
Nagita pertama kalinya bangun tidur merasa keinginan, karena AC yang ada didalam kamarnya Bagas.
" Ini badan norak sekali sih, tidur pakai AC seperti ini."Batin Nagita kesel, karena kedinginan membuat Nagita langsung turun dari kasur dan siap siap mandi
Saat Nagita siap siap mandi, Bagas bangun dari kasur dan langsung peluk Nagita membuatnya kaget dan langsung lihat belakang.
" Sayang sudah bangun, bikin aku kaget." Ucap Nagita berusaha santai saat melihat Bagas
" Kamu bangun pagi juga yah, oh yah kerja dulu sebelum kita berangkat ke luar kota." Ucap Bagas langsung melepaskan pelukannya
"Boleh om" Lanjut Nagita langsung kerja, membuat Bagas bahagia sekalia. akhirnya pagi pagi bisa lihat Nagita bekerja.
Dilain sisi, Mia yang mendengar curhatannya Feni ikutan kesel, karena alasan papi nya menikah lagi dengan janda sederhans.
" Kalo soal boros dan matre tidak harus menikah lagi, untungnya papi tidak memiliki anak kandung dari istri barunya. itu artinya harta papi sepenuhnya untuk gue." Ucap Feni merasa bersyukur karena selingkuhan papi nya tidak bisa memberikan anak kandung untuk papi nya.
" Itu cuman alasan saja, papi lo sudah tergoda oleh janda beranak satu itu. walaupun sederhana bukan bearti punya hak untuk merebut papi lo, dasarnya janda kesepian di goda seperti itu mau saja." Ucap Mia yang ikut kesel karena papi nya Feni bisa tergoda dengan janda sederhana, yang pasti ada niat tidak baik
" Nah itu dia, gue kesel sekali, tapi yah sudah lah, sudah terlanjut juga selama perempuan itu tidak bertingkah dan bikin mami gue sedih gue sih bodo amat, jika bikin sedih baru gue ikut campur dengan urusan orang tua." Ucap Feni yang berusaha cuek, tapi memperhatikan situasi orang tuanya
__ADS_1
" Itu jauh lebih baik sih, sudah yuk jalan jalan kita, dari pada pusing memikirkan masalah rumah tangga orang tua, tidak akan ada akhirnya selama papi lo masih doyan bersama janda itu." Lanjut Mia yang tidak mau Feni pusing karena orang tuanya ada ibu tiri dirumah
" Hayo jalan jalan deh, biar otak kembali fresh gue" Lanjut Feni merapihkan makeupnya sebelum berangkat jalan jalan
Dilain sisi, Nagita merasa bahagia sekali menikmati jalan jalan pertamanya, menikmati pemandangan yang di lewatinya, Nagita melihat Bagas sibuk dengan laptopnya berusaha untuk tidak mengganggu sampai Bagas sendiri yang ajak ngobrol.
" Sayang, apa haus?" Tanya Bagas melihat Nagita dari tadi tidak minum sama sekali
" Tidak sayang, aku tadi lagi lihat lihat google sayang, bekerja didalam mobil sepertinya seru sayang." Ucap Nagita, kasih lihat artikel yang lagi dibacanya.
" Apa mau coba sayang? aku sudah sering coba sayang, jika kamu mau hayo sayang, mumpung perjalanan kita masih jauh dan perlengkapan didalam mobil juga mendukung" Lanjut Bagas yang sudah terbiasa melihat orang orang yang kerja didalam mobil
Dilain sisi, Eki memasang CCTV disetiap sudut rumahnya Nagita, karena rumahnya Nagita akan lama kosong, dan Eki melunasi sewa rumah kontrakan kedua orang tuanya Nagita, bahkan membelinya atas nama Nagita, Eki urus pengalihan kepemilikan rumah tanpa harus minta kedua orang tuanya Nagita untuk kembali.
