
***
"Tu-tunggu tuan," cegat Lona.
"Ada apa, sayang."
"Emm ... Bisakah panggilkan suster, aku belum tau cara meny*sui," tutur Lona malu.
"Aku bisa mengajarimu, sayang. Tidak, maksudku, aku akan panggilkan suster." Tuan Devan segera keluar dari kamar rawat Lona karena kembali menyadari kesalahannya.
***
"Nona ada keluhan apa?" Tanya seorang dokter perempuan pada Anna.
"Begini dok, akhir-akhir ini saya sering mengalami kram dibagian bawah perut saya. Padahal sebelumnya saya tidak pernah mengalaminya." Tutur Anna.
"Baiklah, kalau begitu nona berbaringlah disana. Saya akan memeriksa keadaan nona. Oh iya, jangan lupa lepaskan cd nona lebih dulu." titah dokter kandungan itu.
Anna berjalan menuju sebuah kursi khusus yang ditunjukkan dokter tadi. Dan tak lupa melepaskan cd nya.
"Baik, sekarang bukalah kaki nona lebar-lebar." Titah dokter itu lagi. Anna mengikutinya walau dengan bersusah payah.
__ADS_1
"Tahan ya nona, ini akan sedikit sakit. Maaf ya." Kata dokter itu akan memasukkan sebuah alat berbentuk kecil yang agak panjang kedalam inti Anna
"Hemp...sa- akhh.... Sakit, dok." Rintih Anna, namun dokter itu tetap Fokus manatap layar monitor.
"Maaf ya nona, memang agak sakit. Apalagi nona masih perawan. Pasti akan sakit sekali." Ujar dokter itu membuat Anna terkejut.
"A-apa maksud dokter. Sa-saya ma-masih perawan?!" Tanya Anna kaget dan tak percaya.
"Iya, benar. Nona memang masih perawan." Jawab dokter itu lagi yakin.
"Dokter tidak bercanda bukan? Apa dokter yakin kalau saya masih perawan. Saya sudah pernah melakukan itu, dok. Jadi saya rasa, saya tidak mungkin masih perawan." Jawab Anna menjelaskan.
"Jadi aku masih perawan, berarti malam itu benar-benar tidak terjadi apapun. Dan itu artinya, sekretatis Aron memang tidak melakukan hal itu padaku. Ya-Tuhan apa yang sudah aku lakukan, aku meminta pertanggungjawaban darinya. Sedangkan dia tidak melakukan apapun kepadaku. Kenapa aku begitu bodoh, dan tidak menyadari hal itu selama ini." Batin Anna frustasi.
"Nona, nona anda baik-baik saja." Kata dokter itu kala melihat Anna melamun.
"Ah iya, saya baik-baik saja dok. Apa benar saya masih perawan dok?" Tanya Anna sekali lagi untuk memastikan.
"Iya nona, nona Anna memang masih perawan. Dan untuk keluhan nona, tidak ada hal serius yang perlu dikhawatirkan. Kurangi Beban pikiran, dan jangan Sampai stres. Karena 2 hal itulah yang menjadi penyebab sakit dibagian bawah perut nona. Dan hal ini selalu terjadi 1 Minggu sebelum masa haid bukan?" Tanya dokter itu dan dijawab anggukan kepala dari Anna.
"Jangan terlalu banyak pikiran. Dan cobalah untuk mencari hiburan untuk mengurangi stres yang nona alami." Saran dokter itu.
__ADS_1
"Baik, dokter. Terima kasih banyak." Jawab Anna, kemudian pamit setelah membayar tagihan.
Anna berjalan gantai dilorong rumah sakit. Ia hanya memikirkan satu hal, hal yang membuatnya merasa begitu bersalah. Apa yang akan ia katakan kepada sekretatis Aron? Apakah ia harus pergi dari kehidupan sekretatis Aron.
"Iya, itulah yang seharusnya terjadi. Dia tidak perlu bertanggungjawab atasku bila ia tidak melakukannya. Ta-tapi, aku mencintainya. Haruskah aku egois dan membiarkan semuanya tetap seperti ini. Aku tetap bersama dengan lelaki yang kucintai. Tapi, tidak mungkin selalu begini. Jelas-jelas dia tidak mencintaiku, cinta tidak mungkin dapat dipaksakan. Aku juga tidak mungkin hidup bahagia bersama pria yang tidak mencintaiku. Baiklah, ini keputusanku. Aku akan kembali kepada Zanna adikku. Aku sudah sangat merindukannya. Ini sudah saatnya aku pulang. Aku sudah mengetahui bahwa sekretatis Aron tidak akan pernah mencintaiku. Dari kesalahpahaman ini aku sadar akan hal itu. Lebih baik aku menyerah saja." Batin Anna, dia terus berjalan sambil menunduk.
Aaaakh....
Teriak Anna saat tak sengaja menabrak seseorang. Tubuh Anna terhuyung kebelakang, beruntung orang yang ia tabrak dengan gesit menangkapnya, hingga ia tak terjatuh kelantai.
Bersambung....
.
.
.
.
Like, komen, vote, hadiah, rate bintang 5 yaπππππ
__ADS_1