Brandal Couple

Brandal Couple
*Pria misterius


__ADS_3

Sepertinya kejadian pagi itu belum lah cukup untuk membuat mereka puas.


Kali ini mereka tidak tanggung-tanggung. Baru balik dari kantin, Rosyi tiba-tiba sudah diseret menuju gudang belakang sekolah yang terbengkalai.


BRUK...


"Akh...Shh..." Rosyi meringis pelan merasakan kepalanya yang terasa begitu sakit akibat terbentur pada dinding.


Para gadis itu, yang terhitung ada 5 orang, mulai mengelilingi Rosyi. Di tangan mereka ada beberapa alat yang akan di gunakan untuk membully Rosyi.


Tak tanggung-tanggung, salah satu dari mereka ada yang membawa tongkat baseball dan juga raket nyamuk.


Oh, tongkat baseball. Benda itu pernah memberikan kenangan yang menyenangkan untuk Rosyi sebelum semuanya berubah total.


BUGH....


Rosyi terbatuk sambil memegang perutnya, mulut nya mengeluarkan darah hanya dalam sekali pukul. Pukulan yang begitu kuat hingga rasanya begitu sakit.


"Mulai hari ini, hidup Lo bakal kerasa kayak ada di neraka!" Salah seorang gadis yang membawa raket nyamuk itu tersenyum miring, mengarahkan benda yang ia bawa ke pipi Rosyi.


PLAK...


Bukan tamparan raket itu yang terasa sakit, namun sengatan listrik yang diberikannya lah yang sakit.


Rosyi tak lagi meringis, ia malah tersenyum miring. "Mulai hari ini? Gue rasa cuma hari ini karena mulai besok gue gak sekolah disini lagi!"


"Owh, seperti itu? Karena ini adalah hari satu-satunya, bagaimana jika kami membuatmu koma?" Gadis itu berjongkok di depan Rosyi, ia mencengkram pipi Rosyi dengan kuku-kuku jarinya yang panjang nan tajam. Bahkan sangking tajamnya, pipi Rosyi sampai berdarah.


"Coba aja kalau bisa."


"Wah, nantangin nih guys. Ayo, habisin dia!"


Rosyi hanya pasrah saja ketika kelima gadis itu mulai melukai tubuhnya dengan berbagai benda yang mereka bawa.


"Kalau bisa, buat gue mati aja sekalian. Sekarang gak ada alasan buat gue bertahan hidup."


Bukannya tidak bersyukur. Rosyi sadar kok kalau masih ada sahabat dan sepupu yang menyayangi nya dengan tulus, tapi... Entahlah, Rosyi sudah kehilangan arah. Ia tak berfikir dengan jernih sekarang ini.





Nadia dan Amira sudah kelabakan mencari Rosyi dimana-mana, namun mereka tak kunjung menemukan gadis itu dimanapun.


Jam pertama setelah istirahat telah berakhir, dan Rosyi belum juga kembali, itu membuat keduanya khawatir.


Orion juga telah menyiarkan ke seluruh sekolahan untuk segera menghubungi nomor OSIS jika menemukan Rosyi.


Bukannya mereka lebay ya, tapi mereka tahu benar jika fans-fans Reyn hari ini pasti tidak akan membiarkan Rosyi begitu saja. Gadis-gadis gila itu pasti akan berbuat nekat, apalagi sekarang Rosyi sudah menghilang lebih dari 2 jam lamanya.


Andrew juga langsung meninggalkan kelas setelah mendengar siaran dari bel sekolah.


"Bagi murid-murid SMA Tunas Harapan, di mohon untuk segera menghubungi nomor OSIS jika bertemu dengan Ananda Rosyi Amelia!"


Dahi Reyn mengernyit ketika mendengar siaran itu. Ia hendak berdiri, namun sebuah tangan menahan dirinya dengan memeluk tangan Reyn.


"Reyn, ini masih waktunya pelajaran lho, kamu mau kemana?" Cecilia tersenyum manis kepada Reyn.


Reyn berdecak, lalu kembali duduk dengan terpaksa.




"ROSYI! LO DIMANA?!" Andrew mencari Rosyi di taman belakang karena Amira dan yang lainnya sudah mencar ke area sekolah yang lain.


BRAK...

