
Rosyi tidak tahu jika hasil tes DNA bisa keluar secepat ini. Maksudnya, baru saja pagi tadi mereka pergi untuk tes dan malam harinya hasil tes itu sudah sampai di kediaman Zavico Freins.
"Lo gak ngerekayasa hasil tes ini kan?" Rosyi menatap Vico dengan tatapan penuh curiga. Masa bodoh dengan sopan santun, pria itu terlihat seperti om-om pedofil yang suka menculik gadis-gadis cantik.
"Apakah saya terlihat seperti orang yang akan melakukan itu?" Rosyi mengangguk spontan. "Tampang lo kelihatan kayak om-om pedo."
Asisten Zhong hampir saja tertawa jika Vico tak langsung mempelototinya. Pria kelahiran Amerika itu lantas tersenyum. "Hasil tes itu benar apa adanya, kamu adalah anakku, 99% positif."
"Baru 99% belum 100%, itu berarti ada kemungkinan 1% bahwa gue bukan anak lo," Kukuh Rosyi tak mau mengakui Vico sebagai ayahnya.
"Nona besar, Anda harus mengerti. Anda adarah putri tunggar keruarga Freins dan itu benar apa adanya."
Rosyi menatap tajam Asisten Zhong. "Paman tua, lo mending diem deh. L tuh di benerin, orang keluarga kok jadi Keruarga."
"Mulut pedas dan tatapan tajamnya, sangat mirip dengan tuan, bagaimana bisa ia menyangkal jika dia adalah anak tuan," Batin Asisten Zhong dengan bahasa China.
"Semuanya sudah jelas, lebih baik kamu istirahat karena ini sudah malam."
Rosyi melipat tangan dan bawah dada, menatap angkuh pada Vico. "Lo siapa berani ngatur-ngatur gue?"
Vico tidak mengucapkan sepatah katapun, namun tatapan nya yang begitu tajam dan menusuk mampu membuat nyali Rosyi sedikit menyusut. "Aku Daddy-mu, apakah kamu lupa?" Suara dingin itu terdengar seperti sebuah alarm peringatan di telinga Rosyi.
"Cih, menyebalkan!" Rosyi keluar dari ruang kerja Vico dengan kesal. Di luar sana Rania dan Riani sudah menunggu, kedua pelayan itu di tugaskan untuk selalu mengikuti Rosyi kemanapun gadis itu pergi. Yah, bisa dikatakan, mereka adalah pelayan pribadi Rosyi.
•
•
•
Tari kalang kabut mencari Rosyi ke seluruh negara yang bisa anak buahnya jangkau. Ia takut, ia sangat takut jika dirinya akan kehilangan Rosyi untuk selamanya.
"APAKAH KALIAN BODOH?! INI SUDAH BERAPA HARI DAN KENAPA KALIAN BELUM BISA MENEMUKANNYA?!"
"Maaf nyonya, namun kami tidak menemukan jejak nona Rosyi di manapun."
"Ck, tidak berguna!!" Para wanita gagah dengan pakaian serba hitam itu hanya bisa diam menerima cacian yang Tari layangkan. "Pergilah, kalian tidak berguna!"
Tari menyugar rambutnya frustasi.
Ting
Suara notifikasi ponsel membuat Tari menoleh malas, ia mengangkat benda pipih berbentuk persegi panjang itu dengan malas.
Dahi Tari berkerut ketika kontak dengan kode nomor negara asing terlihat di ponselnya. Ia membuka pesan yang kontak itu kirimkan, matanya langsung melebar ketika membaca pesan itu.
'Ku ambil kembali darah dagingku yang kau bawa pergi.'
Tubuh Tari bergetar, handphone di tangannya sampai terjatuh karena itu. "Ti_tidak mungkin dia kan?"
•
•
__ADS_1
•
Rosyi sudah benar-benar muak, Rania dan Riani terus saja mengikutinya kemana pun. Bahkan dua maid muda itu dengan senang hati menunggu di depan pintu kamar Rosyi ketika gadis itu tak mengizinkan mereka masuk.
Selain karena Rania dan Riani yang mengawasinya 24 jam nonstop, Rosyi juga kesal dengan para penjaga yang ternyata diam-diam juga mengawasi nya.
Dan yang lebih menyebalkan lagi, Rosyi baru menyadari bahwa didalam kamarnya penuh dengan CCTV, kecuali di bagian kamar mandi dan wardrobe.
"Pria kaya itu benar-benar menyebalkan. Dia sudah membuat penjagaan yang ketat supaya aku tidak bisa kabur, dasar gila!"
DUGH...
"AKHH!" Rosyi yang kesal menendang lemari kecil di samping tempat tidur, sialnya, patung kancil di atas lemari itu malah terjatuh dan mengenai kakinya hingga memar.
BRAK!!
"NONA BESAR!!" 5 Orang penjaga beserta Rania dan Riani mendobrak pintu dengan paksa karena panik mendengar jeritan Rosyi dari dalam.
"Nona besar, apakah Anda baik-baik saja?" Tanya seorang penjaga.
"Kakiku memar, apakah aku terlihat baik-baik saja di mata mu?! Akh... sakit sekali..." Rosyi meringis pelan.
