajam yang Orion lemparkan.
"Gue tau Lo itu b*jingan! Tapi gue gak nyangka lo bisa nyakitin Rosyi kayak gini!" Nafas Orion memburu, tatapan nya begitu tajam dan menusuk.
David dan Liam juga ada disana, keduanya sama sekali tak ada niatan bergerak untuk melerai ataupun membantu Reyn karena mereka tahu bahwa ini adalah salah Reyn sendiri.
"Nyakitin apanya sih? Gue gak ngerti. Bukannya Rosyi gak suka ya sama gue? Lagian tinggal seminggu lagi dan kami bakal selesai. Jadi gak usah lebai."
BUGH...
Tubuh Reyn terdorong ke dinding dengan keras oleh Orion. "Gue peringatin ya sama lo. Mulai sekarang, gue gak akan biarin lo ketemu sama Rosyi lagi! Gak akan!!"
"Cih, lo kira gue peduli? Cewek di dunia ini bukan cuma dia doang. Lagian pacar-pacar gue masih banyak, gue gak butuh dia."
"S*ALAN!!"
BUGH...DUGH...DUAKK...
•
•
•
Duduk termenung di atap sekolahan ketika punya banyak pikiran adalah kebiasaan Rosyi yang tak pernah hilang sejak ia menduduki bangku sekolah menengah pertama.
Melihat pemandangan kota dari atas sana, entah kenapa terasa lebih menyenangkan.
"Cantik, sendiri aja nih?" Rosyi memutar bola matanya jengah ketika sebuah tangan mendarat di bahunya.
"Lo bisa gak sih, gak usah ganggu gue sehari aja gitu? Gue muak tau gak liat muka lo."
"Gak." Dengan lancang nya, Andrew meletakkan dagunya di bahu Rosyi.
Rosyi menggerakkan bahunya brutal hingga Andrew menjauhkan wajahnya. "Gue sakit hati? Sorry ya, gue gak sakit hati, dan gak akan pernah sakit hati. Karena apa? Karena gue gak punya hati, paham lo?!"
Andrew terkekeh, "Oh, gak punya hati, benarkah?" Ucapan Andrew terdengar seperti sebuah ejekan dan Rosyi tidak suka itu.
"Lo mendingan pergi deh, gue gak butuh lo ada disini!"
Andrew mengeratkan rangkulannya pada bahu Rosyi. "Lo gak butuh gue? Yakin?"
Rosyi langsung menyingkirkan tangan Andrew dari bahunya, ia menatap laki-laki itu dengan tatapan ketakutan (?)
Andrew hanya bisa menghela nafas ketika lagi-lagi ia mendapatkan tatapan takut dari Rosyi, apakah kesalahan nya dulu memang sefatal ini? Apakah karena kesalahannya itu, Rosyi menganggap nya sebagai monster yang menakutkan?
•
•
•
Reyn hanya diam tak berkutik ketika Cecilia mulai mengobati luka-luka yang ia dapatkan dari Orion. Laki-laki itu diam, seolah tak merasakan sakit pada luka-lukanya itu.
Cecilia meringis melihat memar dan darah yang keluar dari luka Reyn. "Apakah sakit?"
Laki-laki itu menggeleng pelan, ia tak ada niatan untuk membuka suara, rasanya lidahnya begitu kelu untuk bersuara.
BRAK...
Pintu UKS di buka dengan kasar. Amira, sang pelaku kini berdiri di hadapan Reyn dengan tatapan tajam dan dada naik turun.
"Reyn! Gue udah kasih lo peringatan ya! Kalau lo sampai nyakitin Rosyi, gue gak bakal tinggal diem!!"
__ADS_1
Gadis itu dengan bar-bar nya langsung menarik kerah baju Reyn, sedangkan Reyn sendiri hanya diam tak berkutik.
"Amira, tunggu. Jangan gini dong." Cecilia menahan tangan Amira yang hampir saja melayangkan tinjunya pada wajah Reyn.
Sepupu Reyn itu menatap tajam Cecilia, "Lo tuh orang asing, jadi gak usah ikut campur, dasar hama!!"
"Amira, aku ini temen kamu lo. Dulu kita kan temen baik, kamu kenapa sih? Kenapa kasar gini sekarang?"
Amira menghempaskan kasar tangan Cecilia yang hendak memegang pundaknya. "LO DENGER GAK SIH?! LO TUH ORANG ASING! LO ITU HAMA!" Disaat itu juga Cecilia langsung terdiam ketika Amira membentak nya.
"AMIRA!" Reyn naik pitam.
"APA?!" Amira tak mau kalah, ia balik membentak Reyn dan menatap tajam laki-laki itu.
"Gue gak nyangka kalau Lo bisa kayak gini Reyn, lo egois tau gak?!"
"Hidup-hidup gue, jadi terserah gue dong."
BUGH...
Kepalang kesal, Amira langsung menendang pipi Reyn dengan kuat. "B*JINGAN LO!"
•
•
•
"Shh... sakit anjir! Lo bisa pelan-pelan gak sih?!" Orion meringis ketika Rosyi sengaja menekan lukanya dengan kapas yang sudah di tetesi obat.
"Ngapain coba lo berantem? Lo itu ketua OSIS, seharusnya Lo kasih contoh yang baik dong buat anak-anak yang lain," Omel Rosyi kesal.
Rosyi mengernyit ketika Orion tiba-tiba menangkup pipinya, "Gue ngasih contoh yang baik. Cowok b*jingan kayak Reyn itu pantas buat dikasih pelajaran."
Yang lebih muda menghela nafas. "Ya tapikan gak usah pakek kekerasan juga. Noh, liat kan, wajah lo jadi luka-luka."
"Heleh, kayak lo enggak aja. Ngaca bos! NGACA!"
Puk...
Rosyi menutup mulut Orion segera, "Bau jengkol anjir!"
"Heh!! Enak aja! Mulut gue tuh wangi kayak taman bunga__"
"Raflesia Arnoldi!!" Sela Rosyi cepat.
"Heh! Enak aja kalau ngomong!"
"Kan emang iya, mulut lo tuh baunya kayak taman bunga bangkai!"
"AKHH! ANJIR LO!" Rosyi menjerit karena terkejut dengan Orion yang tiba-tiba mengapit lehernya dengan lengan kekar laki-laki itu.
"Umh, Lo gak ngaca ya? Mulut lo juga bau bangkai anjir!" Orion melepaskan leher Rosyi dari lengan kekarnya lalu menjauh sambil menutup hidung.
"Oh... jadi lo ngaku kalau bau mulut lo kayak bunga bangkai? Bagus-bagus, itu berarti Lo sadar diri."
Info tempat pembuangan sampah terdekat dong, rasanya Orion pengen banget buang sepupunya yang satu ini.
"Sepupu luckn*t lo."
"Tapi Lo sayang kan?" Rosyi tersenyum menggoda dengan alis yang naik turun.
"Sayang pala lo peang!"
"Akh! Gak usah ngejitak juga tai!"
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
__ADS_1
Cecilia Bridista