
"BUKA PINTUNYA! CEPAT!!" Mendengar suara berisik dari luar, Reyn dan Rosyi pun segera mengatur posisi seperti apa yang Amira perintahkan.
Segerombolan orang berbaju hitam memasuki kamar hotel Reyn dan Rosyi, keduanya pun langsung memulai akting mereka. Reyn bergerak seolah ia tengah menggagahi Rosyi, sedangkan Rosyi sendiri membuat suara-suara yang ambigu.
"Ahhh...ugh...lebihhh Ahhh..." Sontak sekumpulan orang berbaju hitam itu langsung terdiam ketika mendengar suara Rosyi yang seperti itu.
"Bos, kayaknya bener deh ini kamar pasangan baru yang lagi bulan madu," Bisik salah seorang dari mereka pada bosnya.
Pria yang di panggil bos itu mengangguk pelan, namun entah kenapa ia masih ingin memastikan, siapa tahu Rosyi bersembunyi disini.
"Lebih baik kita tetap memeriksa nya atau tuan Nathan akan marah, beliau mau memeriksa di lantai bawah."
"Baik bos."
Mengikuti perintah pemimpin nya, orang-orang China bertubuh gagah itu segera menggeledah kamar hotel Reyn dan Rosyi.
Fyi, kamar hotel yang kini di gunakan Reyn dan Rosyi adalah kamar hotel VIP yang mana di dalamnya tidak hanya ada kamar tetapi ada ruang tengah dan dapur juga, hampir sama seperti apartemen. Kamar VIP di hotel ini ada 10 kamar, sedangkan kamar lainnya hanya ada kamar dan kamar mandi saja.
BRAK...
Baik Reyn ataupun Rosyi sama-sama terkejut ketika mendengar suara kamar mereka di dobrak paksa.
Reyn spontan menoleh ketika sebuah suara menginstrupsi mereka. "Hei!"
"Sopankah memasuki kamar pasangan suami istri yang tengah berbulan madu?" Reyn menatap tajam orang-orang itu.
Kelima orang yang memasuki kamar Reyn dan Rosyi itupun menggaruk tengkuk belakang nya kikuk, merasa tak enak hati karena telah mengganggu kegiatan nikmat pasangan suami istri itu.
Rosyi merapatkan diri ke Reyn dengan tubuh bergetar, Reyn pun memeluknya balik dengan sangat erat.
"Kenapa diam disitu?! Kalian ingin melihat kami melakukan itu?!" Marah Reyn.
"Iya, eh maksudnya tidak. Maaf tuan, kami salah, kami akan pergi."
"Cepat pergi kalau begitu, istri saya malu dan ketakutan melihat kalian ada disini!"
Kelimanya langsung membungkuk dan meninggalkan kamar itu dengan perasaan kikuk.
"Bos, sudah saya katakan, seharusnya kita tidak masuk tadi."
"KAMU MENYALAHKAN SAYA?!"
Orang itu segera menggeleng dan menunduk takut. "Maaf bos, saya tidak bermaksud begitu."
"Ya sudahlah, ayo kita lanjut ke kamar selanjutnya."
__ADS_1
Orang-orang itupun pergi meninggalkan kamar itu.
Rosyi segera menjauhkan dirinya dari Reyn, sedikit mengintip ke pintu lalu menghela nafas lega. "Astaga, rencana Amira benar-benar berhasil. Untung dia nyuruh kamu pakai kumis palsu, kalau enggak, kita pasti ketahuan."
Reyn mengangguk. "Ternyata akting gue bagus banget ya, cocok nih jadi artis."
"Iya, cocok banget jadi artis di film azabnya Indosiar!" Sarkas Rosyi pada Reyn yang terlihat sangat bangga dengan aktingnya barusan.
"Kamu mah." Reyn mencebik kesal pada Rosyi yang malah membuat gadis itu terkekeh.
"Ih, ngambekan kayak anak kecil." Rosyi mencubit pipi Reyn dengan gemas hingga sang empunya meringis kesakitan.
"Reyn!!"
BRAK...
Keduanya kembali di kejutkan dengan kedatangan teman-teman mereka yang lagi-lagi mendobrak pintu tanpa mengucap salam.
Melihat kedua temannya duduk anteng di tempat tidur, Amira akhirnya bisa menghela nafas lega setelah sekian lama mencemaskan mereka.
"Lo berdua gapapa kan? Rencananya berjalan lancar kan? Gue khawatir banget gila!"
