
Rosyi salah besar jika ia berpikir bahwa ia sekarang sudah benar-benar bisa kabur dari Nathan, nyatanya sekarang laki-laki itu malah mengejar helikopter mereka dengan helikopter miliknya sendiri.
Bukan hanya helikopter, dari bawah pun ada banyak polisi yang Nathan perintahkan untuk menembaki helikopter milik Rosyi dan teman.
"WOY ANDREW! LO KALAU NERBANGIN HELIKOPTER BISA YANG BENER DIKIT GAK? GUE HAMPIR JATOH NIH." Amira marah-marah pada Andrew yang tengah menerbangkan helikopter itu, pasalnya ia hampir saja terjatuh dari helikopter, untung Liam sigap menangkap nya.
"Udah, lo duduk anteng aja di belakang. Ini polisi pada nembak kesini, jadi harus hati-hati."
Andrew terlihat sangat serius menjalankan helikopter itu sampai akhirnya helikopter milik Nathan berhasil menyusul mereka.
Nathan melompat masuk ke dalam Helikopter milik Rosyi dan teman-teman hingga membuat helikopter itu sedikit oleng, untung Andrew sigap.
"Heh!! Kalau mau lompat kesini tuh bilang-bilang dong anjing! Ini kalau gue jatoh ke bawah gimana?!" Kali ini Liam yang mengomel, karena hampir saja ia terjatuh tadi.
Nathan mengabaikan protesan Liam, ia menatap tajam semua orang yang ada di dalam helikopter itu.
"Rosyi dimana?" Suara dingin Nathan sama sekali tidak membuat mereka takut, malah Amira menyunggingkan senyuman miring.
Melihat senyuman Amira yang seperti itu, Nathan lantas terkejut ketika ia paham bahwa dirinya baru saja terkena umpan anak-anak remaja itu.
"S*al," umpatnya lalu melompat keluar dari helikopter itu.
Amira segera berdiri di ambang pintu helikopter, ia menodongkan pistol ke arah bawah. "Maaf paman yang tampan, aku terpaksa melakukan ini."
DOR...
Nathan sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menarik parasut ataupun menghindar ketika tembakan Amira tepat mengenai kaki kanannya.
Amira memang sengaja menembak kaki kanan Nathan, aku tak akan membunuh laki-laki itu karena bagaimanapun Nathan adalah paman kandung Rosyi.
DOR...DOR...DOR...
Tiga tembakan lagi untuk satu kaki dan dua tangan Nathan yang lain, Amira harus memastikan laki-laki itu dirawat di rumah sakit lebih dari 5 hari.
Setelah menyelesaikan tembakan nya, Amira pun kembali duduk di bangkunya. "Lebih cepat lagi, kita jangan ke bandara, lebih baik kita cari tempat persembunyian dulu."
Andrew pun menuruti ucapan Amira, ia membawa helikopter itu pergi ke sebuah pulau terpencil yang ada tak begitu jauh dari sana.
Ngomong-ngomong, mereka hanya bertiga, sedang Rosyi dan yang lainnya sedang...
__ADS_1
•
•
•
...*Bandara*...
Hebat, hanya itu yang bisa Reyn katakan tentang ayahnya sekarang. Dalam waktu semalam, Jay telah membeli bandara dan jet pribadi di China demi kelancaran rencana mereka.
Kini Reyn, Rosyi, David, Nadia dan Orion sudah berada di dalam pesawat, mereka sudah dalam perjalanan menuju Indonesia.
Untung saja ada orang-orang Jay di negara ini, jika tidak, mungkin mereka sama sekali tidak akan memiliki kesempatan untuk kabur.
"Sekarang bagaimana dengan Amira, Liam dan Andrew? Apakah mereka akan baik-baik saja?" Nadia khawatir pada ketiga temannya yang sayangnya sedikit sengklek itu.
"Lo gak usah khawatir Nad, mereka pasti baik-baik aja. Walaupun sengklek, Andrew itu jago banget nerbangin helikopter. Amira sama Liam juga bisa jaga diri kok, mereka kan bawa senjata juga." Rosyi menepuk bahu Nadia untuk menenangkan nya.
