Brandal Couple

Brandal Couple
*Chapter 44


__ADS_3

Sudah berhari-hari Nathan di kurung didalam penjara berdarah, dan selama itu pula Rania selalu mengantarkan makanan diam-diam untuk Nathan.


Didalam penjara darah, Nathan memang di beri makan, tapi makanannya sungguh, sangat tidak layak. Makanan yang di berikan adalah makanan sisa hari kemarin yang sudah hampir basi, bahkan ada yang basi. Rania tentu tidak akan tega jika Nathan hanya makan makanan itu setiap hari, terlebih laki-laki itu hanya di beri makan sehari sekali.


"Hai, aku kali ini buatin nasi goreng dengan telur. Makan siang kali ini udah habis semua, nanti malam tuan besar, nyonya besar, tuan Vico dan nyonya Tari akan pergi keluar. Mungkin besok kamu tidak akan mendapatkan makanan. Tapi tenang saja, aku bakal masakin kamu makanan kok."


Nathan tersenyum dengan tulus. "Terimakasih, aku memang tidak salah memberikan hatiku padamu."


Nathan benar-benar pandai berkata-kata, Rania saja sampai tak bisa menyembunyikan semburat merah di pipinya.


"Kamu cepet makan gih, biar piringnya bisa langsung aku bawa balik." Rania mengalihkan pandangan, tak mau menatap Nathan yang tengah menatapnya dalam.


Sumpah ya, Nathan itu ganteng banget. Padahal penampilan nya itu lusuh banget, tapi tetap saja tidak merubah ketampanan Nathan yang paripurna tiada tara.


"Kamu sakit Ran? Kok pipinya merah banget." Nathan bukannya tidak tau apa yang membuat pipi Rania memerah, ia hanya sengaja ingin menggoda gadis itu.


"Ng_nggak, mungkin karena disini panas aja." Rania panik, namun malah terlihat menggemaskan di mata Nathan.


"Imutnya calon istriku." Nathan terkekeh gemas melihat Rania yang malah salah tingkah.





Kurang dari seminggu mereka berlatih, dan sebagian dari mereka sudah sangat ahli memainkan senjata dan berkelahi dengan tangan kosong.


Dor...Dor...Dor...


"AAA...AKU NEMBAK ORANG!" Dan ada juga sebagian dari mereka yang takut menyerang karena tidak ingin melukai orang lain, contohnya seperti Nadia dan David.


"Nad, ayolah. Anggap mereka musuh, gapapa kalau lo nyakitin mereka. Kalau perlu bunuh aja sekalian, tapi kalau bisa gak usah di bunuh juga sih," Nasihat Reyn.

__ADS_1


Reyn jujur tidak suka adegan berdarah yang bisa membunuh orang-orang yang tidak bersalah, tapi jika ia menghadapi situasi yang memaksanya untuk melakukan itu, maka apa yang bisa ia lakukan selain melawan?


Sedangkan itu, Rosyi sendiri hanya diam menatap alat-alat latihan mereka. Entahlah, hari ia sama sekali tidak memiliki semangat untuk berlatih.


"Ros." Amira menghampiri Rosyi yang sepertinya terlihat sedih, ia tak tahu apa yang mengganggu sahabatnya itu sekarang.


Rosyi hanya melirik Amira sebentar, lalu kembali menatap kosong alat-alat itu.


"Lo kenapa? Ada masalah? Coba deh cerita sama gue, siapa tau gue bisa bantu."


Yang ditanya hanya menggeleng. "Gue kangen nyokap, Ra. Kira-kira dia kangen sama gue juga gak ya?"


"Ya pasti dong, Ros. Kalian udah 5 bulan lebih gak ketemu, pasti dia kangen juga sama lo. Ya, tapi mau gimana lagi, keadaan sekarang gak memungkinkan buat kita antar Lo ke Singapura."


Rosyi kembali menoleh ke arah Amira, ia membuka mulut seolah ingin mengatakan sesuatu, namun kembali diam sebelum sempat mengucapkan apapun.


Menghela nafas pelan, Rosyi menunjukkan layar ponselnya pada Amira. "Dia gak ada di Singapura."


"Ini beneran? Nyokap sama bokap lo bakal nikah?"


Rosyi mengangguk, namun raut wajahnya sama sekali tidak terlihat senang, bahkan malah terlihat sedih.


"Lo gak seneng Ros? Kalau mereka nikah, lo kan bakal punya keluarga yang lengkap."


"Gak tau, Ra. Entah kenapa gue ngerasa kalau bokap gue tuh bukan orang baik. Gue gak yakin dia bisa jadi suami yang baik buat mommy."


Amira hanya mengangguk, setelah nya mereka berdua hanya terdiam, entah memikirkan apa.


"Ros, bukannya lo bilang kalau nyokap lo punya trauma ya? Kok bisa dia mau nikah sama bokap lo."


Oh iya, Rosyi baru ingat. Ibunya kan memiliki trauma pada semua laki-laki tak terkecuali Zavico Freins, karena laki-laki itu adalah penyebab trauma Tari.


"Apa jangan-jangan, trauma ibu lo udah sembuh? Kalau iya, mungkin aja bokap lo itu orang baik. Buktinya dia bisa bantuin ibu lo sembuh dari trauma nya."

__ADS_1


Rosyi hanya diam, ia masih belum rela membiarkan orang tuanya menikah. Hati kecilnya berkata bahwa Vico bukannya orang baik.





Malam ini adalah malam pertunangan Vico dan Tari. Pertunangan itu di adakan di sebuah hotel bintang lima yang sangat terkenal di China.


Pertunangan seorang CEO dari perusahaan nomor satu di China itu tentu saja membuat heboh dunia Maya.


Pertunangan yang di adakan dengan mewah itu bahkan mengundang begitu banyak wartawan untuk meliput nya dan sekarang beritanya sudah sampai dimana-mana dan menjadi trending topik di Twitter dan Weibo.


"Mulai hari ini, aku menyerahkan hidup ku padamu. Aku berharap kamu tidak akan mengecewakan aku."


Vico tersenyum, ia mengecup dahi Tari dengan sayang. "Aku berjanji bahwa aku tidak akan pernah mengecewakan kamu."


Arin yang mendengarnya pun tiba-tiba terdiam, senyuman yang ada di wajahnya luntur seketika. "Kamu bahkan sudah mengecewakan, Vico."


"Ehem!" Suara deheman Kelvin yang saat ini tengah merangkul sang istri membuat Arin terkejut. "Jaga ekspresimu, seluruh kamera sedang menyorot ke arah kita sayang," bisik Kelvin dengan senyuman palsu yang menawan.


Arin tidak berani menatap sang suami sama sekali, ia lebih memilih kembali memperhatikan anak dan calon menantunya sambil tersenyum. Yah, tersenyum untuk sebuah formalitas.


Jujur, Arin sangat senang jika Vico dan Tari memang ingin berjalan ke jenjang pernikahan. Namun, yang membuat Arin sedih adalah, ia tahu bagaimana baj*ngannya seorang Zavico Freins.


Vico dan Kelvin itu tidak beda jauh. Mereka akan memperlakukan orang yang mereka cintai dengan sangat tulus. Sayangnya, mereka bisa menjadi orang lain di waktu-waktu tertentu, seperti Kelvin saat ini dan beberapa hari lalu saat memenjarakan Nathan.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...



Perasaan dulu kalau liat foto ini ngakak deh, kok sekarang malah nangis ya?

__ADS_1


__ADS_2