
Mobil Reyn dan teman-temannya telah berhenti di jalanan dekat kediaman Freins. Walaupun sedikit samar, mereka masih bisa melihat puncak tertinggi kediaman mewah itu.
Mereka semua masih waras untuk tidak berhenti langsung di depan gerbang mansion besar itu.
"Gimana sekarang? Kalian yakin kalau itu beneran tempat nya?" Tanya Amira pada teman-temannya, mereka melakukan telfon untuk berhubungan.
"Mansion nya cukup besar, tapi kenapa gue gak yakin kalau ini tempatnya," Orion menyahuti dari mobil yang lain.
Reyn mengangguk setuju atas ucapan Orion. "Ini mungkin memang kediaman Freins, tapi sepertinya bukan kediaman utama."
David mengerutkan kening bingung. "Kok lo bisa ngambil kesimpulan gitu? Yakin banget kayaknya."
Yang di tanya hanya mengangkat bahu acuh. Tanpa banyak kata, Reyn langsung membawa mobilnya mendekati kediaman itu.
"Reyn, lo mau ngapain?" Tanya Liam bingung namun Reyn sama sekali tidak menjawab pertanyaan nya.
Orion yang melihat mobil Reyn melaju pun langsung mengikutinya. "Mau kemana tuh orang?" Tanya Andrew.
"Lihat aja dulu."
Reyn membawa mobilnya memasuki gang sempit dekat rumah itu, namun ia langsung menghentikan mobilnya saat akan melewati belokan.
Reyn tanpa mengatakan apapun kepada teman-temannya langsung keluar dari mobil di ikuti oleh Orion. Kedua laki-laki itu bersembunyi di balik dinding seolah-olah tengah mengintip sesuatu.
Disana, Reyn dan Orion melihat sebuah mobil hitam keluar dari kediaman itu lewat pintu belakang.
"Gimana Reyn?"
Laki-laki itu menggeleng. "Bukan yang ini, itu berarti..."
Reyn langsung berlari masuk ke dalam mobil, Orion paham apa maksud Reyn tanpa laki-laki itu katakan, ia juga ikut berlari masuk ke dalam mobil.
BRAK
"Reyn, ada apa?" Nadia terkejut karena Reyn menutup pintu mobil dengan sangat tidak santai.
Katakanlah Reyn gila, laki-laki itu memutar balikkan mobilnya di gang sempit itu dengan menggunakan belokan. Orion memajukan mobil nya untuk memberikan akses bagi mobil Reyn.
Mobil Reyn langsung keluar dari area gang sempit itu lalu segera mengejar sebuah mobil hitam yang baru saja keluar dari kediaman tadi dari gerbang depan.
"Reyn, lo ngapain ngejar mobil itu? Apa disana ada Zavico Freins?" David bertanya karena ia sama sekali tidak paham dengan keadaan ini.
"Tidak, ini bukan Zavico Freins, tapi adiknya Nathan Freins. Zavico Freins keluar dari kediaman itu lewat pintu belakang."
"Terus kenapa lo gak kejar Zavico, kenapa malah ngejar adiknya?!" Suara Andrew terdengar kesal.
Reyn diam, ia lebih memilih fokus ke jalan daripada menjelaskan apa yang ingin Andrew ketahui.
Andrew tentu kesal karena Reyn tidak menjawab pertanyaan nya, maka jadilah Orion yang menjawab. "Zavico akan pergi untuk urusan bisnis, mata-mata ku sudah memberitahu apa saja jadwal laki-laki itu tadi. Sedangkan Nathan Freins akan pulang, pulang ke kediaman utama Freins."
__ADS_1
Andrew membulat kan mulut membentuk huruf lalu mengangguk paham atas ucapan Orion. "Pinter juga tuh playboy satu."
•
•
Nathan sadar bahwa dirinya di ikuti, itu berarti ia telah gagal menjebak Reyn dan teman-temannya.
"Ck, pintar juga mereka. Tapi, aku tidak akan membiarkan kalian tahu dimana kediaman utama Freins berada."
Nathan menambah laju mobilnya, menyalip beberapa mobil lain seolah ia tengah melakukan balapan liar.
Mobil yang mengikuti Nathan pun tak mau kalah, mereka menambahkan kecepatan dan menyusul dengan baik.
Balapan liar di jalan yang di lakukan tiga mobil berwarna hitam itu tak mendapatkan teguran dari polisi yang bertugas, ia malah memberikan jalan dengan menyuruh mobil-mobil lain untuk menyingkir.
