
Vico menatap sang adik tajam. Sedangkan yang ditatap tajam malah terlihat santai seolah tak terjadi apapun.
"Apa maksudmu dengan, kau sengaja? Kau sengaja membiarkannya keluar dari sini?" Tatapan mengintimidasi tak percaya luntur ketika Vico berbicara dengan sosok muda dihadapan nya.
Yang di tanya mengangguk santai, sangat santai hingga punya waktu untuk bermain game.
PLAK...
Nathan terkejut ketika sebuah tamparan tiba-tiba melayang mengenai pipinya. "Apakah kau bodoh Nathan?! Keisha bukanlah gadis yang bodoh, dia anakku! Dia pasti sudah tahu apa yang akan dia lakukan setelah keluar dari sini. Dan kau malah memberinya kesempatan?!"
"Aww... Ayolah kak, jangan berlebihan. Dia pasti keluar hanya membawa kartu kredit dan hp darimu saja, aku bisa menghandle nya."
"Permisi tuan," Seorang pelayan tua memasuki ruangan, dia adalah kepala pelayan yang memiliki izin khusus sehingga bebas keluar masuk ke ruangan manapun.
"Lapor tuan, ternyata nona besar tidak membawa kartu ATM ataupun ponselnya. Beliau hanya membawa uang tunai sebesar 2 jt dolar dan dua buah jam mahal."
Nathan tidak bisa untuk tidak terkejut. Keringat dingin membasahi dahinya ketika Reyn menoleh ke arahnya sambil memasang wajah yang kelewat datar. "Sekarang bagaimana kau akan menghandle nya, adikku."
"Oh tidak, mati aku."
•
•
•
Jay memesankan kamar penginapan untuk Rosyi. Sejujurnya ia masih butuh penjelasan dari gadis itu, namun tak enak jika mereka membicarakan nya di dalam mobil kan.
Kini keduanya sudah berada di dalam kamar milik Rosyi, saling berhadapan dengan sebuah meja kecil sebagai pemisah keduanya.
"Jadi, bisa jelaskan kepada Daddy sekarang?"
Rosyi menghela nafas dalam-dalam, ia tak tahu harus menjelaskan darimana dan bagaimana. "Kita keinti saja ya dad. Zavico Freins itu ternyata ayah kandung ku, aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, tapi kami sudah melakukan tes DNA."
Kening Jay berkerut. "Jika dia adalah ayahmu, lalu untuk apa kamu kabur sampai masuk ke dalam bagasi mobil Daddy?"
"Aku ingin pulang, aku ingin kembali ke ibuku, dan Zavico Freins itu pasti tidak akan membiarkannya. Dia terlihat tidak suka dengan ibuku bahkan mengatakan hal buruk tentangnya, jadi sudah pasti bahwa dia akan menjauhkan aku dari ibuku."
Jay mengangguk paham atas penjelasan yang Rosyi berikan. Zavico Freins, walaupun baru pertamakali bertemu dengan nya, Jay bisa melihat jika Vico adalah laki-laki yang posesif.
Mengingat Rosyi adalah anak satu-satunya bahkan sampai di sebut harta berharga keluarga, sudah pasti Vico dan keluarga Freins yang lain ingin memiliki Rosyi dan tak akan membiarkan Rosyi kembali kepada ibunya.
"Dad..." Rosyi menggenggam tangan Jay yang terlihat sedang berfikir. "Tolong bawa Rosyi ke Singapura buat ketemu mommy, dad," Mohon nya dengan suara lirih.
Jay melirik Rosyi dari ekor matanya. Gadis muda yang berstatus sebagai mantan pacar anaknya itu terlihat menunjukkan raut wajah memelas.
__ADS_1
"Daddy akan membawa kamu ke Singapura, tapi belum itu, kamu harus ikut daddy untuk bertemu dengan Reyn."
Alis Rosyi bertaut, terlihat tak suka. Saat itu juga ia langsung melepaskan genggamannya dari tangan Jay. "Tidak."
"Baiklah, daddy bisa memberitahu tuan Freins jika kamu ada disini, itu mudah."
Rosyi melotot, ia menatap kesal pada Jay. "Kok ngancem?"
"Mau atau tidak?"
Rosyi berpikir sejenak. Ia seolah dihadapkan pada pilihan, hidup dan mati. Jika ia menolak, dirinya akan langsung mati, namun jika ia menerima maka dia akan kembali hidup setelah merasakan panas neraka.
"Baiklah, aku akan menemui Reyn. Tapi setelah itu, daddy harus menepati janji daddy."
