
***
"Devan, Lona. Kalian sudah datang, nak." Sambut nyonya Zeline.
Melihat nyonya Zeline, Lona langsung bersembunyi dibelakang tuan Devan. Ia takut, ia takut kalau nyonya Zeline akan menjahati dirinya lagi.
Entah apa yang dilakukan nyonya Zeline, tapi yang jelas. Ia memaksa dirinya untuk turun dari kursi rodanya. Lalu bersujud dihadapan Lona. Sedangkan tuan Devan langsung membantu mommy-nya untuk bangun, namun ditolak oleh sang Mommy.
"Lepaskan mommy, Devan. Mommy ingin meminta ampun pada Lona, dosa mommy padanya begitu besar." Tolak nyonya Zeline yang sudah lumpuh kakinya.
"Lona, mommy tau kesalahan mommy padamu tidak mungkin bisa dimaafkan. Mommy sudah sangat jahat padamu. Mommy terus menyiksamu, mommy benar-benar berdosa besar padamu. Mommy mohon ampuni mommy, Lona. Ampuni mommy yang telah menyiksamu dulu." Mohon nyonya Zeline pada Lona.
Lona tampak terkejut, ia tidak percaya bahwa ini nyata. Benarkan seorang nyonya Zeline telah berubah. Ini nyata atau cuma akting belakang. Lona tampak bingung.
Namun, Lona begitu kasian dengan keadaan nyonya Zeline saat ini. Mungkin, penyiksaan Yang ia dapatkan dari nyonya Zeline akan sulit ia lupakan. Namun, apa salahnya saling memaafkan. Sebagai sesama manusia Lona rasa penting untuk memaafkan.
"Nyonya, bangunlah nyonya. Jangan seperti ini." Tutur Lona mencoba membantu nyonya Zeline untuk bangun.
"Tidak, Lona. Mommy tidak akan bangun, sebelum kamu mamaafkan mommy." Keukeuh nyonya Zeline.
"Aku sudah memaafkan mommy. Jadi bangunlah." Jawab Lona.
"Benarkah, nak. Apakah kau benar-benar telah memaafkan kesalahan mommy?" Tanya nyonya Zeline memastikan.
"Iya nyonya, aku sudah memaafkan semuanya. Termasuk tuan Devan." Tutur Lona.
"Terima kasih, sayang. Kau memang seorang gadis yang baik. Maafkan mommy yang sudah salah menilaimu selama ini." Sesal nyonya Zeline.
"Tidak apa-apa nyonya. Aku mengerti." Jawab Lona lembut.
"Panggil mommy, kau adalah calon menantu mommy sekarang. Kau adalah ibu dari cucu mommy. Jadi, mulai sekarang kau juga Putri mommy." Kata nyonya Zeline.
__ADS_1
"Baiklah mommy." Jawab Lona bersemangat, ia memang sangat merindukan sosok ibu sedari dulu.
"Kalau begitu ayo masuk! Mommy sudah menyiapkan makan siang untuk kalian. Kita makan siang bersama." Ajak nyonya Zeline.
"Aron, kemarikan cucu mommy. Mommy ingin melihatnya." pinta Nyonya Zeline. Dan Aron langsung menyerahkan baby Varon pada nyonya Zeline.
"Ya-Tuhan, cucuku begitu tampan," puji nyonya Zeline gemas.
Aron, membantu mendorong kursi roda nyonya Zeline menuju ke ruang makan.
Sedangkan tuan Devan, membantu Lona berjalan. Merasa geram karena Lona berjalan terlalu pelan. Tuan Devan pun langsung menggendong Lona hingga sampai di ruang makan.
Di ruang makan :
"Saran mommy. Sebaiknya kalian berdua secepatnya menikah. Kasian baby Varon, kalian tau berita sangat cepat menyebar. Mommy juga tidak ingin ada berita buruk yang simpang siur tentang kalian berdua. Kalian harus menikah, setidaknya untuk kebaikkan baby Varon." Tutur nyonya Zeline menjelaskan.
"Baik Mom. Kalau malam ini harus menikah bersama Lona. Aku sangat siap Mom," jawab tuan Devan bersemangat membuat Lona tersedak.
"Kau tidak apa-apa sayang." Tanya tuan Devan memberikan air putih kepada Lona.
"Apa yang kau kejar, kenapa buru-buru sekali." Tanya sang Mommy pura-pura tak tahu.
"Tentu saja malam pertama, Mom." Jawab Devan santai. Membuat Lona kembali tersedak untuk yang kedua kalinya.
"Apa kau gila, lagi pula apa kau lupa bahwa Lona masih dalam masa nifas. Bagaimana bisa kau melakukan itu." Jawab nyonya Zeline membuat Devan tersadar.
"Astaga, bagaimana bisa aku lupa akan hal itu." Ujar Devan kecewa.
"Emm... Nyonya, tuan. Sejujurnya saya belum ingin ....
"Rubah dulu panggilanku sayang, panggil calon suami mu ini dengan panggilan sayang dan panggil aku mommy." Sanggah nyonya Zeline.
__ADS_1
"I-Iya maksudku. Mommy dan ... Dan kak Devan. Sejujurnya aku belum siap bila harus menikah dalam waktu dekat ini." Jawab Lona menetapkan panggilan Kakak untuk tuan Devan.
"Ada apa sayang. Apa kau masih meragukanku." Tanya tuan Devan membuat Lona diam menunduk membenarkan.
"Maafkan aku," jawab Lona pada akhirnya.
"Tidak Lona, kau tidak bersalah sayang. Aku mengerti perasaanmu. Aku mengerti tidak semudah itu untukmu memaafkan bajian sepertiku. Aku minta maaf karena telah egois tanpa memikirkan perasaanmu." Ujar tuan Devan segera berdiri akan menuju kamarnya.
"Mom, untuk beberapa saat jangan lagi membahas tentang pernikahan." Tutur devan langsung pergi ke kamarnya.
"Maafin mommy dan Devan ya Lona." Ucap nyonya Zeline tak hentinya meminta maaf.
"Aku sudah memaafkan mommy dan juga tuan Devan. Namun, aku masih trauma bila harus menikah. Aku mohon berikan aku waktu, Mom." Jawab Lona berlinang Air mata.
"Maafin aku, Mom. Aku belum siap," tambah Lona lagi.
"Tidak apa-apa sayang. Mom mengerti perasaanmu. Devan pergi bukan karena marah atau kesal kepadamu. Dia pergi karena menyesal akan perbuatannya dulu. Dia hanya merasa tidak pantas bersanding denganmu. Kamu mengerti apa yang Mom maksud bukan?"
"Aku mengerti, Mom." Jawab Lona.
"Baguslah, seorang habiskan makanmu. Setelah itu istirahat bersama putramu. Sepertinya dia sudah mengantuk."
"Baik, Mom." Jawab Lona melanjutkan kembali makannya.
Bersambung .....
.
.
.
__ADS_1
.
Like, komen, hadiah, vote, dan rate bintang 5 nya ya ππππ