Brandal Couple

Brandal Couple
*Chapter 43


__ADS_3

Dua orang berbadan besar menggiring Nathan memasuki penjara darah, laki-laki itu hanya pasrah, sama sekali tak ada niatan untuk memberontak.


"Anda baik-baiklah di dalam sana tuan muda, sebulan lagi kami akan kembali untuk mengeluarkan anda."


Nathan hanya mengangguk, laki-laki itu terlihat sangat pasrah seolah tak ada semangat hidup. Entah apa yang ia pakai pikirkan, padahal Nathan yang biasanya itu selalu keras kepala, bahkan mungkin laki-laki itu seharusnya kabur saat ini.


Dua orang berbadan itu keluar, kaku mengunci penjara itu dan pergi meninggalkan Nathan seorang diri.


Penjara darah, penjara yang biasanya digunakan untuk membunuh orang-orang yang telah menyinggung tuan Freins juga di gunakan sebagai tempat hukuman untuk anak-anak yang tidak patuh.


Seperti namanya, penjara darah itu penuh dengan darah yang sudah kering dan yang masih basah juga, bau nya sangat amis hingga membuat perut mual.


Nathan menikah ke samping, ia melihat mayat seorang laki-laki yang baru saja di kuliti 2 bulan yang lalu. Hal seperti ini, tentu adalah pekerjaan Vico, laki-laki itu sangat suka menguliti orang hidup-hidup hingga mati perlahan-lahan.


"Tuan muda." Suara bisikan dari luar membuat Nathan menoleh.


"Rania, apa yang kamu lakukan disini?" Nathan berdiri dengan perlahan, berjalan menuju jeruji besi yang terkunci.


"Bagaimana bisa kamu kemari? Apakah ada orang yang melihat mu?"


Wanita itu menggeleng, mata nya memerah dan bengkak, sepertinya Rania baru saja menangis.


"Hei, ada apa? Kamu menangis?" Nathan mengeluarkan tangannya, mengusap pipi Rania dengan sayang.


"Kenapa kamu bisa masuk kesini? Apakah tuan besar menghukum mu karena kaburnya nona Rosyi?" Rania terlihat begitu khawatir, dan itu membuat hati Nathan terasa senang.


Tangan Nathan bergerak mengusap pipi Rania yang sudah kembali di aliri air mata. "Memang sudah seharusnya Rosyi pergi dari sini, ayah dan kakakku, mereka itu benar-benar iblis." Geram Nathan.


"Kamu dimasukkan kedalam sini, tuan besar pasti sangat marah."


"Tidak masalah, aku sudah biasa."


"Kenapa kamu tidak kabur saja? tuan Nathan yang aku kenal itu tidak akan pernah mau masuk kedalam penjara darah, tapi kenapa kamu hari ini pasrah?" Nathan pun hanya terdiam menghadapi pertanyaan dari Rania ini.


"Jadilah anak baik dan jangan memberontak lagi, atau wanitamu itu tidak akan selamat." Tiba-tiba ucapan Kelvin beberapa saat lalu terngiang di kepala Nathan.


"Jika si tua itu tidak mengancamku seperti ini, aku mana mungkin akan pasrah saja di dalam penjara." Kedua tangan Nathan terkepal kuat, ia cukup menyesal kenapa dirinya bisa terlahir dari ayah dan keluarga yang sekejam ini.


"Sudahlah, tidak usah mengkhawatirkan aku lagi. Sebaiknya kamu kembali sebelum ada yang melihat." Nathan mengusap kepala Rania dengan lembut.

__ADS_1


Gadis itu mengangguk, lalu mengusap air matanya perlahan. "Besok aku akan datang lagi dan membawakan kamu makanan."


"Tidak perlu, jangan membahayakan dirimu."


"Aku akan tetap melakukannya!" Melihat keteguhan di mata Rania, Nathan pun tak bisa melakukan apapun selain membiarkannya. Ia hanya berdoa semoga tidak akan yang melihat Rania mengunjunginya.


"Kalau begitu aku akan pergi, kamu jaga diri baik-baik."


"Kamu juga."


Rania pun pergi dari sana setelah berpamitan dengan Nathan.


