
Semakin hari Rosyi dibuat gemas dengan tingkah laku Nathan dan Rania yang seakan mereka tengah bermain bersama romantis.
Kalian tahu? Nathan cukup menjijikkan ketika bucin. Sikap Nathan sangat cringe, pantas saja Rania tetap kukuh menolaknya walaupun laki-laki dan itu tanpa dan kaya.
Hari ini, Nathan lagi-lagi di tolak oleh Rania ketika ia menawarkan bantuan untuk membantu Rania menyiram tanaman. Malang sekali bukan?
"Ckckck, katanya sih keturunan Freins, tapi naklukin satu perempuan aja gak bisa." Rosyi berdasar pada dinding dan menatap sang paman miris.
Kedua tangan gadis itu terlipat di bawah dada, matanya menelisik Nathan dari atas hingga bawah seolah tengah menilai penampilan sang paman. "Ganteng sih, pinter juga. Tapi sayang, gak peka."
Dahi Nathan berkerut. "Maksudmu?"
"Gini ya uncle. Cewek itu cenderung lebih suka sama cowok yang peka dan perhatian. Selain peka kepada perasaan cewek itu, cowok juga harus peka terhadap situasi."
"Bisakah kau bicara dengan jelas? Aku sedang malas berpikir."
Rosyi menghela nafas jengkel. "Aku tarik ucapan ku yang mengatakan bahwa kau pintar. Anggap saja itu sebagai angin lalu." Rosyi mengibas-ngibaskan tangan nya jengkel.
Gadis itu menegakkan tubuhnya, lalu berjalan perlahan mendekati Nathan. "Uncle mendekati Rania seperti itu, apa Uncle yakin jika keluarga uncle suka?"
"Maksudnya?" Dahi Nathan berkerut, masih tak paham maksud perkataan Rosyi.
"Maksud ku, Rania itu pelayan dan Uncle adalah anak dari majikannya. Mengingat status keluarga uncle yang tidak bisa dikatakan sebagai orang biasa, tidakkah uncle berpikir bahwa Grandma menginginkan menantu yang sepadan?"
"Mommy tidak pernah mempermasalahkan aku yang mendekati Rania, jadi aku rasa itu tidak masalah."
Rosyi menjentikkan jarinya detik itu juga. "Nah, uncle mungkin berpikir begitu, tapi bagaimana dengan Rania? Dia pasti takut bukan?"
"Rania mungkin berpikir, diamnya keluarga Freins adalah sebuah peringatan yang harus ia hindari."
Nathan mengangguk paham. "Lalu apa yang harus aku lakukan?"
Mulut Rosyi menganga lebar. "Uncle masih tak tahu apa yang harus uncle lakukan setelah aku mengatakan itu?!"
Nathan menggeleng polos. Oh ****, rasanya sia-sia saja Rosyi berbicara panjang lebar seperti.
"Huh! Dasar bodoh, tidak peka, idot!" Bukannya memberikan jawaban, Rosyi malah memaki Nathan yang mana membuat laki-laki itu bingung.
"Salahku dimana?"
•
__ADS_1
•
•
Pagi ini Reyn bersikeras mendatangi langsung perusahaan keluarga Freins walaupun teman-temannya sudah melarang dirinya.
"Reyn! Lo gila? Lo mau langsung nyamperin ke perusahaannya kayak gitu, lo sama aja nyari mati tau gak?!" Liam tak habis pikir, bagaimana bisa Reyn gegabah seperti ini?
"Gue gak takut. Dia gak bisa ngambil Rosyi gitu aja, gua gak terima!"
"Lo bilang gitu, emangnya Lo siapa? Dia ayah kandungnya, sedangkan Lo? Lo cuma mantan yang pernah nyakitin dia." Sumpah, ucapan yang keluar dari mulut Amira barusan benar-benar pedas dan tajam.
Reyn terdiam, apa yang Amira ucapkan tadi memang benar adanya. Tiba-tiba api semangat Reyn padam begitu saja, laki-laki itu langsung terduduk di atas ranjang.
Amira yang melihat sepupunya tiba-tiba seperti itu pun langsung mendudukkan dirinya di samping Reyn. Di usapnya lengan sepupunya dengan perlahan. "Sorry kalau ucapan gue menusuk, tapi Reyn. Lo itu harus punya persiapan yang mateng. Nanti kalau apa yang gue ucapin ternyata di ucapin sama Zavico Freins, Lo mau jawab apa?"
