
BRAK...
"Uhuk...Uhuk..."
Seseorang menendang pintu kamar rumah sakitnya, membuat Nathan yang sedang memakan buah jadi tersedak karenanya.
"Kalau mau masuk tuh ketuk pintu du....lu..." Lirihnya di akhir.
Oh tidak, apakah ini adalah hari terakhir Nathan? Rasanya hari ini akan mati hanya dengan tatapan tajam orang di depan pintu itu.
Padahal Nathan sudah berhasil menghindar darinya selama tiga hari, ini akhirnya hari ini ia tetap di temukan oleh nya.
Siapa lagi dia, kalau bukan Zavico Freins.
"Kamu ingin mati dengan cara apa? Berani-beraninya membawa putri ku keluar rumah dan berakhir kabur." Aura membunuh yang begitu kuat, bulu kudu Nathan sampai merinding.
"Ka_kakak, kok bisa disini? Ayo duduk dulu, kita makan buah bareng," ucap Nathan berbasa-basi, tak lupa senyuman manisnya yang ia tunjukkan, berharap bisa membuat seorang Zavico Freins luluh.
Namun, Zavico tetaplah Zavico, ia tidak suka berbasa-basi. "Katakan, siapa yang membawa dia pergi?"
Nathan mengangkat bahu, "Yah, siapa lagi kalau bukan calon menantu mu."
"Calon menantu? Tidak mungkin, calon menantuku adalah Wildan." Raut wajah Vico terlihat suram.
Mendengar ucapan sang kakak, Nathan hanya bisa menghela nafas. "Memang lebih baik Rosyi melarikan diri."
"Apa maksud mu?!" Vico menatap tajam Nathan.
"Alasan utama mu menemui Rosyi bukan karena kamu merindukan atau ingin bersama dengannya bukan? Kamu ingin menjadikan Rosyi seperti dirimu."
"Apa maksud ucapan mu Nathan? Jangan asal bicara!"
"Aku sudah tahu segalanya! Jangan mengelak. Kakak itu benar-benar egois! Kakak ingin menikahkan Rosyi dengan Wildan karena ingin merampas seluruh kekayaan dan kekuatan keluarga si tua itukan?! Kakak ingin menjadikan Rosyi pembunuh keji di usia muda, sama seperti yang terjadi pada dirimu dulu!" Nathan muak, ia tidak akan takut lagi, maka biarkan ia bicara hari ini.
"Sejak usia mu 18 tahun, kamu sudah membunuh banyak musuh dan saingan bisnis keluarga karena tekanan dari ayah. Dan kamu ingin putri mu melakukan hal itu juga?! Aku tidak akan setuju!"
__ADS_1
Vico diam dengan ekspresi datar, ia terlihat tak terkejut karena Nathan mengetahui hal itu.
"Kau menjadi berdarah dingin karena hal ini, dan aku tidak mau Rosyi juga seperti itu. Dia boleh membunuh hanya demi keselamatannya, tidak boleh seperti mu yang membunuh demi kekuasaan dan iri hati."
Sisi gelap keluarga Freins adalah mereka tidak menjadi pebisnis nomor satu di China hanya karena kemampuan mereka saja. Semua yang mereka dapatkan dan capai sekarang juga dengan menggunakan beberapa trik kotor.
"Adikku sayang, hal seperti ini sangat biasa di dunia bisnis. Jika kau tidak membunuh lebih dulu, maka kau yang akan dibunuh." Nathan tak habis pikir, bagaimana Vico bisa mengatakan hal itu dengan ekspresi datar seolah membunuh hanyalah masalah kecil.
"Jika kakak bersikeras ingin Rosyi masuk ke dunia yang sama sepertimu, maka aku akan menentang mu." Nathan mengatakan itu dengan penuh keyakinan dan keberanian.
"Nathan, kamu tau apa yang baru saja kamu ucapkan itu?" Lagi-lagi tatapan mengerikan ini, namun Nathan tidak akan takut.
