
Nathan masih mendekam di rumah sakit, masa bodohlah dengan kepulangan Vico hari ini. Lebih baik ia bersembunyi sekarang, setidaknya nyawanya akan aman dalam beberapa hari kedepan.
"Tuan, anda benar-benar tidak akan pergi ke bandara? Sejak tadi tuan Vico selalu menghubungi saya dan menanyakan anda, apakah saya boleh memberitahu lokasi anda sekarang?"
Nathan menatap anak buahnya itu dengan wajah suram. "Aku akan membunuhmu jika kau melakukannya," Tatapan yang mengerikan, tubuh bawahan Nathan itu sampai merinding melihatnya.
"Sa_saya tidak berani tuan." Orang itu langsung menunduk.
Hanya helaan nafas Nathan yang terdengar setelahnya. Laki-laki itu menatap ke luar jendela, melihat segerombolan burung yang terbang bebas seolah tidak memiliki beban.
"Pasti akan menyenangkan jika aku adalah seekor burung. Bisa terbang dengan bebas tanpa adanya beban yang memberati pundakku."
•
•
•
Vico sudah menunggu Nathan cukup lama di bandara, namun adiknya yang menyebalkan itu sama sekali tak terlihat batang hidungnya. Di hubungi pun tak bisa.
Tak mau menunggu di bandara lebih lama lagi, Vico memutuskan untuk menghubungi anak buahnya untuk menjemput dirinya di bandara.
Vico kembali ke China tidak sendirian, ia membawa Tari bersamanya. Ia sudah berjanji akan mempertemukan Tari dengan Rosyi dan akan membantu Tari untuk menyembuhkan trauma nya.
Sesampainya mereka di kediaman Freins, Arin langsung menyambut mereka dengan begitu bahagia. Arin tentu tahu siapa Tari, ia juga sudah menantikan kehadiran Tari di rumahnya sejak lama.
Arin juga merasa bersalah pada Tari tentang kejadian dimasa lalu yang sampai sekarang masih meninggalkan luka di hati wanita itu.
"Tari, akhirnya aku bisa bertemu langsung dengan mu." Arin langsung memeluk Tari ketika melihatnya, ia bersikap begitu ramah seolah mereka sudah sangat akrab.
Tari juga tidak merasa canggung, karena Arin sungguh sangat baik dengan nya. Vico yang melihat itu tentu merasa sangat senang dalam hatinya.
"Nathan dan Rosyi dimana?" Pertanyaan Vico yang tiba-tiba malah di balas dengan helaan nafas dari sang ibu.
"Adikmu itu benar-benar, dia menculik cucuku. Seharusnya mereka kemarin sudah pulang, tapi sampai sekarang belum terlihat batang hidungnya. Aku sudah menelfon Nathan berulangkali, ponselnya mati," omel Arin terdengar sangat kesal.
Dahi Vico berkerut, tidak di rumah selama berhari-hari? Sepertinya ada yang tidak beres.
"Kalau begitu, daddy ada dimana?"
"Daddy mu ada di perusahaan."
"Baiklah, aku pergi dulu kalau begitu. Aku titip dia pada mommy." Vico buru-buru pergi tanpa mendengarkan ucapan Arin terlebih dahulu.
__ADS_1
"HEI!!"
"Aish, anak itu benar-benar. Aku heran, kenapa aku bisa melahirkan anak seperti Vico dan Nathan, benar-benar tidak ada yang menuruni sifat lemah lembut dan baik hati ku."
Tari hanya bisa tersenyum canggung. "Tapi dari segi wajah, kalian sangat mirip."
"Hanya wajah saja, tapi untuk sikap dan hobi, mereka itu sangat b*jingan seperti daddy mereka," keluh Arin kesal.
Tari mengangguk paham, karena Rosyi juga sangat mirip dengan Vico, ia bahkan tidak bisa menemukan kemiripan dirinya dengan Rosyi. Rasanya sia-sia saja mengandung selama 9 bulan dan melahirkan karena ketika lahir, anaknya malah lebih mirip dengan sang ayah daripada ibunya.
"Sudahlah, kenapa jadi membicarakan mereka? Lebih baik kita membicarakan yang lain saja."