"Tentu, aku bukanlah orang yang suka mengingkari janji. Sekarang lebih baik kamu tidur, ini sudah malam." Jay mengusap kepala Rosyi pelan sebelum keluar dari kamar inap gadis itu.
"Ya sudahlah, paling juga cuma bertemu sebentarkan?"
•
•
•
Jay harus sangat berhati-hati ketika membawa Rosyi karena nampaknya anak buah Vico sudah menyebar ke seluruh negeri untuk mencari Rosyi. Bahkan ketika mereka masuk ke dalam bandara, mereka harus melalui pengecekan wajah terlebih dahulu.
Pengecekan ternyata tidak hanya terjadi di pintu masuk bandara. Sebelum naik kedalam pesawat pun mereka kembali di cek.
"Mbaknya, bisa tolong membuka maskernya sebentar untuk pengecekan?"
Jay dan asistennya saling lirik. Keduanya saling bertukar kode hingga akhirnya sang asisten maju untuk memberikan alasan. "Maaf, tapi keponakan tuan saya ini sedang flu, jadi apakah anda bisa mengerti?"
Pegawai wanita itu tersenyum manis, "Saya tentu mengerti, namun nona ini tetap harus di cek."
"Maaf, tadi anda tidak mengerti. Dia_" Rosyi menahan bahu asisten Jay. "Baiklah jika nona ini memaksa."
"Tapi nona..." Asisten Ley menatap Rosyi khawatir, namun Rosyi mengedipkan mata sebagai kode bahwa semua akan baik-baik saja. Jay pun ikut mengangkat, ia percaya kepada Rosyi.
Rosyi berdiri tegap di hadapan wanita itu, lalu membuka masker yang menutupi wajahnya dengan perlahan.
Pegawai wanita itu tercengang melihat wajah Rosyi. "Sa_saya mengerti. Lebih baik anda memakai lagi maskernya dan kalian silahkan masuk."
Pegawai wanita itu bergidik ngeri, wajah Rosyi di penuhi oleh jerawat, sedangkan gigi bagian depannya begitu besar hingga keluar dari area bibir. Mungkin karena kondisi wajahnya itu Rosyi harus selalu memakai masker.
Jay dan asisten Ley tercengang, bahkan sampai ketika mereka duduk di dalam pesawat, keduanya masih memperhatikan Rosyi dengan tatapan tak percaya. "Bagaimana bisa?"
__ADS_1
"Memangnya apa yang tidak bisa aku lakukan?" Sombongnya memainkan jari jemarinya.
"Hebat, aku sampai bergidik melihat wajah mu," Ucap jujur sang asisten.
"Tapi aku tetap cantik kan?" Rosyi mengibaskan rambutnya dengan rasa penuh percaya diri.
"Hahaha, nona, wajahmu terlihat seperti_AKH!" Asisten Ley berteriak keras ketika Jay tiba-tiba mencubit lengannya. "Menantu ku selalu sempurna."
Rosyi langsung menoleh kepada Jay. "Aku sudah tidak bersama anakmu, maaf saja."
"Akan aku pastikan kalian kembali bersama."
"Itu tidak mungkin."
"Kita lihat saja nanti."
Rosyi berdecak lirih menanggapi ucapan Jay barusan.
•
•
•
Setelah berjam-jam berada di pesawat, akhirnya mereka mendatar di bandara Sukarno-Hatta dengan selamat.
Rosyi sangat senang karena akhirnya dia bisa terbebas dari laki-laki yang mengaku-ngaku sebagai ayah kandungnya.
"Ahh... akhirnya keluar dari negara menyebalkan itu." Rosyi menghirup udara Indonesia dengan begitu bahagia, sangking bahagianya sampai tidak menyadari seseorang yang memperhatikannya dari belakang.
"Ponakan cantikku, uncle akan membawamu pulang ke China, tenang saja." Itu adalah Nathan yang ternyata berhasil menemukan Rosyi dan mengikuti keponakannya itu sampai ke Indonesia.
"Ayo, kamu harus menepati janjimu." Nathan segera memasang kembali kacamata hitamnya ketika Jay tiba-tiba datang setelah mengambil koper.
"Ya ya ya, dasar om tua."
"Hey!" Tegur nya.
Rosyi tak peduli dan langsung pergi meninggalkan Jay begitu saja. Pria setengah baya itu menghela nafas pelan. "Aku tidak tahu kenapa aku ingin menjadi gadis gila itu sebagai menantu ku," Monolog nya sebelum pergi menyusul Rosyi.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Nathan Freins
__ADS_1
Selingkuhan, kiw kiw 😉