Si kembar Rania dan Riani bergegas mendekati Rosyi, mereka pun memapah sang nona besar menuju kasur yang sebenarnya jaraknya sangat-sangat tidak jauh dari tempat Rosyi berdiri. "Berlebihan, aku bisa sendiri."
"Tapi nona, kaki Anda memar."
"Memar seperti ini bukanlah apa-apa, aku sudah sering mendapatkan luka seperti, jadi kalian santai saja." Yah, itu kenyataan bukan? Dulu Tari setiap hari selalu memberikan luka yang bahkan jauh lebih buruk dari ini, jadi, memar sekecil ini bukanlah apa-apa.
"Tapi nona, tadi anda menjerit."
"Nona, kami mohon, berhati-hati lah lain kali..."
"JANGAN LUKAI DIRI ANDA LAGI," ucap ke-lima penjaga itu sambil membungkuk.
Satu alis terangkat Rosyi terangkat. "Memangnya kenapa jika aku terluka?"
"Anda adalah harta keluarga Freins, tuan akan membunuh kami jika kami sampai kecolongan hingga mengakibatkan anda terluka."
"Oh... Begitu." Rosyi tersenyum penuh arti.
•
•
"Astaga nona besar! Nona, ayo turun nona, nanti nona bisa jatuh!" Rania dan Riani sudah ketar-ketir dibawah sana melihat Rosyi yang santai menikmati mangga langsung dari pohonnya, sebuah hobi yang tidak akan pernah hilang dari seorang Rosyi Amelia Freins.
Yang di khawatir malah terlihat begitu santai, memakan buah mangga yang ia kupas sendiri dengan menggunakan pisau kecil. "Mangga nya enak, apakah kalian mau?" tawarnya.
Kedua pelayan yang khawatir itu menggeleng, "Nona, sebaiknya Anda turun ke bawah nona, kami akan mengupaskan mangga terbaik dari China untuk anda."
"Ck, lebih enak makan langsung dari pohonnya tauk!!"
"Nona, saya mohon, turun nona." Bukan hanya Rania dan Riani saja yang khawatir, namun semua penjaga juga turut khawatir dengan apa yang Rosyi lakukan.
__ADS_1
"Ck, kalian berisik!" Rosyi lanjut memetik satu buah lagi dan mengupasnya.
"Akh...Shh..."
Tes...
Dua tetes darah dari tangan Rosyi jatuh mengenai tangan Riani yang langsung melotot horor. "Da_darah nona..."
Bruk...
Pelayan pribadi Rosyi itu jatuh tak sadarkan diri.
"RIANI!"
Mendengar keributan dari bawah, Rosyi pun menunduk dan melihat Rania yang panik menepuk pipi adik kembarnya yang tak sadarkan diri. Sedangkan para penjaga di sana berusaha mati-matian membujuk Rosyi untuk segera turun dan mengobati lukanya.
"Lah, gue yang luka kok di yang pingsan," ucapnya terheran-heran.
•
•
•
PLAK!!
"Kalian bisa bekerja atau tidak?! Bagaimana bisa anak saya terluka ketika kalian ada disana?!" Rosyi tak menduga bahwa Vico akan pulang siang itu juga hanya karena kabar bahwa tangan terkena pisau. Pria itu bahkan memarahi para penjaga yang tidak tahu apa-apa.
"Mereka gak salah, gue emang sengaja kok." Vico menoleh ketika mendengar suara putri tercintanya.
Pria pemilik wajah super datar itu menatap sang putri yang melihat santai bersandar di ambang pintu dengan tangan yang belum di obati sama sekali. "Obati dulu lukamu baru kembali berbuat ulah."
Kedua tangan Rosyi terkepal kuat. "Lepaskan aku! Bawa aku kembali kepada mommy!"
"Melepaskan mu kepada wanita gila itu? Wanita yang selalu menyakiti fisikmu itu? Jangan harap!"
"DIA BUKAN WANITA GILA! DIA IBUKU!" Rosyi naik pitam.
"Ibu mana yang akan menyiksa anaknya hanya karena hal sepele seperti dia?
"Lo gak tau apa-apa soal nyokap gue, jadi mending Lo diem aja."
Vico terkekeh, lalu bertepuk tangan. "Aku tahu segalanya tentang ibumu. Aku tahu, masalalunya dan aku tahu apa saja yang dia lakukan. Aku bahkan tahu jika dia mengancam kekasih mu untuk menjauhi mu."
"Apa maksud mu? Mommy mengancam Reyn?" Kening Rosyi berkerut.
Vico tersenyum miring. "Kamu sudah tinggal bersama Tari selama bertahun-tahun, seharusnya kau tahu bagaimana tabiatnya."
Rosyi terdiam, tak bisa mengelak karena yang Vico ucapkan masuk akal. Maksudnya, Rosyi tahu benar jika Tari akan melakukan apapun demi supaya keinginannya terpenuhi, bahkan jika ia harus nguras air laut pun akan ia lakukan.
Dan selama ini, Tari selalu ingin Rosyi menjauh dari Reyn. Bukan hal mustahil jika Tari akan mengancam Reyn untuk menjauhinya. S*al, Rosyi merasa bodoh karena percaya dengan apa yang ia lihat tanpa tahu kebenarannya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
__ADS_1
Harta berharga Freins Family.