Brandal Couple

Brandal Couple
* I'm Here


__ADS_3

Rosyi nampak kebingungan, bukankah Jay akan membawa Rosyi untuk bertemu Reyn? Lalu kenapa mereka malah datang ke rumah sakit alih-alih rumah mewah Jay.


"Ngapain kesini? Daddy mau berobat? Bagus sih kalau daddy mau berobat, itu berarti daddy sadar diri."


"Heh! Enak aja kalau ngomong. Kita kesini ya buat ketemu Reyn lah."


Yang lebih muda menatap yang lebih tua dengan tatapan bingung. "Reyn ada disini? Dia sakit?" Rosyi menunjuk ke arah gedung besar itu.


Jay mengangguk. "Dia demam tinggi, itu karena kamu."


"Dih, Fitnah." Rosyi menghindar ketika Jay akan merangkul nya.


"Terserah kamu mau percaya atau gak, yang penting sekarang kita harus masuk." Pria bertubuh besar itu mengapit leher Rosyi di antara lengan dan ketiaknya dan menyeret gadis itu masuk.


Sosok yang sejak tadi mengikuti mereka hampir saja keluar dan menembak Jay dengan pistol saat melihat apa yang pria itu lakukan kepada harta berharga keluarga nya. "Oh my god, my niece!"





Seluruh murid SMA Tunas Harapan nampak bertanya-tanya, kenapa akhir-akhir ini Reyn tidak pernah datang ke sekolahan sejak hari itu?


Sebagian dari mereka ada yang berspekulasi bahwa Reyn pindah sekolah dan menyusul Rosyi, namun yang lainnya juga berpikir bahwa Reyn hanya sedang berlibur seperti yang biasa ia lakukan. Mengambil cuti 1 bulan untuk berlibur diluar negeri.


Namun tak ada yang tahu jelas tentang apa yang terjadi dengan ketua dari Handsome3 itu. Para anggotanya pun bungkam jika ditanya tentang Reyn.


"Kemana Reyn? Kenapa aku tidak bisa menemukannya?! KENAPA KALIAN DIAM?!" Cecilia marah, sudah berhari-hari ia menanyakan hal yang sama namun sampai sekarang ia belum mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.


Sebenarnya bukan hanya Cecilia, namun pacar dan para fans Reyn yang lain juga sudah mulai tak terkendali karena tak ada kejelasan tentang keberadaan Reyn.


"Reyn lagi ada urusan, jadi dia gak datang ke sekolahan beberapa hari ini, Puas lo?" Amira menatap tajam salah satu pacar Reyn itu.


"Terus kenapa nomornya gak bisa dihubungi?"


Amira melipat tangan di bawah dada lalu tersenyum miring. "Nomornya tidak bisa dihubungi? Itu berarti kau tidak memiliki nomor private nya. Nomor pribadi nya sudah di buang, karena itulah nomornya tidak bisa di hubungi."


"Itu tidak mungkin! Aku spesial, dia memberikan nomor yang berbeda dari yang dimiliki pacarnya yang lain!" Elak Cecilia tak terima.


"Aduh, nasi goreng kalik spesial." David tertawa ketika Cecilia malah menatap nya kesal.

__ADS_1


"Nomor yang berbeda? Dia punya nomor yang berbeda untuk setiap pacar nya yang beda sekolah. Jadi jangan merasa spesial karena dia memberimu nomor yang dia berikan kepada pacarnya yang dari luar SMA Tunas Harapan."


Amira tersenyum, terlihat sangat meremehkan dan Cecilia tidak menyukainya. "Cepat katakan dimana Reyn, atau ayah ku akan menghancurkan keluarga kalian!!"


"Ouh, ancaman yang menakutkan. Aku jadi merinding." Amira pura-pura terlihat takut, lalu tertawa bersama teman-temannya.


"Kalau ayah lo hebat, suruh aja dia buat cari tahu." Amira menatap Cecilia penuh intimidasi. "Udah, yuk guys, balik ke kelas. Muak gue liat bahan pelarian disini, ups..."


Sepupu Reyn itu tersenyum penuh kemenangan ketika ia melihat raut wajah kesal Cecilia.




TING...


Baru beberapa langkah mereka meninggalkan kantin, tiba-tiba suara notifikasi ponsel dari ponsel Amira terdengar.


Gadis itu segera mengambil ponselnya dan membuka aplikasi WhatsApp untuk membaca pesan yang baru saja Jay kirimkan.


