Budakku Canduku

Budakku Canduku
Episode 36


__ADS_3

πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Malam harinya


"Aaaaaakh.....," Teriak 2 gadis kembar bersamaan. Tapi, didalam kamar yang berbeda.


Kalika berteriak karena kaget, kala melihat tuan Kenric yamg handuknya tak sengaja terjepit di pintu kamar mandi. Dan terlihatlah oleh Kalika senjatanya yang tak terbungkus apapun. Kalika yang tengah menyiapkan baju santai untuk tuan Kenric, seketika pingsan dan tergeletak tak berdaya dilantai. Ia terlalu syok dan kaget melihat hal yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Sedangkan tuan Kenric dengan santainya malah mengangkat tubuh Kalika ke atas kasurnya. Setelahnya barulah ia mamakai pakaiannya yang telah dipersiapkan oleh Kalika tadinya. Seutas senyuman samar terukir di bibir tuan Kenric. Sepertinya ia mulai tertarik pada kepolosan Kalika.


Selesai memasangkan semua pakaiannya, tuan Kenric mendekat pada Kalika. Dirabanya wajah gadis itu.


"Cantik," satu kata tulus keluar dari mulutnya, yang biasanya hanya penuh dengan kebohongan semata. Semakin dalam memandang wajah gadis itu. Semakin dalam pula rasa penasarannya.


Rasa penasaran ini berbeda, bukan penasaran sejenis nafsu yang biasanya ia punya kepada setiap gadis yang menemani malamnya. Penasaran yang kini ia rasakan, seperti rasa penasaran tentang siapa Kalika sebenarnya? Seberat apa hidupnya hingga dijual oleh ibu kandungnya sendiri?


Banyak pertanyaan dibenaknya, tapi ai tepis begitu saja. Tangan kekarnya beralih mengelus rambut panjang Kalika. Perasaan ingin melindungi. Ya! Itulah perasaan yang juga ia rasakan saat ini.


"Kenapa kau sangat cantik, kenapa aku merasa ingin melindungi dan juga menjagamu. Kenapa tidak ada nafsu saat memandang tubuhmu." Ujarnya lalu memegangi dadanya merasai jantungnya yang kini berdegup kencang tak beraturan.

__ADS_1


Sementara itu, di kamar dilantai atas. Kalina segera membekap mulutnya. Ia akan memutar kembali langkahnya. Ia tak ingin semakin lama melihat adegan tak senonoh di kamar tuan Vano.


"Mau kemana kau? Cepat masuk!" Bentak tuan Vano dengan nafasnya yang tersengal-sengal. Karena permainannya saat ini.


"Masuk!" Bentak tuan Vano lagi. Membuat Kalina kaget, dengan menundukkan wajahnya dalam, ia melangkah perlahan memasuki kamar tuan Vano.


Suara-suara yang memerawani telinganya, membuat Kalina tak nyaman. Ia benar-benar tidak ingin melihat adegan yang seperti itu saat ini.


"A-ada apa, tu-tuan?" Tanya Kalina terbata.


"Angkat wajahmu!" Bentak tuan Vano lagi dan lagi.


"Angkat wajahmu, dan liat kami bemain. Kau harus mulai mempelajarinya," Kalina Kaget, dan ia mulai memusatkan pandangannya pada aksi bejat kedua manusia tak berakhlak dihadapannya kini.


Air mata tak berhenti terus mengalir dari kedua pipinya. Kalina begitu syok, bayangkan diusianya yang baru menginjak 15 tahun. Ia harus melihat siaran langsung adegan tak senonoh yang kini dilakukan oleh tuan Vano.


Banjir air mata, Kalina berusaha membuat dirinya tetap tabah. Tuan Vano sepertinya begitu sengaja memperlakukan Kalina seperti itu.


Ditolak pernyataan cinta, tak pernah ada dalam kamusnya. Dan Kalina, berani menolak cintanya. Maka Kalina, harus siap dengan segala konsekuensinya.

__ADS_1


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Lona terbangun malam itu, setelah melewati tidur panjangnya. Terlepas dari semua rasa sakit ditubuhnya. Kini, rasa lapar dan haus begitu mendominasi. Perlahan ia meraba tasnya guna mencari keberadaan roti yang biasanya selalu tersedia. Ia tak lagi menemukan rotinya, sepertinya itu telah habis.


Terhuyung-huyung, Lona mencoba berdiri dan menarik gangang pintu. Tapi, pintu itu terkunci. Waktu sudah temgaha malam, susah dipastikan tuan Devan telah tertidur. Merasa pedih diperutnya, Lona hanya dapat menangisi kemalangan nasibnya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Like, komen, hadiah, dan vote


Rate bintang 5 juga


Maafkan typonya


Selamat membaca dan semoga suka


Lopeeeee readerssss 😘


πŸ”₯πŸ‚

__ADS_1


__ADS_2