"Kita gak perlu langsung temui Zavico Freins sekarang, kita mata-matain aja dia dulu buat nyari lokasi rumahnya dimana. Karena gue yakin, Rosyi pasti ada di kediaman Freins."
Liam mengangguk setuju atas usulan yang David berikan. "Itu bagus tuh, setidaknya lebih aman. Mungkin kita bisa culik Rosyi diem-diem."
"Nah bagus juga tuh."
Reyn mengangguk pelan. "Thanks guys, kalian yang terbaik."
"Santai aja Reyn, kita kan sahabat ya." Nadia merangkul Reyn, lalu disusul Liam dan David juga.
Reyn merasa beruntung, ia masih memiliki sahabat yang akan membantu dan menemani nya untuk melewati masa-masa sulit ini.
•
•
•
Menyebalkan, sangat menyebalkan. Rosyi hanya melakukan olahraga kecil dengan melakukan boxing dan semua orang langsung heboh, terlebih sang Grandma tersayang.
"Oh my God, cucuku sayang. Kamu gapapa kan? Tangan nya luka gak? Ada yang sakit gak?" Arin sudah sangat heboh membolak-balik tangan Rosyi juga tak lupa memutar tubuh cucunya untuk memeriksa bahwa Rosyi benar-benar baik dan tak terluka sama sekali.
"ARE YOU NOT GOOD OR WHAT? WHY LET MY GRANDDAUGHTER DO THIS?!" Arin memarahi beberapa bodyguard yang di tugaskan untuk menjaga Rosyi, ia juga memarahi Rania dan Riani yang di anggap tak becus menjaga nona besarnya.
"Grandma, i'm good. Grandma jangan marah-marah kayak gini dong, ini kemauan aku sendiri kok. Mereka semua gak salah."
__ADS_1
"Tapi sayang..."
"Grandma, please. I like it, aku sangat suka melakukan ini."
Arin menghela nafas pelan. "Baiklah, apapun tapi hati-hati ya? Jangan sampai terluka."
Rosyi memberikan pose hormat kepada Arin. "Siap Grandma."
Arin hanya tersenyum kecil melihat. Ia lalu melirik para bodyguard itu juga si kembar R. "Kalian jaga cucuku, jangan sampai dia terluka," Tuturnya dengan bahasa China.
"Siap nyonya!" Ucap mereka serentak.
•
•
•
Vico tersenyum miring melihat rekaman yang Nathan tunjukkan padanya. "Ck, berani sekali bocah-bocah ingusan itu. Apakah mereka tidak tahu siapa lawan mereka?"
Vico mengembalikan iPad itu kepada pemiliknya. Laki-laki itu menumpu satu kaki nya di kaki lainnya lalu melipat tangan di depan dada, tak lupa menyunggingkan seringaian yang menjadi andalan nya.
"Sepertinya bermain-main dengan mereka sebentar akan menyenangkan."
"Kakak yakin? Kurasa putri kecil mu akan marah besar jika kau sampai melakukan sesuatu pada mereka, terutama pemuda bermarga Adhitama itu." Nathan menyeruput susu pisang nya santai, namun ekor matanya masih memperhatikan setiap perubahan ekspresi sang kakak yang selalu terlihat menyeramkan.
"Laki-laki yang sudah pernah menyakiti hati putriku, bukankah harus di beri sedikit pelajaran? Setidaknya dia harus merasakan apa yang putri ku rasakan."
"Hei, apa yang kau pikirkan dalam otak licik mu itu?" Nathan mengerut tak suka ketika melihat senyuman aneh di wajah kakaknya.
"Asisten Zhong, tolong atur perjodohan Rosyi dengan anak tuan Zai."
Nathan melotot kan matanya saat itu juga. "Hei! Apa kau sedang bergurau? Kau ingin menikahkan keponakan cantik ku dengan anak si tua Zai Xiaolong itu?!"
Vico tak memperdulikan protes yang Nathan layangkan, ia hanya menunjukkan senyuman nya yang menawan tanpa mengucapkan apapun.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Calon masa depan akyu.
__ADS_1