Rosyi khawatir, tentu saja ia khawatir. Tapi, Rosyi percaya, teman-temannya itu pasti bisa menjadi diri mereka.
Setelah ini, Rosyi akan sangat berterimakasih kepada ketiga temannya itu, karena mereka sudah mau berkorban demi dirinya.
•
•
•
Luka pada kedua tangan dan kakinya sama sekali bukan masalah besar bagi Nathan, karena yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana ia menjelaskan semua ini kepada ibunya.
Nathan sudah berjanji kepada Arin bahwa ia dan Rosyi akan pulang besok, tapi sekarang ia malah berbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Ting...
Belum selesai Nathan memikirkan masalahnya, ponsel pintar miliknya tiba-tiba menunjukkan notifikasi pesan.
"Ambil benda itu, tunjukkan padaku," perintahnya pada anak buah yang selalu ada didekatnya.
"Baik bos." Anak buah itu langsung melakukan apa yang Nathan perintahkan.
__ADS_1
Mata Nathan langsung melebar ketika melihat layar ponselnya yang menunjukkan pesan masuk dari Vico.
...My Brother...
Lusa aku akan pulang dan membawa calon kakak iparmu, jangan lupa persiapkan pesta penyambutan untuk kami.
Semakin komplit sudah kesialan Nathan hari ini.
•
•
•
Akhirnya Rosyi dan teman-temannya sampai di bandara pribadi keluarga Adhitama. Mereka langsung berangkat ke kediaman keluarga Reyn setelah mendapatkan Taxi.
Flo tentu sangat senang melihat anak dan calon menantu idamannya kembali dengan selamat. "Reyn...Rosyi..." Di peluknya kedua remaja itu dengan erat.
"Akhirnya Reyn bisa bawa Rosyi kembali ke Indonesia, mommy kangen banget sama kamu Ros." Tanpa sadar Flo menetaskan air mata.
Rosyi tentu membalas pelukan Flo tak kalah erat, ia juga merindukan wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya itu.
Puas berpelukan dan melepaskan rindu, mereka pun lanjut makan malam karena Flo tahu, mereka semua pasti butuh makan setelah penerbangan yang cukup lama.
"Tante Flo emang paling tahu. David itu suka mabuk kalau makan di pesawat, jadi laper banget deh." David makan dengan begitu lahap, seperti orang yang sudah tidak dikasih makan selama 2 tahun aja.
"Iya, Tante jelas tau dong, Reyn juga kan suka mabuk kalau makan di pesawat." Flo terkekeh pelan.
"Ngomong-ngomong, Amira sama pacar nya mana? Kok mommy gak liat?" Flo menatap sang anak penuh tanya.
"Itu mom, Amira sama yang lainnya bakal pulang nanti, mereka masih pengen jalan-jalan disana katanya." Reyn dan Rosyi, benar-benar pasangan yang sangat ahli dalam hal berbohong, bahkan Flo, ibu kandung Reyn pun tidak bisa membedakan mana Ryan yang berbohong dan mana Reyn yang jujur.
"Oh, ya sudah kalau begitu." Flo percaya saja dengan apa yang Reyn ucapkan.
"Ngomong-ngomong lagi, Rosyi nginep disini kan?" Flo menatap Rosyi, tatapan penuh harap karena ia sangat berharap kalau Rosyi akan tinggal di rumahnya.
"Sebenarnya Rosyi mau banget mom, tapi kayaknya enggak deh. Rosyi mau ke rumah Orion, karena tantenya Rosyi sudah sangat merindukan Rosyi, maaf ya."
"Oh, begitu. Tidak masalah, memang lebih baik kamu tinggal di rumah keluarga kamu saja. Mommy ngerti kok sayang." Flo mengusap kepala Rosyi pelan, ia paham kok, Rosyi masih memiliki keluarga yang menyayangi nya dan itu membuat Flo sedikit lega.
__ADS_1
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Aku bakal buat cerita tentang Alpha, Beta dan Omega guys, tapi gak sekarang.