Brandal Couple

Brandal Couple
*Chapter 28


__ADS_3

Baru beberapa menit kedatangan Rosyi disana dan keadaan Reyn langsung membaik dengan cepat. Laki-laki itu mau makan bahkan menghabiskan dua piring bubur ayam, lalu ia juga meminum obat tanpa ada perlawanan.


Tak lama kemudian, sahabat-sahabat Rosyi pun datang bersama Liam dan David.


Ketiga gadis cantik itu saling berpelukan untuk melepas rindu satu sama lain. "Ros, lo kemana aja sih? Gue kangen banget tahu gak?" Amira mengeratkan pelukannya.


"Iya ih, padahal kami udah coba hubungi kamu berkali-kali tapi gak bisa. Sebenarnya kamu dimana sih selama ini?" Nadia tak dapat menahan air matanya, ia benar-benar merindukan sahabatnya yang satu ini.


"Gue juga kangen sama kalian. Ceritanya panjang, intinya gue di bawa ke Luksemburg sama Zavico Freins yang ngaku sebagai bokap gue."


"What?! Zavico Freins? Pengusaha suksesnya asal China itu ya?" Liam tak bisa untuk tidak penasaran.


Rosyi mengangguk, dan Liam semakin menatapnya penasaran.


"Gimana ceritanya? Kok bisa dia ngaku sebagai bokap Lo?"


"Ayo duduk dulu, jangan ngobrol sambil berdiri," Ajak Flo pada teman-teman anaknya itu.


Reyn menatap tak rela pada Rosyi yang duduk bersama teman-temannya di sofa yang letaknya agak jauh dari ranjang Reyn.


"Mom, Reyn mau duduk disana juga," Adunya pada sang mommy.


"Boleh." Flo pun membantu Reyn untuk turun dari ranjang.


Liam dan David yang melihat Reyn turun dari ranjang rumah sakit pun menawarkan diri untuk membantu. "Sini, lo sama kita aja, Reyn."Liam dan David memapah Reyn bersama-sama.


"Makasih ya, Liam dan David," Ucap Flo dengan senyuman menenangkan.


"Gapapa kok tante, lagian Reyn kan sahabat kami," Balas Liam dengan senyuman yang tak kalah tulus.



Kini mereka semua sudah duduk di sofa, Reyn duduk di samping Rosyi dan memeluk gadis itu erat.


"Jadi gimana Ros ceritanya? Gue udah penasaran banget nih," Ucap Liam menggebu-gebu.


"Sama nih, gue juga penasaran. Masa sih lo anaknya Zavico Freins," Ucap David tak kalah penasaran.


Rosyi menghela nafas pelan. "Kalian pasti gak akan percaya, dan gue juga sama. Tapi, kami sudah melakukan tes DNA dan hasilnya positif, gue beneran anaknya."

__ADS_1


"Lha, terus bokap lo yang dulu? Dia bukan bokap kandung lo gitu?" Tanya Amira penasaran.


Mengangkat bahu acuh, Rosyi pun menggeleng. "Kayaknya enggak, dan mungkin karena ini juga dia khianati mommy gue, karena gue bukan anak kandungnya dia."


"Kok bisa?" Nadia menatap Rosyi tak percaya.


"Nggak tahu, mungkin ini ada kaitannya sama masa lalu mereka, atau apapun itu, gue gak ngerti."


Mereka pun mengangguk paham, tak seharusnya mereka tahu lebih dalam dari ini karena ini adalah urusan keluarga Rosyi.


"Terus, lo jadi pergi ke__awh!" Rosyi segera mencubit tangan Amira ketika gadis itu hampir saja keceplosan mengatakan bahwa Rosyi akan pindah ke Singapura.


"Pergi kemana? Sayang, kamu mau kemana?" Reyn menatap Rosyi takut, takut jika dirinya akan di tinggal lagi.


Rosyi tersenyum, ia menangkup pipi Reyn dengan kedua tangan nya. "Aku gak akan kemana-mana, cuma mau pergi ke mall buat beli baju. Aku kesini kan kabur, jadi gak bawa baju." Wah, hebat, seperti Rosyi patut di berikan apresiasi sebagai pembohong paling lancar setidaknya di antara mereka semua.