Hei, di China, tidak ada orang yang tidak tahu dengan plat mobil khusus milik anggota keluarga Freins. Dan tentu, para polisi tak akan ingin menyenggol keluarga itu dengan memberhentikan dan menegur Nathan yang tengah balapan liar dengan orang asing di jalan raya.
•
Seharusnya mobil Reyn bisa menyusul mobil Nathan andai saja ia tak kehabisan bensin di tengah jalan.
"****!" Reyn memukul stir mobil dengan kesal.
"Udah Reyn, besok kita bisa coba lagi, okay." Lia mengusap bahu Reyn pelan.
Laki-laki itu hanya mengangguk pelan atas ucapan Liam.
Reyn menurunkan kaca mobilnya ketika Orion datang mengetuk kaca mobilnya. "Reyn, what wrong?"
"Bensin gue habis," Ucap Reyn mendengus kesal.
"Bensin lo habis? Mau gue cariin penjual bensin?" Tawarnya.
"Makasih, wadahnya ada di bagasi, tolong ya."
"Sans aja." Orion menepuk pelan bahu Reyn yang terlihat frustasi.
"Gue duluan, nanti gue balik. Duluan guys." Orion melambaikan tangan.
"Eh, gue ikut." David membuka pintu mobil, ingin ikut dengan Orion.
"Cepetan."
•
•
•
__ADS_1
Nathan tersenyum miring ketika ia tak lagi melihat mobil yang tadi mengikutinya. "Makanya, kalau mau ngikutin orang tuh cek bensin dulu, gobloq!"
"Untung kali ini mereka gak berhasil ngikutin gue, kalau sampai berhasil, udah pasti mati gue nanti."
•
•
•
Rosyi menatap bintang malam itu dengan tatapan sendu, entah kenapa ia tiba-tiba merindukan teman-temannya terutama Reyn.
"Nona, udara malam semakin dingin, sebaiknya anda masuk, atau anda mau saya ambilkan jaket untuk menghangatkan tubuh Anda?" Tawar Rania.
Sang nona besar menggeleng. "Aku lebih nyaman seperti ini, tidak perlu. Nanti jika sudah puas melihat bintang, aku pasti masuk kok."
"Baiklah nona."
Rosyi melirik ke belakangnya dan sedikit mendengus, apakah mereka tidak bisa membiarkannya sendiri untuk sebentar saja?
Rasanya Rosyi sudah kehilangan semua kebebasan dan kebahagiaan. Ia tak bisa pergi-pergi seperti biasa, tidak bisa over thinking tengah malam di balkon kamar sambil menangis, ia tak bisa melakukan hal yang paling ia sukai, yaitu balapan motor.
Hah...Rosyi sangat merindukan kegiatan kesukaannya itu. Selain hobi, balapan motor juga menjadi sumber penghasilan Rosyi jika sang ibu sedang kumat dan mengusirnya dari rumah.
"Ngapain kalian semua ada disini?" Para bodyguard dan juga si kembar langsung menunduk hormat ketika Nathan datang.
Rosyi bersikap cuek saja bahkan tak melirik Nathan sama sekali. Ia juga hanya diam ketika Nathan mengambil duduk di sampingnya.
"Ngapain diem disini? Masuk sana, udah malem nih."
Diam, hanya itu yang Rosyi lakukan.
Nathan mendengus kesal. "Lagi pengen sesuatu? Bilang sama uncle, siapa tahu uncle bisa bantu."
Rosyi akhirnya menoleh, lalu menaikan satu alisnya. "Beneran?"
"Ya kita lihat dulu, Lo mau apa?"
"Balapan motor, besok." Rosyi menatap Nathan penuh harap. "Bisakan?"
"Oh, gampang itu mah. Cuma yang sulit, gimana izinnya sama mommy. Lo kan tahu sendiri gimana sayang nya mommy sama Lo? Dia pasti bakal khawatir."
"Bilang aja kalau kita bakal belanja ke mall. Supaya lebih percaya, kita bisa bawa mereka semua." Keduanya menoleh serentak pada para bodyguard dan si kembar.
"Pinter Lo, oke, besok kita pergi ke arena khusus punya gue."
Oh, Rosyi senang sekali, tak sabar untuk menunggu hari esok.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
__ADS_1
Kira-kira kalau Mark ikut novel ini, namanya yang bagus apa ya?