
π₯π₯π₯
"Apa Lona adalah putri dari Hitoru dan perempuan yang kalian rebutkan?" Tanya tuan Devan penasaran.
"Benar sekali, tuan. Walau begitu aku tidak menculiknya, istri kedua Hitoru-lah yang menyuruhku untuk membunuhnya. Tapi entah kenapa, hingga saat ini aku tidak pernah tega untuk melenyapkannya." Jawab Pria misterius itu, jujur.
"Baiklah, aku menerima tawaranmu untuk bekerja sama. Ikutlah bersamaku! Aron siapkan hotel untuknya, usahakan tidak jauh dari hotelku," titah tuan Devan.
"Baik, tuan," jawab sekretaris Aron.
"Lepaskan perempuan itu," titah tuan Devan pada pria misterius itu.
Pria misterius itu langsung menuju pada Lona, dan segera melepaskan tali yang mengikat Lona.
POV LONA:
Tidak jauh memang tempatku dari kedua manusia-manusia disana, tapi aku tidak dapat mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.
__ADS_1
Tapi sesekali ayah menatapku dengan sejuta kebencian dimatanya. Ayah membenciku! Aku benar-benar tidak paham dengan sikap ayah, aku bahkan tidak tau kenapa ayah begitu membenciku.
Lihatlah apa yang telah ia lakukan padaku. Dia menculikku, mana ada seorang ayah, melakukan hal yang seperti ayahku lakukan saat ini.
Uang! Apa benar hanya karena uang, ayah melakukan semua kegilaan ini. Demi mendapatkan uang, ayah bahkan tega menculik dan menjual ankanya sendiri.
Aku sangat ingin memarahi, mengutuk, bahkan mengumpat ayahku. Aku sangat ingin bertanya padanya, Kenap dia melakukan semua ini padaku? Kenapa dia tega padaku? Kenapa ayah tega menculik dan sekarang menjualku? Apa kesalahan yang pernah aku lakukan hingga ayah sangat membenciku?. Aku sangat ingin menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi, entah kenapa lidahku terasa kelu dan berat saat akan berucap.
Aku menahan segela rasa kesalku sekuat tenaga. Aku lihat ayah mendekatiku, lalu melepaskan tali yang melilit ditubuhku. Lalu melepaskan lakban di mulutku dengan kasar.
Aku meringis menahan sakit di mulutku, juga tangan dan kaki ku yang lecet akibat ikatan tali. Dan tanpa rasa berdosa ayah kembali menyeret ku. Aku hanya diam menundukkan kepalaku dalam. Ayah membawaku keluar dari gudang itu, menyusul tuan Devan yang telah lebih dulu keluar dari gudang.
Selama perjalanan tak ada yang bersuara. Aku mulai lemas, rasa sakit mulai mendatangiku satu persatu, hingga pada akhirnya aku menutup mataku yang terasa begitu berat.
Saat aku tersadar, aku sudah berada dikamarku. Aku segera bangun karena mendapat panggilan alam. Aku segera menuju kamar mandi yang ada di dapur. Begitu selesai aku mengambil kotak p3k yang ada di dapur. Lalu mengoleskan salep pada luka yang ada di pergelangan tangan juga dipergelangan kaki ku.
Begitu selesai, aku langsung mencari sesuatu yang bisa dimakan. Hanya ada roti dan pada akhirnya aku hanya makan roti tawar tanpa selai.
__ADS_1
Begitu selesai mengisi perutku, aku langsung menuju kamar untuk melanjutkan istirahat ku.
Keesokkan paginya, aku terbangun pagi sekali. Aku tidak membuat sarapan, karena tubuhku benar-benat tidak bersahabat. Pagi itu aku mengigil dibalik kainku, tubuhku terasa sangat remuk, kepalaku terasa sangat pusing, nafasku terasa sesak, keringat dingin mulai membasahi bajuku. pagi itu juga aku kembali demam.
Setiap kali demam, aku hanya akan seperti ini. Tidak ada siapapun yang merawat. Aku hanya akan menangis, biarlah aku menangis. Aku memang cengeng. Itulah aku, seorang gadis yang memang hanya dapat menangis ketika rasa sakit menggerogoti tubuhku.
πππ
Like, komen, hadiah, dan vote π
Rate bintang 5 juga ya π
Maafkan typonya π
Selamat membaca dan semoga suka π
Lope readersss π
__ADS_1
π₯π