
Sret...
Gorden kamar di buka, membiarkan cahaya mentari pagi menyelinap masuk untuk membangun gadis cantik yang masih tertidur lelap di atas kasur.
Silau nya cahaya membuat dahi cantik itu berkerut, perlahan mata indah yang tadinya tertutup mulai terbuka.
"Selamat pagi nona besar." Si pelayan tua juga pelayan Rania dan Riani membungkuk hormat pada Rosyi yang sudah bangun.
Dahi gadis itu mengernyit. Apa ini? Semalam mereka masih memanggilnya nona, lalu mengapa sekarang jadi nona besar?
Rosyi mengganti posisi tidur nya menjadi duduk, ia menatap malas tiga pelayan di hadapannya. "Ck, kalian berlebihan."
Ketiganya hanya diam, dan itu membuat Rosyi kesal. "Aku akan mandi, tolong siapkan bajuku. Pilihkan baju yang santai, kalau bisa kaos oversize."
"Baik nona besar." Mereka kembali membungkuk.
Dengan perlahan, Rosyi mulai turun dari kasur. Luka yang ada di tubuhnya masih sedikit nyeri, itu membuatnya meringis pelan.
Rania dan Riani langsung bergerak akan membantu Rosyi, namun di tolak oleh sang majikan. "Tidak perlu, aku bisa sendiri."
"Baik nona besar."
•
•
•
Selesai mandi dan berganti pakaian, Rania dan Riani membawa Rosyi untuk sarapan di bawah.
"Berhenti."
"Ada apa nona besar?" Kedua pelayan muda itu terlihat kebingungan.
"Kalian bisa gak sih, Gak usah berlebihan? Kita itu sepantaran lho. Panggil aja gue dengan santai. Kita bisa jadi teman, kalian mau kan jadi temen gue?" Rosyi tersenyum senang ketika kedua pelayan itu terdiam, semoga perkataan nya tadi mampu mempengaruhi keduanya.
"Maaf nona besar, kami sangat tersanjung atas tawaran Anda, namun kami tidak pantas." Rania dan Riani lagi-lagi membungkuk, dan itu membuat Rosyi sangat kesal.
"Ck, menyebalkan!" Rosyi pergi begitu saja meninggalkan dua pelayan nya yang masih membungkuk.
"Eh, ayo kejar nona besar, nanti kalau tersesat gimana?" Rania menyenggol Riani.
"Ayo kak, kita kejar nona besar!" Keduanya pun berlari berbondong-bondong mengejar langkah Rosyi yang sudah jauh.
•
•
Rosyi pikir di meja makan akan sangat sepi dan hanya dia saja yang makan, karena sang ibu pasti sudah pergi ke kantor. Namun nyatanya ia malah melihat seorang pria dengan tubuh di balut kemeja hitam tengah duduk di meja kepala keluarga sambil menikmati sarapannya.
Tak...Tak...Tak...
Langkah Rosyi yang mendekat pasti sudah di sadari oleh pria itu, namun ia masih terlihat santai menikmati sarapannya.
__ADS_1
"Siapa kamu?" Rosyi bertanya tanpa basa-basi sedikit pun.
Pria itu mendongak, senyuman lebar tercetak di wajahnya yang tidak dapat di kategorikan kedalam wajah ramah-able.
"Kamu sudah bangun sayang? Ayo makan bareng daddy."
WHAT?! DADDY? Mata Rosyi hampir melompat keluar karena sangking terkejutnya. Maksudnya apa ini? Apakah Rosyi bukan berada di rumah ibunya yang ada di Singapura?
Lalu, apakah siapa pria ini? Kenapa dia memanggil Rosyi sayang dan memanggil dirinya sendiri daddy?
"ANJIR, APA GUE DI JUAL SAMA TUH CEWEK-CEWEK GILA TERUS DI BELI SAMA NIH OM-OM, TERUS GUE SEKARANG DIJADIIN SUGAR BABY?! OH TIDAK!" Rosyi dan fikiran random nya.
Rosyi memundurkan langkahnya perlahan, "Lo siapa? Gue dimana?" Rosyi melihat kesekeliling dengan tatapan bingung.
"Aku daddy-mu, dan kamu sendang berada di rumah daddy sayang."
"Dih, ngaku-ngaku lo. Orang daddy gue udah ada di tanah kok."
"Dia bukan ayah kandung mu, akulah ayah kandungmu. Aku, Zavico Freins."
Tunggu, Zavico Freins? FREINS? Bukankah dia adalah pengusaha sukses dari China itu? Bagaimana bisa orang sehebat itu mengaku-ngaku sebagai ayah Rosyi?
"Oh, tuan Freins. Maaf, sepertinya anda salah orang. Saya bukan anak anda, itu tidak mungkin hahaha." Rosyi tertawa canggung.