__ADS_1


"Suara apaan tuh?" Andrew menoleh ketika mendengar suara pukulan.


"Gudang?"


Bola mata Andrew melebar, ia langsung berlari menuju gudang belakang. Firasat nya sudah benar-benar tidak enak sekarang.


BRAK...


Laki-laki itu menendang pintu gudang dengan kuat. Tubuhnya tiba-tiba membeku ketika melihat Rosyi sudah bersimpuh tak sadarkan diri di lantai dengan keadaan tubuh penuh memar dan luka yang mengeluarkan darah.


"ROSYI!!"





Siang itu SMA Tunas Harapan di buat heboh. Karena Rosyi yang di temukan pingsan dalam keadaan kacau? Oh tentu tidak. Kehebohan itu terjadi karena adanya sebuah helikopter yang tiba-tiba mendarat di area taman belakang sekolah.


Seorang laki-laki berbaju serba hitam dan earphone di telinganya turun dari dalam helikopter. Ia memasuki gudang yang tidak digunakan dimana disana ada Andrew yang masih mematung dan Rosyi yang sudah tak sadarkan diri lagi.


Tanpa banyak bicara, pria itu langsung menggendong Rosyi dan membawa gadis itu keluar dari area gudang. Andrew yang tersadar pun langsung menyusul keluar.


Pria itu berhadapan dengan Amira, Nadia, Liam, David dan Orion yang nampak terkejut melihat kedatangan nya.


"Om...om mau bawa Rosyi kemana?" Nadia bertanya dengan suara pelan, ia terlalu takut dengan perawakan pria berbadan besar itu.


Ototnya yang besar, kumisnya yang lebat dan mata tajamnya yang menyeramkan. Nadia takut, takut jika ternyata laki-laki itu adalah seorang penculik dan kini tengah melakukan penculikan secara terang-terangan.


Pria itu tak menghiraukan pertanyaan Nadia dan malah lanjut jalan membawa Rosyi menuju helikopternya.


Andrew dan Orion segera menghadang. "Om gak bisa bawa Rosyi!" Keduanya menggeleng dengan serempak.


Pria itu masih tak menghiraukan, ia membawa Rosyi dan melewati kedua remaja itu dengan mudah. Hanya dengan tatapan tajam saja maka nyali keduanya langsung menciut.


Semua orang seolah terhipnotis dalam seramnya perawatan laki-laki itu hingga tak ada yang berani mendekat ataupun menghalangi nya kecuali Orion dan Andrew tadi.


Pria itu tersenyum miring, "Tidak melakukan apapun? Benar-benar pecundang," Gumamnya sebelum membawa Rosyi masuk ke dalam helikopter.





Malam harinya, Amira dan yang lainnya langsung mengadakan rapat terbuka. Kejadian siang tadi, mereka harus menyelidikinya, takut nya malah terjadi hal yang tidak diinginkan kepada Rosyi.


"Yon, lo beneran gak tahu orang itu siapa?" Liam menatap Orion, sedangkan laki-laki itu hanya menggeleng.


"Atau jangan-jangan itu Daddynya Rosyi ya?" Tanya Nadia asal menebak.


Orion menatap aneh pada Nadia. "Waras lo? Bokapnya Rosyi udah ada di dalam tanah, ya kalik bangkit lagi, orang ini udah ada 10 tahun sejak di pendem!"


"Ih, santai dong, kan aku cuma nebak." Nadia cemberut.


"Oh...atau itu anak buahnya Tante Tari yang mau bawa Rosyi ke Singapura?"


"Nah, bisa jadi tuh." Liam mengangguk setuju atas usulan sang kekasih.


"Gak mungkin," bantah Orion.


"Kenapa gak mungkin?" Tanya David bingung.


"Dia cowok."


"Hah?!" David membeo. Dia bingung, memangnya kenapa kalau orang tadi berjenis kelamin laki-laki? Ada masalah ya?


PLAK...

__ADS_1


David meringis karena Amira yang tiba-tiba memukul tengkuknya. "Lo jadi orang jangan Lola deh! Lo lupa kalau aunty Tari tuh trauma sama yang namanya laki-laki hah?!" Kesabaran Amira yang setipis tisu, malah harus berhadapan dengan David yang lolanya minta ampun. Lihat aja sekarang, bocahnya cuma nganggukin kepalanya polos, sok kiyowo banget emang.


