
Nathan yang sadar jika mobil nya diikuti pun langsung menyuruh Rosyi untuk ngebut. Ya, mobil milik Nathan sekarang di kendarai oleh Rosyi karena mereka akan mencoba untuk balapan di jalan.
"Ngebut, cepetan! Cepetan ngebut!!" Teriak laki-laki itu panik ketika mobil Reyn hampir menyusul mereka.
"Lo kenapa sih? Kita belum sampai di garis start nya."
"Di belakang ada mobil musuhnya bang Vico, jadi mendingan lo ngebut sekarang."
Rosyi yang memang merasa sudah dekat dan percaya dengan Nathan pun nurut-nurut aja, ia melajukan mobil itu dengan kecepatan penuh.
Reyn yang melihat mobil Nathan menambah kecepatan pun langsung tancap gas untuk segera menyusul.
"Kayaknya dia nantangin kita nih, gimana? Mau nunjukin skill balapan lo gak?" Ucap Nathan memprovokasi.
"Boleh." Merasa tertantang, Rosyi langsung melakukan apa yang Nathan inginkan.
"Sorry Ros, uncle gak bermaksud buat bohongin kamu, tapi ini demi kebaikan kamu dan keluarga kita."
•
•
Kedua mobil itu saling kejar mengejar, jalanan yang lenggang membuat mereka semakin lancar melakukan aksi mereka itu.
Nathan menyandarkan kepalanya pada punggung jok mobil, menikmati balapan yang sedang terjadi. Namun tiba-tiba terjadi sesuatu yang membuat matanya membelalak lebar.
CKIITTTT....
Rosyi menginjak rem mendadak karena mobil Reyn tiba-tiba sudah menyalip dan menghadang jalannya.
"Wah, minta di hajar nih orang." Rosyi hendak turun dari mobil namun Nathan menahannya.
"Udah, mending kita pergi sekarang."
"GAK! Gue harus kasih pelajaran sama orang itu." Rosyi dengan amarah yang menggebu-gebu langsung keluar dari mobil, menghampiri mobil di depan nya dengan raut wajah yang tidak bersahabat.
"Oh tidak, matilah aku," Gumam Nathan frustasi.
Nathan segera keluar dari mobil dan menarik tangan Rosyi untuk kembali masuk, namun sayangnya, ada tangan lain yang menahan tangan Rosyi.
"Lepaskan dia." Perintah Reyn yang sedang menahan tangan Rosyi.
Rosyi yang melihat Reyn ada disana pun terdiam, ia merasa jika semua ini tak nyata, pasti ini hanya sebuah mimpi saja. Namun sayangnya, genggaman di tangan nya ini terasa sangat nyata untuk di sebut sebuah mimpi.
"Seharusnya kau yang melepaskan dia, aku Paman nya, sedangkan kau siapa?"
__ADS_1
Reyn terdiam, benar juga, dia siapa? Dia hanya mantan pacar yang pernah menyakiti Rosyi, tapi... "Aku tidak akan melepaskannya karena aku mencintai Rosyi, perjuangan ku belum selesai!!"
"Bodoamat udah selesai atau belum perjuangan Lo, Rosyi harus pulang sekarang." Nathan menarik tangan Rosyi.
Reyn tidak balas menarik tangan Rosyi, ia malah memeluk gadis itu erat, gadis yang masih terdiam kaku karena shock.
*Grep...
Pelukan itu membuat Rosyi tersadar dari lamunannya. Ia menatap Reyn dalam, bagaimana tatapan laki-laki itu begitu tegas ketika mengatakan bahwa ia akan mengambil Rosyi dari keluarga Freins. Reyn terlihat sangat berani tanpa ada ketakutan di dalam matanya.
BUGH...
"AKHH...ROSYI?" Reyn menatap Rosyi tak percaya akan apa yang baru saja gadis itu lakukan.
"Kenapa bengong? Ayo pergi." Rosyi segera menarik tangan Reyn dan membawa laki-laki itu untuk masuk ke dalam mobil.
Rosyi menjalankan mobil itu dengan kecepatan penuh meninggalkan Nathan yang berguling-guling di tengah jalan karena benda kebanggaan nya baru saja mendapatkan tendangan maut dari Rosyi.
"YAK! AKU AKAN MEMINTA AYAHMU BERTANGGUNG JAWAB JIKA SAMPAI MASA DEPAN KU RUSAK!" Teriaknya penuh kekesalan dan kesakitan.