"Kakak, kamu dan ayah bisa menekan ku sesuka hatimu. Tapi Rosyi? Apakah kalian begitu tega melakukan nya?" Nathan tahu betul bagaimana rasanya hidup dalam tekanan, dan ia tak akan membiarkan keponakan satu-satunya merasakan hal yang sama.
Dimata semua orang, mungkin menjadi anggota keluarga Freins adalah sebuah keberuntungan yang luar biasa. Namun nyatanya tidak.
Keluarga Freins adalah labirin kejahatan, sekali kamu masuk, maka akan sulit untuk keluar.
"Tega? Cih, tentu saja tega. Semua anggota keluarga Freins haruslah kejam, licik dan berdarah dingin."
•
•
•
Rosyi dan lainnya tengah berada di bandara untuk menjemput Amira, Liam dan Andrew yang baru saja kembali dari China setelah beberapa hari bersembunyi dari anak buah Nathan, atau lebih tepatnya anak buah keluarga Freins.
"Kalian bertiga baik-baik saja kan? Apakah mereka berhasil menemukan kalian?" Tanya Nadia dengan nada khawatir.
"Nadia-ku sayang, kalau mereka menemukan kami, pasti kami tidak akan ada disini sekarang. Dan kamu baik-baik aja kok, jadi lo tenang aja."
"Tapi Ra, kok kalian lama banget baliknya? Emang seketat itu ya?" Rosyi penasaran, apakah pengaruh keluarga Freins memang sebesar itu di China hingga kepulangan Amira dan yang lainnya tertunda begitu lama.
"Gila sih Ros. Gue gak nyangka kalau paman lo segila itu. Maksudnya, kami itu udah sembunyi di pulau terpencil, tapi bisa-bisanya mereka masih nyari kami ke tempat itu. Kami kabur lah ya sampai ke negara tetangga. Setelah beberapa hari, kami baru bisa balik kesini."
__ADS_1
Amira tidak tahu saja, sebenarnya orang-orang yang mengejarnya itu adalah orang suruhan Kelvin dan Vico, bukan orang suruhan Nathan.
"Rosyi ada di Indonesia, cepat atau lambat Zavico Freins pasti bakal nyuruh orang buat kesini nangkap Rosyi."
"Bener kata lo Reyn, gue juga mikir gitu," ucap Orion membenarkan.
"Lalu sekarang kita harus gimana?" Ini Andrew yang bertanya.
"Mending jangan di bahas disini, ayo kita ke rumah Reyn buat bahas masalah ini," usul Liam melihat sekitar, takutnya ada mata-mata keluarga Freins disana.
Paham maksud Liam, mereka semua pun bergegas pergi dari sana, namun dengan sikap yang berusaha biasa saja supaya tidak ada yang curiga.
"Aku harus melapor pada tuan sekarang."
Woah, sepertinya kecurigaan Liam benar. Ada seseorang yang mengawasi mereka. Orang itu menggunakan pakaian casual, perawakannya dan tingkah lakunya juga biasa saja, benar-benar mata-mata profesional.
•
•
•
Beberapa hari melakukan pengobatan, Tari sekarang sudah jarang kambuh. Jika biasanya ia akan langsung marah-marah atau ketakutan ketika melihat seorang laki-laki lebih dari 1 jam, maka sekarang ia merasa biasa saja. Namun, Tari tetap merasa takut jika ada laki-laki yang menyentuhnya secara langsung.
Puk...
Seseorang menggenggam tangan nya, membuat Tari terkejut. Ia hampir saja memukul sang pelaku namun tangannya di tahan tepat waktu oleh orang tersebut.
"Aku sudah menyentuh tanganmu, apakah terjadi sesuatu yang memicu trauma mu?" Tanya Vico dengan senyuman lembut nya.
Tari tertegun melihat senyuman Vico yang begitu menawan, tanpa sadar pipinya memerah. "Ti_tidak, jika itu kamu, sepertinya tidak."
"Wah, benarkah? Aku merasa tersanjung." Ya tuhan, tolong selamatkan Tari. Kenapa laki-laki ini begitu tampan? Bikin jantung gak aman aja.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
__ADS_1
Makin gajelas anjir.