"KAK IYON~" Orion terkejut bahkan hampir tersedak risol ketika sebuah tangan mungil tiba-tiba menepuk pahanya dengan keras.


"Novi? Kok kamu ada disini?"


Bocah yang dipanggil Novi itu pun tersenyum lebar, "Ikut mommy arisan. Kakak ngapain disini?"


"Kakak lagi ngumpul sama temen."


"Ohh..." Novi mengangguk lalu melihat teman-teman yang Orion maksud.


"Hi, Novi." Sapa Nadia riang gembira lalalala~


"Hi, kak Nadia!" Novi pun membalas sapaan Nadia tak kalah riang. Yah, ia kenal dengan Nadia dan Amira karena Rosyi pernah memperkenalkan nya pada kedua gadis itu.


"Kak Nadia dan kak Amira ada disini, tapi kok kak Rosyi gak ada? Kak Rosyi dimana?" Ouh, s*al, padahal Orion sudah berdoa supaya Novi tidak menanyakan keberadaan Rosyi, namun tidak bisa, gadis kecil pasti tetap akan mempertanyakan tentang keberadaan kakak sepupu nya.


"Novi cantik. Kak Rosyi nya lagi pergi pacaran sama kak Reyn, Novi mau main? Sini main sama kak Liam aja yuk."


"Em...Yaudah deh, daripada Novi sama mommy, bosen."


Untung saja Liam otaknya encer, jadi Orion bisa bernafas lega walaupun rapat mereka harus terhenti.



Drtt...Drtt...


Suara HP Amira yang berbunyi. "Eh, bentar ya, ada telfon masuk."


"Sok atuh, mangga."


"Sok atuh, mangga." Novi mengikuti cara berbicara Liam, lalu keduanya bertos ria. Sepertinya Liam mulai menanamkan bibit-bibit kejahilan dalam diri Novi.


Amira mengambil HP nya, melihat kontak nama kontak yang menghubunginya. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat nama Tari lah yang tertera disana.


"Guys guys, gimana dong ini?" Amira menepuk paha Nadia panik.


"Hah, kenapa Ra? Siapa yang nelfon?" Nadia pun ikutan panik.


"Aunty Tari, Aunty Tari yang telfon gue, gue harus gimana dong?"


"Angkat aja," Jawab Orion lempeng.


"Lo gila ya?! Kalau dia nanyain itu gimana?" Amira sengaja menyamarkan nama Rosyi karena Novi masih ada disana.


Sadar dengan situasional, David dan Nadia pun mengajak Novi untuk keluar. David membisikkan sesuatu kepada Rosyi supaya bocah SMP itu mau ikut dengannya.


"Novi bantuin kak David ya, kak David mau ngajak kak Nadia buat jalan berdua, tapi kalau berdua aja pasti canggung, jadi Novi ikut kakak ya?" Yah, kira-kira begitu lah yang David katakan pada Novi. Nadia tak tahu apapun, ia hanya iya-iya saja ketika David mengajaknya pergi.


Setelah ketiga manusia itu pergi, Amira pun memberanikan diri untuk mengangkat panggilan dari Tari, tak lupa ia juga menghidupkan loud speaker. "Ha_halo aunty?"


"Halo Amira, kamu lagi sama Rosyi gak? Seharusnya dia sore tadi sudah dalam penerbangan kesini, tapi kok dia gak bisa di hubungi ya?" Aduh, baru juga diangkat dan Amira sudah di serbu dengan pertanyaan-pertanyaan yang mematikan saja.


Mata gadis itu melirik Liam dan Orion, meminta bantuan.


"Bilang aja," ucap Orion tanpa suara.


"Lo yakin?" Amira nampak terkejut.


Orion mengangguk mantap. Akhirnya, Amira menceritakan semuanya secara detail kepada Tari dan saat itu juga panggilan nya langsung di putus sepihak oleh Tari.


"Anjir, dimatiin, gimana dong?" Amira takut


Liam dan Orion saling pandang, keduanya diam, bergelut dengan pikiran masing-masing.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


__ADS_1


Mau genepin cs nya jadi 30 deh, tapi belum tau bakal up kapan.


__ADS_2