"Hah, emang iya?" Si polos menyebalkan Nadia mulai beraksi.


David segera merangkul Nadia dengan erat, "Iya dong, emang lo liat ada koper bajunya Rosyi disini?"


Nadia menatap sekeliling lalu menggeleng. "Gak ada," Jawabnya polos.


"Nah, gak ada kan? Karena gak ada, jadi Rosyi butuh beli baju sekarang, paham?" Tanya nya penuh penekanan.


"Iyalah, David gitu loh."


Amira menatap jijik kedua remaja itu. "Yang satu polos, yang satu suka goblok-goblokin anak orang."





Tari sudah kepalang khawatir karena ia tak kunjung mendapatkan kabar tentang Rosyi, anaknya. Maka dengan segala tekat dan keberaniannya, Tari pun menelfon nomor asing yang waktu itu mengiriminya pesan.


Tut...Tutt...Tutt...


Tak butuh waktu lama sampai panggilan itu di jawab oleh orang di sebrang sana.

__ADS_1


"Halo? Apa yang membuat mu menelfon ku? Apakah kamu merindukan ku cantik?" Terdengar suara berat seorang laki-laki dari sebrang sana.


"Jangan banyak berbasa-basi, aku ingin kamu mengembalikan putri ku kembali kepadaku!!"


Terdengar suara kekehan berat dari si lelaki yang tak lain dan tak bukan adalah Vico. "Dan membiarkan mu menyakiti putriku lagi? Aku tidak akan membiarkannya. Dia adalah harta berharga keluargaku, aku tidak akan membiarkan orang tak bertanggung jawab sepertimu menyakiti putriku!"


"AKU SEPERTI ITU JUGA KARENAMU, BRENGSEK!! Jika dulu kau tidak melakukannya, aku dan keluargaku pasti akan baik-baik saja. Kami akan menjadi keluarga lengkap yang bahagia!" Tari emosi, dadanya naik turun dengan nafas yang memburu.


"Jangan hanya menyalahkan aku, buka mata mu dan lihat, semua itu adalah rencana suamimu. Dia tidak menginginkan mu lagi hingga mengumpankan mu padaku."


Kedua tangan Tari terkepal, ia sadar jika itu adalah rencana suaminya dan karena kesalahannya sendiri yang tak berhati-hati dengan orang asing. Namun, Vico juga salah karena ia melakukan itu pada istri rekannya yang tengah mabuk, padahal saat itu Vico dalam keadaan 100% sadar.


Tari membenci Vico, laki-laki telah membuat hidup nya hancur.


"Aku tidak mau tahu! Cepat berikan anakku sekarang juga! Hanya dia yang aku punya hiks..." Tari mulai emosional hingga menangis dan memohon kepada orang yang ditelpon nya.


Vico di sebrang sana hanya diam mendengarkan tangisan dan suara parau Tari yang memohon supaya ia mengembalikan putri nya.


Asisten Zhong yang berdiri di samping Vico merasa kasihan dengan Tari yang terdengar begitu putus asa. "Tuan, bukankah sebaiknya kalian bicarakan baik-baik soal ini? Bagaimana pun juga, nyonya Tari adalah ibu kandung dari nona Besar."


"Apakah menurut mu aku harus melakukannya?" Vico melirik asisten Zhong dari ekor matanya.


Asisten muda itu mengangguk. "Tidak baik memisahkan seorang anak dengan paksa dari ibunya."


"Lalu bagaimana dengan yang dia lakukan? Dia menjauhkan aku dan anakku dalam waktu yang cukup lama."


"Tapi tuan, tidakkah anda paham jika posisi nyonya Tari begitu sulit? Dia adalah korban. Dia bukan hanya sakit fisik, namun mental juga terluka."


Vico terdiam, apa yang di katakan Asisten Zhong benar juga. Ia seharusnya bisa mengerti.


"Baiklah, nanti akan aku pikirkan. Terimakasih sarannya."


Asisten Zhong mengangguk sopan, "Tidak perlu berterimakasih tuan."


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...



Alisnya ketebelan woy elah😭

__ADS_1



Sisa Khaflah bulan lalu.


__ADS_2