Brandal Couple

Brandal Couple
*And


__ADS_3

*2 Minggu Kemudian.*


Rosyi heran, ia penasaran kenapa Vico membutuhkan waktu lebih dari sebulan untuk menghampirinya, padahal laki-laki itu bisa saja langsung menangkap dia tepat setelah Vico tahu jika Rosyi telah melarikan diri.


DOR...DOR...


Kali ini Vico tidak melakukan penculikan lagi untuk membawa Rosyi kembali, namun ia menyerang Rosyi dan teman-temannya secara langsung di tempat mereka biasa latihan.


Untung saja Rosyi dan teman-temannya sudah menyiapkan beberapa anak buah disana, jadi tidak masalah jika Vico menyerang secara tiba-tiba seperti ini.


"Teman-teman, ini adalah saatnya untuk kita membuktikan kekuatan kita. AYO!" teriak Reyn menyemangati teman-temannya yang lain.


"AYO!" teriak mereka serempak.


Vico tersenyum sinis melihat kekompakan mereka semua. "Hanya bocah ingusan saja ingin mengalahkan ku, jangan menangis jika kalian kalah nanti."


Mereka semua bergerak melawan semua musuh. Reyn dan Rosyi secara khusus memilih Vico untuk menjadi musuh mereka.


1 lawan 2 seharunya bukan masalah besar untuk seorang Zavico Freins bukan?


SRAK... SRAK... SRAK...


"Lumayan juga, tapi kalian belum cukup hebat untuk membuatku meneteskan darah." Vico tersenyum miring, menatap kedua anak muda itu dengan tatapan meremehkan.


BUGH...


"Tidak masalah jika tidak bisa membuat darahmu menetas, setidaknya aku bisa melayangkan pukulan yang bisa membuat tubuhmu di penuhi lebam," Balas Reyn setelah berhasil memukul perut Vico hingga laki-laki itu reflek mundur.


"Shhh...s*al, pukulannya kenapa bisa sekuat ini?" Desis Vico dalam hati sambil menatap tajam Reyn.


"Hanya pukulan seperti itu saja, apakah kau merasa hebat?!" Vico berdiri dengan tegak, mengabaikan sakit di bagian perutnya. Laki-laki itu menodongkan pistol ke arah Reyn dan...


DOR...


BRUK...


Untung saja Rosyi sigap menarik Reyn menjauh hingga peluru yang Vico lesatkan tidak berhasil mengenai Reyn.


"Kamu tidak apa-apa?"


Reyn mengangguk, "Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir."

__ADS_1


Rosyi menatap tajam sang ayah. "Walaupun kau adalah ayah kandung ku, aku tidak akan pernah membiarkan mu menyakiti orang yang aku sayangi. Sudah cukup kamu dan kakek menyiksa paman ku, aku tidak akan membiarkan kalian melakukan itu pada teman dan kekasihku!"


Ya, Rosyi sudah tahu semuanya. Beberapa hari lalu Rania menghubungi nya dan mengatakan segalanya.


Semua yang Rania ceritakan membuat rasa benci Rosyi pada Vico semakin besar. Ia tak menyangka jika keluarga kandung nya ternyata orang yang seperti itu.


"Kamu sudah mengetahui semuanya? Bagus kalau begitu. Sekarang lebih baik kamu menurut dan ikut aku pergi, atau mereka semua akan menjadi korban."


"Apa yang membuat mu begitu yakin bahwa aku akan pergi dengan mu? Aku akan tetap disini, tak akan aku biarkan perjuangan kami sia-sia!" Tatapan Rosyi begitu berani, menantang Vico tanpa rasa takut.


"JIKA HARUS MEMBUNUH, MAKA BUNUHLAH SEMUA MUSUH YANG TERLIHAT!!"


Mendengar teriakan Rosyi membuat Vico tersenyum miring. "Darah keluarga Freins memang mengalir dalam tubuh mu."


DOR...DOR...


Suasana semakin sengit, setiap saat selalu ada saja anak buah Vico yang datang dari tempat persembunyiannya untuk membantu rekan-rekannya yang lain.


Saat semua anak buah Vico sudah sampai di sanalah mereka baru menyadari jika mereka telah kalah jumlah dari anak buah Vico.