^^^^^^Rich Uncle^^^^^^


^^^Kerumah sakit, Aku berhasil membawa Rosyi.^^^


"Woy! gak usah teriak njir, orang deket juga," protes David, pasalnya yang berdiri tepat di samping Amira dan suara gadis itu sangat kencang hingga hampir membobol gendang telinganya.


"Kalian lihat ini." Mengabaikan protesan David tadi, Amira menunjukkan pesan yang Jay kirimkan kepada mereka semua.


"Ini beneran?" Nadia hampir saja menangis, ia sudah sangat merindukan Rosyi.


Amira mengangguk yakin. "Uncle Jay gak mungkin bohong."


"Ya udah, kita langsung kesana aja. Nanti gue kasih tahu Orion juga," ucap Liam. Mereka pun langsung berbondong-bondong berlari menuju parkiran sekolah.





Cklek...

__ADS_1


Pintu ruang VIP itu terbuka perlahan. Rosyi dan Jay mulai berjalan masuk. Di dalam sana ada Flo yang nampak terkejut dengan kedatangan Rosyi dan ada Reyn yang sepertinya masih tertidur.


"Rosyi?" Wanita dewasa itu berdiri dari duduknya, berjalan mendekati Rosyi dan langsung memeluk gadis itu dengan erat. Linangan air matanya tak tertahan lagi.


Rosyi membalas pelukan Flo tak kalah erat, sejujurnya ia juga merindukan Wanita itu.


Flo melepaskan pelukan mereka setelah dirasa cukup. "Kamu kemana aja sayang? Kamu baik-baik saja kan?"


"Ceritanya panjang mom. Rosyi baik-baik aja kok, mommy jangan khawatir." Rosyi mengusap air mata yang mengalir di pipi Flo dengan lembut.


Atensi gadis itu beralih dari yang menatap Flo menjadi melihat kearah Ryan yang terlihat mengkhawatirkan. "Reyn kenapa mom?"


"Reyn, dia demam tinggi. Sepertinya dia merindukan mu dan dia juga menyesal atas apa yang dia lakukan. Sejujurnya mommy ingin marah kenapa dia bisa melakukan itu, tapi melihat keadaan nya sekarang, mommy jadi tidak tega."


Hati Rosyi menjadi sakit ketika matanya melihat dua selang infus di kedua tangan Reyn.


"Reyn tidak mau makan dan minum obat, dia selalu berkata jika dia akan makan hanya dari tangan mu. Sangat susah membujuk dia untuk makan hingga dokter harus memasang dua infus sekaligus." Air mata Flo lolos begitu saja, hatinya begitu sakit melihat kondisi sang anak.


Rosyi memeluk Flo, ia tahu benar apa yang wanita itu rasakan. Walaupun ia belum menjadi seorang ibu, Rosyi tahu kok sakitnya hati seorang ibu ketika melihat kondisi anaknya yang tidak bisa di katakan baik. Rosyi sering merasakannya ketika sang ibu sedang drop.


"Emh...Rosyi...Rosyi, maaf... Jangan pergi." Nampaknya Reyn mulai mengigau, lagi.


Mendengar namanya di panggil, Rosyi pun melepaskan pelukannya dengan Flo dan langsung menghampiri Reyn ke sisi ranjang.


Di genggam nya tangan sang mantan kekasih dengan lembut. "Aku disini Reyn. I'm here, get up, open your eyes."


Perlahan mata tajam itu terbuka, menatap ke arah Rosyi dengan sayu. Kantung matanya terlihat sangat jelas dan hitam.


"Rosyi?" Apakah Reyn tengah bermimpi? Jika iya, maka tolong jangan bangunkan ia untuk waktu yang lama.


"Yes, i'am."


"Aku gak mimpikan? Kamu disini?" Reyn terlihat takut, takut jika apa yang ia lihat ternyata hanyalah mimpi atau khayalan nya.


Rosyi menggeleng dengan air mata yang mulai berjatuhan. "Yes, this is me. I'm here, i'm here with you."


Reyn menggenggam tangan Rosyi erat. "I'm sorry, don't go again, i can't do it without you." Reyn memohon, ia benar-benar tidak bisa tanpa Rosyi, ia tak mau gadis itu pergi darinya lagi.


"Aku tidak akan pergi, aku akan disini bersamamu.".


"Sorry, but i don't promise."

__ADS_1


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...



__ADS_2