" Alhamdulillah, semuanya beres juga, bos yang doyan daun muda, tidak tanggung tanggung mengeluarkan uang banyak seperti ini, Nagita nya juga hebat bisa membuat Bagas selalu betah didekatnya." Batin Eki, masukin surat kepemilikan rumah kedalam tasnya.
" Pak, semuanya sudah dipasang pak, dan monitornya sudah saya koneksikan ke hanphone anda, hanphone pak Bagas, dan laptopnya nona Nagita, tinggal kalian buka saja linknya, pasti akan langsung terkoneksi pak" Ucap bodyguard yang sudah selesai mengerjakan tugas yang diberikan Eki
" Bagus sekali,hayo kita pergi, sebelum orang orang disini melihat kita" Lanjut Eki langsung jalan duluan menuju mobilnya, dan mengeluarkan hanphonenya untuk kabarin Bagas jika pekerjaannya sudah selesai.
__ADS_1
Dilain sisi, Nagita yang merasa lelah dan menyenangkan setelah bekerja, ngajak Bagas untuk sarapan sebelum sampai di tempat meetingnya Bagas.
" Sayang, selama aku rapat, kamu mau tunggu di hotel atau mau jalan jalan?" Tanya Bagas menikmati sarapan pilihannya Nagita
" Tunggu di hotel saja sayang, supaya aku bisa istirahat sebentar karena kita pasti jalan jalan kan" Ucap Nagita menikmati sarapannya, walaupun badannya pegel semua setelah bekerja tidak membuat Nagita ngeluh sama sekali, berusaha santai supaya Bagas tidak marah
" Yah sudah, aku antar sampai kamar, terus aku langsung pergi yah, soalnya tempat meeting ke hotel lumayan jauh sayang" Lanjut Bagas, yang tidak sabar bersenang senang bersama Nagita didalam kamar hotel
" Iyah sayang, atur saja" Lanjut Nagita, yang serahkan semuanya ke Bagas, yang Nagita tahu dan peduli bisa bersenang senang saja.
Dilain sisi, Mami nya Feni sengaja mengadakan arisan di rumahnya, minta ART nya untuk siap kan makanan untuk temen temennya, selama arisan akan makan bersama, disaat lagi santai bersama temen temennya, melihat madunya bermain dengan anaknya. dengan sengaja membahas soal plakor membuat istri kedua suaminya melihat dengan tatapan yang sulit diartikan.
" Bisa yah jeng, menerima begitu saja madu yang drajatnya dibawah jeng seperti itu, saya heran apa sih yang dilihatnya sampai mau dijadikan istri." Sindir temennya mami nya Feni
" Entah lah jeng, saya mau menerima dia dan mempertahan kan rumah tangga saya bersama suami, tentunya demi Feni jeng, kasihan kan anak kandung saya harus sedih melihat orang tuanya bercerai karena papi nya menikah lagi, apa lagi harus ngurus anak yang bukan anak kandungnya. kan kasihan juga jeng" Ucap mami nya Feni sengaja, karena sudah tahu jika anak yang ada dirumahnya, bukan anak kandung, Feni sengaja banyak tanya tadi sebelum main supaya kasih tahu siapa anak yang dibawanya.
" Yah lah, kasihan juga kan, haknya Feni harus dibagi bersama adik tiri yang bukan ikatan saudara sama sekali, biarkan dia jadi istri jeng yang penting jeng harus bertahan demi kebahagian Feni dan hak anak kandung jeng dan suami, jangan sampai jatuh ketangan yang bukan orang yang pantas menerimanya." Lanjut temennya mami nya Feni, melirik istri kedua sahabatnya yang sesekali melihat ibu ibu rumpi yang sengaja dibawa untuk sindir madunya.
Ibu tirinya Feni sudah cukup mendengar sindirian dari temen temen ibunya Feni, langsung masuk kamar sambil membawa anaknya, yang nangis karena dipaksa harus berhenti main, dari pada semakin lama denger sindirian semakin sedih dan sakit hati mendengarnya. karena semua ucapan orang orang yang ada di ruang tamu, bener adanya.
__ADS_1