Reyn dan Rosyi sudah terluka parah, tubuh mereka sudah di penuhi oleh luka sayatan. Pakaian mereka juga sudah berlumuran darah.


"Anak yang tidak patuh sudah seharusnya di hukum." Vico menodongkan pistol nya ke arah Rosyi dan juga Reyn yang sudah terkapar di tanah.


Reyn menatap Vico tak percaya. Padahal Rosyi adalah anak kandungnya, namun laki-laki itu bisa-bisanya mengatakan hal seperti ini kepada Rosyi dengan tatapan dingin tanpa perasaan.


Rosyi sendiri malah membalas tatapan dingin Vico dengan tatapan tajam penuh amarah.


"Kamu bisa melakukan apapun padaku, tapi tidak dengan teman-temanku!"


"Tidak! Jika Rosyi terluka maka kami juga harus terluka. Jika Rosyi tiada maka biarkan kamu ikut bersamanya!" ucap Amira.


Vico menatap mereka semua satu persatu. Tatapan mereka terlihat sangat yakin dan sama sekali tak ada sirat keraguan dalam manik mata mereka.


"Baiklah jika itu permintaan kalian."


DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...


Suara tembakan yang beruntun, Rosyi bisa mendengar suara tembakan itu diiringi suara jeritan teman-temannya. Hingga tembakau terakhir mengenai dirinya dan membuat ia kehilangan kesadarannya dalam waktu singkat.


__ADS_1




"Shhh..." Sinar yang begitu terang membuat matanya silau.


Wanita itu baru saja tersadar dari tidur panjangnya.


"Apakah kamu merasa baik-baik saja?" Rosyi menoleh ke arah wanita dengan jas putih khas seorang dokter.


"Apa yang terjadi? Kenapa aku masih hidup? Dimana teman-teman ku? Apakah mereka semua selamat? Dan dimana pria baj*ngan itu? Aku ingin sekali membunuhnya."


Pertanyaan Rosyi membuat dokter cantik itu mengerutkan dahi. "Mom, mommy sudah 3 bulan koma, kenapa malah jadi berbicara yang tidak-tidak?"


"Hah? Mom?!" Rosyi tentu terkejut.


Bukankah Rosyi masih ada remaja berusia 18 tahun? Sejak kapan ia memiliki anak seorang dokter? Bahkan menikah pun belum.


"Mom, sebenarnya apa yang mommy mimpikan selama 3 bulan ini?" Dokter cantik itu mengusap kepala sang ibu.


Rosyi terdiam, tiba-tiba ia mengingat semaunya.


Rosyi beberapa bulan yang lalu mengalami kecelakaan mobil saat kembali dari rumah ibunya, dan berakhir koma selama 3 bulan.


Dan selama 3 bulan ini, Rosyi memimpikan kejadian masa mudanya yang sangat membekas di hatinya. Kejadian kelam dalam hidupnya yang merenggut orang-orang yang sangat ia sayangi.


Semua teman-temannya tiada dalam tragedi itu, termasuk ayah dan kakeknya. Keduanya meninggal karena di bunuh oleh pamannya, Nathan Freins.


Dari kejadian itu, yang berhasil hidup hanyalah Reyn, Rosyi dan Nathan.


Sedangkan dokter cantik ini adalah anak tunggal dari Reyn dan Rosyi. Namanya Resyi Aerlyn Adhitama.


"Di_dimana ayahmu?"


Tiba-tiba wajah Resyi berubah murung. "Mom, apakah mommy lupa? Ayah telah meninggal 10 tahun yang lalu dalam kecelakaan pesawat."


Seperti tersambar petir disiang hari, Rosyi tak mampu berkata-kata lagi. Air mata sudah membasahi pipinya, Rosyi memeluk dirinya sendiri sambil terisak. "Ke_kenapa bisa seperti ini? Kenapa kisahku tidak bisa Berakhir bahagia seperti kisah-kisah lainnya?"


"Mom." Resyi memeluk sang ibu yang terlihat sangat sedih, wanita itu terlihat sangat rapuh dan itu membuat Resyi sangat khawatir.


...\=\=\=TAMAT\=\=\=...

__ADS_1



Berakhir dengan bahagia ya guys.


__ADS_2