"Santai Ra, rencana nya berjalan lancar kok, kita gak ketahuan. Thanks ya," ucap Rosyi tulus.
"Gapapa, santai aja."
Andrew awalnya hanya diam, memperhatikan, namun tiba-tiba ia tertawa dengan kencang melihat penampilan Reyn yang...
"HAHAHA, ANJIR, INI BENERAN LO REYN?! GILA HAHAHA." Andrew memegangi perutnya yang terasa sakit karena tertawa berlebihan.
Mendengar ucapan Andrew, yang lainnya pun langsung melihat ke arah Reyn dan tertawa. Membuat Reyn jengkel saja.
"Hahaha, anjir Reyn, lho kayak bapak-bapak sumpah. Gak beda jauh sama satpam rumah gue," Liam tertawa dengan sangat puas, apalagi Reyn tidak membantah karena ia juga sadar bahwa penampilannya sekarang memang seperti bapak-bapak.
•
•
•
"Tuan, maaf, tetapi nona besar tidak ada disini, kami sudah menggeledah setiap kamar tapi tidak menemukan nona besar," Lapor salah satu dari mereka, laki-laki yang tadi di panggil bos oleh rekannya.
"TIDAK MUNGKIN! JELAS-JELAS LAKI-LAKI SI*LAN ITU MENGINAP DISINI!" Teriak Nathan marah.
Semua staf hotel yang ada disana tidak ada yang berani berkutik, mereka tentu tahu Nathan itu siapa jadi mereka tidak mungkin mengusir laki-laki itu karena berbuat keributan. Mereka semua tidak akan berani, bahkan manager hotel pun tak berani berkutik.
Nathan menarik rambutnya frustasi, ia harus bagaimana lagi sekarang? Ia akan habis ditangan sang kakak jika begini.
__ADS_1
"Tunggu dulu," Nathan merogoh setiap saku yang ada di pakaian yang ia gunakan untuk mencari ponselnya.
"Ini dia." Nathan membuka ponselnya, lalu menunjukkan sebuah foto pada resepsionis hotel. "Laki-laki ini, apakah kalian pernah melihatnya."
Wajah resepsionis itu langsung terkejut. "Ya, saya mengenalnya, dia adalah tuan Rehan Gergue pemilik kamar VIP nomor 7 di lantai paling atas."
"Apakah kamu bercanda? Kami sudah mengecek kesana dan isinya adalah keluarga tuan Lay dan nyonya Rara," Kata bawahan Nathan.
"****," Nathan mengumpat pelan dan langsung berlari masuk ke dalam lift untuk tamu VIP.
Anak buahnya yang melihat Nathan seperti itu pun langsung mengikuti nya lewat lift umum.
•
•
Tak...Tak...Tak...
Setelah berlarian cukup lama, akhirnya mereka sampai di depan kamar yang sebelumnya Reyn pesan. Tapi si*l nya, Nathan tidak membawa kartu untuk membuka kamar itu, sedangkan tak mungkin baginya untuk mendobrak pintu itu.
"Tuan, ini kartunya."
"Bagus kau membawanya," Nathan langsung menerima kartu itu dan mereka semua pun langsung masuk setelah pintu terbuka.
Semua bawahan Nathan langsung menyebar ke seluruh area dan ruangan kamar namun tidak menemukan siapapun disana.
"Tuan, maaf, tapi ruangan ini kosong."
"S*al." Lagi-lagi Nathan mengumpat karena kesal.
Mereka semua diam, Nathan sibuk berpikir apa yang akan ia lakukan setelah ini, harus kemana lagi ia mencari Rosyi sekarang?
Wuss...Wuss...
Sebuah suara tiba-tiba terdengar, membuat fokus mereka teralihkan. "Suara apa itu?" Tanya salah seorang bawahan.
"Sepertinya itu adalah suara helikopter, tapi aku tidak yakin," jawab yang lainnya.
"Tidak, itu emang suara helikopter. S*alan." Lagi-lagi Nathan berlari, kali ini tempat tujuannya adalah atap.
BRAK...
Pintu menuju rooftop terbuka dengan keras karena ulah Nathan. Laki-laki itu langsung masuk dengan nafas yang memburu.
Benar dugaan Nathan, sebuah helikopter baru saja meninggal area rooftop itu dan terbang menjauh namun masih terlihat oleh mata Nathan.
"S*al, jangan harap kalian bisa kabur."
__ADS_1
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...