Nathan tersenyum tipis, hatinya begitu senang dan berbunga-bunga mengetahui jika Rania sangat peduli pada dirinya.


"Owhh... romantis sekali anak muda ini."


"Ayah?!" Nathan terkejut melihat ayahnya yang tiba-tiba datang dari sisi berlawanan dengan Rania yang pergi.


"Kisah yang manis, tapi sayangnya sekali. Kisah itu akan berakhir sebelum dimulai." Kelvin tersenyum miring melihat wajah emosi Nathan, bahkan urat-urat nadinya sampai terlihat.


"Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun asal kau jadi anjing penurut." Kelvin menepuk-nepuk pipi Nathan. Nathan sendiri pun mati-matian menahan kesal pada ayah kandungnya itu.


"Si*lan, andai saja kau bukan pria yang sangat dicintai ibuku, aku pasti akan membunuhmu."





Masalah foto yang katanya di berikan Nathan tempo hari terus terbayang-bayang di pikiran Rosyi. Entah kenapa, Rosyi tiba-tiba merindukan paman mudanya itu.


"Sebenarnya, arti foto dan pesan yang uncle kirim itu adalah Daddy yang telah membunuh mantan suami mommy kan?" Rosyi membolak balik foto itu.


"Tapi kalau iya, kenapa juga Daddy harus bunuh dia? Bukannya harusnya kebalik ya? Kan dia yang diselingkuhi duluan." Oke, sebenarnya Rosyi telah tahu semua masa lalu orang tuanya, dan ia tahu cerita itu dari Nathan.


Sebenarnya jika Rosyi pikir-pikir lagi, Nathan itu aneh. Laki-laki itu seharusnya bisa saja menangkap Liam dan yang lainnya sebagai sandera saat itu.


Walaupun mereka bersembunyi di pulau terpencil, namun seharusnya tidak sulit bagi Nathan untuk menangkap mereka. Tapi kenapa Nathan tidak melakukan nya? Laki-laki malah seperti sengaja membiarkan Rosyi kabur.

__ADS_1


Puk... BRAK...


Rosyi reflek membanting orang yang menepuk punggungnya ke kasur.


"Akhh... sakit..." Keluh Reyn, seseorang yang baru saja di banting oleh Rosyi.


Rosyi yang sadar bahwa itu Reyn pun langsung melepaskan tangannya. "Sorry, gue kira lo tadi Orion." Rosyi menggaruk tengkuk belakang nya yang tidak gatal.


"Shh...gapapa, gue juga salah karena tiba-tiba ngagetin kamu." Reyn mengusap posisi tengkurap nya menjadi duduk walaupun dengan punggung yang nyeri.


"Lagi mikirin apasih? Kok serius banget kayaknya."


Rosyi menggeleng. "Bukan apa-apa. Kamu ngapain disini?"


"Mau jemput kamu lah, mulai hari ini kan kita bakal latihan beladiri."


Dahi Rosyi berkerut. "Aku kan bisa bareng Orion, gak perlu kamu buat jemput aku."


"Tapi aku pengen jemput kamu, gapapa dong? Lagian Orion udah jalan tuh."


"WHAT?! TUH ANAK NINGGALIN GUE?! BENER-BENER YA SI ORION." Dalam hatinya, Rosyi sudah menyumpah serapahi sepupunya yang sangat amat menyebalkan itu.


"Udahlah, lagian ada aku. Ayo berangkat sekarang, yang lainnya udah nungguin kita."


Rosyi melirik Reyn sekilas. "Ya udah, aku ganti baju dulu, kamu keluar aja sana."


"Kenapa harus keluar? Aku pengen cuci mata." Reyn tersenyum seperti om-om pedo, membuat bulu kuduk Rosyi merinding saja.


"KELUAR ATAU GUE BIKIN LO BUTA HAH?!"


Reyn menutup kedua telinganya mendengar suara teriakan Rosyi. "Iya-iya, jangan ngegas dong. Ini juga bakal keluar."


"Cepetan!" Sewotnya.


"Iya cantik." Reyn mencolek dagu Rosyi. Rosyi sudah bersiap-siap untuk berteriak lagi, namun Reyn langsung berlari keluar.


"Dasar buaya muda."


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...

__ADS_1


Makin aneh gak sih?


__ADS_2