Pria yang mengaku bernama Zavico Freins itu menggeleng pelan. "Kamu benar anak saya, Rosyi Amelia Freins." Seketika itu tawa Rosyi langsung memudar.
Ia menatap tak percaya pada Vico. "Apakah Anda bisa membuktikan nya? Jika saya adalah anak Anda."
•
•
•
Demam Reyn sedikit turun, itu berkat Amira dan yang lainnya yang telah bersusah payah untuk membujuk Reyn supaya mau makan banyak dan meminum obat.
Sebenarnya Flo ingin sekali bertanya mengenai kenapa Reyn bisa bersikap seperti itu kepada Rosyi padahal ia tahu sekali bahwa Ryan itu benar-benar mencintai Rosyi. Ya, Amira dan yang lainnya sudah menceritakan semuanya kepada Flo.
Dan pas sekali, siang itu Cecilia datang ke rumah Reyn untuk menjenguk kekasih nya. Tak ada yang tahu bagaimana Cecilia bisa tahu bahwa Reyn sakit, padahal hari ini sekolah sedang libur. Dan ya, bagaimana gadis itu tahu alamat rumah Reyn?
"Siang Tante, Reyn nya ada gak?" Cacilia tersenyum manis pada Flo.
"Siapa ya?"
"Oh, saya Cecilia tante. Saya pacarnya Reyn."
"Oh, mainan yang keberapa? Ups..." Flo reflek menutup mulutnya dengan tangan. "Maaf, mulut saya emang suka keceplosan."
"Iya tante, gapapa kok." Senyuman yang tadi terlihat tulus, sekarang malah terlihat seperti di paksakan.
"Ini tante-tante apaan sih, mulutnya lemes banget." Batin Cecilia memendam kekesalan pada Flo.
"Oh, jadi ini toh yang katanya penyebab hancurnya hubungan anak sama calon menantu gue. Dari penampilan nya aja udah minus, gak sebanding sama Rosyi kesayangan gue."
__ADS_1
Flo menelisik Cecilia dari atas sampai bawah. Rok pendek ketat di atas lutut, kaos nya aja cuma separuh sampe-sampe perut nya kelihatan, udah gitu make up-nya tebel banget lagi, bener-bener beda jauh dari Rosyi.
"Ini mau jenguk anak gue atau mau nge_ehem..." Flo bergumam pelan lalu tersenyum paksa pada Cecilia sebelum menyuruhnya masuk. Tak mungkin ia mengusir tamu tanpa alasan kan.
Sesampainya didalam, Cecilia langsung di sambut dengan tatapan bingung dari Amira, Nadia, Liam dan David yang kebetulan tengah makan camilan di ruang keluarga.
"Lo ngapain disini?" Terdengar sekali nada tak suka dari ucapan Amira.
"Seharusnya aku yang nanya, kenapa kalian ada diantara? Ini kan rumahnya Reyn."
Amira spontan tertawa. "Heh! Katanya pacarnya Reyn, tapi kok gak tahu gue siapa sih. Pacar KW kalik lo."
"Ih, apa sih, orang aku pacar beneran nya Reyn. Buktinya Reyn sayang banget sama aku. Emangnya kamu siapa? paling juga gak penting."
"Amira itu keponakan saya, dia sepupunya Reyn." Tiba-tiba Flo datang menyahuti ucapan Cecilia.
"Tuh, dengerin. Punya telinga gak? Makanya kalau ngomong tuh mikir dulu. Gak tau apa-apa tapi sok tahu segalanya."
Malu? Oh ya jelas, apalagi Cecilia melihat dengan jelas bahwa Flo tengah menertawakan kebodohannya.
•
•
•
Vico benar-benar membawa Rosyi untuk melakukan tes DNA. Mereka pergi menggunakan mobil Buggati hitam mahal yang hanya ada satu di dunia, dan itu adalah milik Vico sendiri.
Mereka juga di kawal oleh beberapa mobil Van hitam yang mana di dalamnya ada beberapa bodyguard yang di tugaskan untuk menjaga mereka. Sudah seperti presiden saja.
Selama perjalanan, Rosyi selalu memperhatikan sekitar dan ia yakin, dirinya tidak berada di Indonesia ataupun Singapura ataupun China.
"Kita di negara mana? Ini bukan Indonesia, juga bukan China."
Vico terkekeh, "Yah, kamu memang benar. Kita tidak ada di China ataupun Indonesia kita ada di Luksemburg."
"Luksemburg?"
"Ya, aku ada urusan bisnis disini. Jika urusan ku sudah selesai, aku akan membawa mu ke China untuk bertemu kakek dan nenekmu."
"Aku masih memiliki kakek dan nenek?" Rosyi terlihat bingung.
Vico mengangguk. "Kamu mau kan bertemu mereka?"
"Terserah." Rosyi mengalihkan pandangan ke arah jendela.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Zavico Freins
Om, culik aku dong om!
__ADS_1