Lagi-lagi Tari hanya mampu tersenyum ketika Arin menarik tangan nya dengan semangat dan membawanya duduk di sofa.
"Bagaimana, kapan kalian akan menikah?"
"Hah?" Pertanyaan macam apa ini? Tari baru saja datang dan sudah ditanyai kapan menikah? Tidakkah ini terlalu terburu-buru?
•
•
•
"Sudah aku duga, kamu pasti akan lari pagi."
Rosyi sedikit terkejut melihat Reyn yang tiba-tiba datang menyusul nya.
"Kamu sedang apa disini? Rumah kamu kan jauh dari sini." Rosyi memandang heran kearah Reyn yang entah kenapa hari ini terlihat sangat tampan. "Tentu saja untuk lari pagi bersamamu."
Tampan, tampan sekali hingga Rosyi tanpa sadar tersipu.
"Hei, ada apa? Pipi mu merah sekali." Reyn sengaja mengusap pipi Rosyi, padahal ia tahu bahwa Rosyi tengah tersipu karena dirinya.
"Tidak, tidak ada." Rosyi mengelak dengan memalingkan wajahnya.
Melihat Rosyi yang malu-malu seperti itu, malah membuat Reyn gemas dan semakin ingin menggodanya.
*Srett...
Kedua bola mata Rosyi melotot lebar karena kini jarak antara wajahnya dan wajar Reyn hanya berjarak kurang dari 6 centi saja.
"A_apa yang kamu lakukan?"
__ADS_1
"Wajah mu begitu merah, aku ingin mengecek nya. Takutnya kamu malah sakit."
"Ti_tidak, aku sama sekali tidak sakit." Rosyi berusaha mendorong wajah Reyn untuk menjauh, namun Reyn malah menahan tangan Rosyi dan memajukan wajahnya hingga jarak antara wajah mereka semakin dekat.
Disaat ini, Rosyi merasa bahwa sekujur tubuhnya terasa kaku hingga rasanya sulit bagi ini untuk menghindari sentuhan Reyn di dahinya.
"Tubuh mu sedih panas, apakah kamu yakin jika kamu tidak sedang sakit?" Oh tuhan, sejak kapan seorang Reynhart Adhitama terlihat begitu mempesona?!
"Dasar anak muda, di tempat umum pun masih sempat-sempatnya bermesraan," suara salah seorang ibu-ibu komplek yang tengah berbelanja sayur.
"Ka_kami tidak..."
"Biasa Bu, masih muda, gairahnya masih kuat hehehe..." S*al, kenapa Reyn malah merangkul Rosyi? Dan apa-apaan ucapan laki-laki itu barusan? Kenapa terdengar sangat ambigu?
"A...kami paham kok, kami juga pernah muda. Kalian lanjutkan saja, kami tidak akan menggangu kemesraan pasutri baru."
"A_apa?" Rosyi merasa tak terima, apalagi ketika ibu-ibu itu mulai tertawa sambil meliriknya, kan Rosyi jadi malu.
"Tentu saja Bu, kami permisi." Reyn tersenyum ramah pada ibu-ibu itu lalu membawa Rosyi menjauh.
"Sampai jumpa lagi ganteng, sering-seringlah lari pagi," Goda salah satu ibu-ibu yang malah dibalas Reyn dengan kedipan mata.
Melihat Reyn yang merespon dogaan dari ibu-ibu itu membuat Rosyi kesal.
"Cih, buaya tetap saja buaya."
Sayang sekali, Rosyi tidak bisa menyembunyikan kekesalan nya itu hingga Reyn bisa melihatnya dengan mudah.
"Ehem...Ada yang cemburu nih?" Godanya mencolek pipi Rosyi.
Rosyi mendorong Reyn menjauh, kali ini ia berhasil, maka ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur dari Reyn.
"HEI! CEMBURU KOK KABUR?!"
"AKU GAK CEMBURU!"
"Ckckck, udah ketangkap basah aja masih ngelak." Reyn pun segera bergerak mengejar Rosyi yang terus berlari menjauh darinya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
..."Ratu Omega Telah Tiba"...
__ADS_1
...Besok jangan lupa mampir ya....