•
•
•
Semua orang yang ada disana terdiam membeku, masih tak percaya. Padahal baru beberapa saat lalu mereka mengeluh mengkhawatirkan Reyn dan tiba-tiba laki-laki itu sudah kembali dengan membawa Rosyi.
"Hai semuanya, kangen gue gak nih? Kok pada diem."
Sedetik kemudian Nadia dan Amira langsung berhamburan memeluk Rosyi dengan erat. "Rosyi, kami kangen banget sama kamu."
"Gue kangen banget sama lo Ros, akhirnya kita ketemu lagi." Amira hampir saja menangis, apalagi ketika Rosyi mengusap belakang kepalanya sambil berkata bahwa ia juga merindukan mereka.
"Heh! Gantian dong anjir!" Orion menarik kedua gadis itu mundur.
"Sepupu kesayangan gue!!!" Orion memekik terlebih dahulu sebelum memeluk Rosyi erat. "Syukur deh lo udah ketemu, mommy sama Novi nyariin Lo terus tahu. Mereka semua khawatir.
"Iya, sekarang gue udah sama kalian kan. Besok kita langsung balik ke Indonesia. Gue udah kangen sama orang-orang disana."
"Iya, besok kita langsung balik, gue udah pesen tiketnya," Sahut Liam.
Andrew hanya diam, ia senang karena Rosyi sudah ketemu.
Rosyi dan Orion melepaskan pelukan mereka. Rosyi melihat satu persatu orang yang ada disana, lantas terdiam ketika melihat Andrew.
__ADS_1
Sadar di tatap, Andrew pun tersenyum dan merentangkan tangan. "Pelukan?"
Rosyi melirik Reyn, takut jika mantan kekasihnya itu akan cemburu. Namun tanpa disangka, Reyn malah mengangguk, memperbolehkan.
Reyn sadar posisi, disini ia bukan lagi pacar Rosyi yang bisa melarangnya dekat dengan siapapun itu, apalagi Andrew adalah teman mereka. Ya, kini Andrew menjadi bagian dari mereka karena sekarang mereka bukan lagi Handsome3, tetapi 5Fingers yang saling melengkapi dengan adanya Orion dan Andrew
•
•
•
Nathan tidak berani pulang kerumah, ia takut jika sang ibu menanyakan keberadaan Rosyi, ia tak tahu harus menjawab bagaimana nanti. Untungnya, Vico baru saja terbang ke Singapura siang tadi.
Arin berulangkali menelfon Nathan namun anaknya itu sama sekali tak menjawab panggilan telfon nya.
"Gue harus ngomong apa lagi sama nyokap sekarang? Bisa mati gue kalau mommy tahu yang sebenarnya."
"AKH! Gue harus cari alasan apa coba?!" Nathan menarik rambutnya frustasi, ia sudah kehilangan ide untuk membohongi sang ibu lagi.
Nathan sungguh menyesal karena mengiyakan ajakan Rosyi untuk pergi ke arena balap, seharusnya ia tetap membiarkan keponakannya itu terkurung di rumah hingga ia benar-benar telah menyelesaikan Reyn dan yang lainnya.
•
•
•
Arin mondar-mandir sambil terus mencoba menghubungi Nathan dan berakhir laki-laki itu mematikan ponselnya.
"Nathan ini apa-apaan sih? Kalian juga, apakah kalian tidak melihat kemana perginya mereka?" Kesal Arin.
Seluruh bodyguard hanya bisa menunduk, begitu juga Riani dan Rania.
"Kami sudah mengikuti mereka dari belakang, namun tuan muda mengendarai mobil dengan sangat cepat nyonya." Rania memberanikan diri untuk buka suara.
"Ah, anak itu. Nathan jika sudah bertemu mobil dan jalanan benar-benar tidak bisa mengendalikan diri, sama seperti ayahnya." Arin memijat pangkal hidung nya lelah.
"Baiklah, saya ingin istirahat, jika mereka pulang nanti tolong kasih tahu saya."
"Baik nyonya."
Mereka semua membungkuk ketika Arin berlalu pergi.
"Sebenarnya kalian kemana?" Tak bisa Rania pungkiri jika ia juga sangat mengkhawatirkan Nathan dan Rosyi.
__ADS_1
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...