Budakku Canduku

Budakku Canduku
Episode 63


__ADS_3

***


"Tidak! Jangan sakiti anak saya. Ini anak saya, bukan anak tuan! Saya mohon jangan sakiti kami. Saya mohon jangan ambil anak saya! Saya ...


Aaakh ... Perut saya sakit sekali." Teriak Lona kala merasakan perutnya yang mulai mulas.


"Semua sudah siap, tuan. Kami akan langsung membawa nona Lona ke ruangan operasi." Izin sang dokter pada Devan. Dengan perasaan cemas dan kuatir Devan mengiyakan.


Lona terus berteriak histeris, karena mengira bahwa Devan akan mengugurkan kandungannya.


Taun Devan tampak tersungkur dilantai. Ada apa dengannya? Bukankah sebelumnya ia sudah sering melihat Lona meringis kesakitan. Bahkan ia sendirilah yang menjadi penyebab Lona tersakiti.


Tapi, entah kenapa saat ini ia begitu tak berdaya kala melihat Lona kesakitan. Sakit yang Lona rasakan seakan juga ia rasakan. Apalagi mengingat sumua perlakuan buruknya kepada Lona membuatnya juga tak bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Tuan, apa yang tuan lakukan. Tuan harusnya berada disisi nona Lona. Agar dapat menguatkannya." Ucap sekretatis Aron sedikit membentak tuannya.


"Aron, apakah dia akan selamat? Apakah bayiku juga akan selamat? Apakah mereka berdua akan baik-baik saja? Aku tidak akan mamaafkan diriku sendiri jika terjadi apa-apa pada mereka berdua. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri," Sesal Devan mengacak rambutnya kasar.


"Ini bukan saatnya untuk tuan bersikap lemah. Tuan harus kuat, bagaimana mungkin tuan bisa menguatkan nona Lona. Bila tuan sendiri begitu lemah seperti ini. Mana tuan yang saya kenal, taun yang begitu tangguh." Ucap sekretatis Aron lagi, sedikit membentak untuk menyadarkan tuannya.


"Kau benar Aron, ini bukan waktunya bagiku untuk bersikap lemah. Aku akan menemani Lona." Ujarnya semangat dan langsung bangkit, lalu segera menuju ruang operasi.


Dengan penuh semangat, tuan Devan berlari menuju ruang operasi. Begitu sampai ia langsung membukan pintu ruangan.

__ADS_1


Terburu-buru ia langsung menuju tempat Lona dioperasi. Begitu sampai, langkahnya terhenti.


Brukkk....


Tuan Devan tiba-tiba ambruk. Kala melihat dokter yang mengeluarkan bayinya dari perut Lona.


Sekretatis Arron segera mengangkat tubuh tuannya. Dan membawanya keluar dari ruang operasi. Sedangkan para dokter dan juga suster, tak sedikitpun mempedulikan Devan yang ambruk. Mereka tetap fokus dengan kegiatan mereka masing-masing.


"Ternyata, seseorang yang kejam dan tangguh. Juga bisa pingsan saat melihat perjuangan kekasihnya. Cinta benar-benar membaut orang-orang sedingin tuan Devan meleleh." Gumam Arron sambil membopong tubuh tuannya dan membawanya ke kamar rawat yang lain.


Oek ... Oek ...


Tangisan bayi yang memecah keheningan didalam ruangan operasi, bayi itu segera diatangani oleh dokter khusus bayi. Untuk diperiksa keadaanya. Tampak bayi laki-laki itu begitu bugar dan juga sehat.


Jika bayinya sehat. Maka, berbeda dengan ibunya yang harus masuk keruang ICU. Karena selama proses operasi, Lona sudah tak sadarkan diri.


***


"Tuan, Bagaimana perasaan tuan? Apa sudah mendingan?" Tanya sekretatis Aron.


"Aron, dimana bayiku?


Lona! Bagaimana kondisi Lona? Dimana mereka?" Pertanyaan beruntun yang mengandung begitu besar kekhawatiran.

__ADS_1


"Keduannya baik-baik saja tuan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ujar sekretaris Aron menenangkan tuannya.


"Tadi, kenapa tuan malah pingsan?" Tambah sekretatis Aron bertanya.


"Bagaimana aku tidak pingsan. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, bayiku begitu kecil dan berlumuran darah. Kau tau? Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, bila terjadi apa-apa pada Lona dan juga bayiku. Benarkah mereka baik-baik saja? aku bisa gila jika terjadi apa-apa pada mereka. Dimana mereka sekarang? Aku ingin melihat mereka?" Ucap tuan Devan segera bangkit dan keluar menuju ruangan bayi.


***


"Apakah dia bayiku? Dia sangat mirip denganku bukan? Tidak dia lebih tampan dariku ternyata. Tapi matanya tidak sama denganku yang sipit dan tajam. Matanya kenapa seperti mata perempuan. Bulat dan besar. Ya-Tuhan, mata putraku persis seperti mata ibunya. begitu indah dan bersih."ucap tuan Devan kagum pada putranya yang berada di dalam incabulator.


Tadinya, tuan Devan pingsan . krena mengira terjadi apa-apa pada putranya. Tapi sekarang ia begitu mengagumi putranya yang sangatlah tampan.


"Lona dimana, Aron. Sekarang antarkan aku pada Lona. Aku sangat merindukannya juga mengkhawatirkannya." Ujar tuan Devan.


"Tu-tuan, se-sebenarnya no-nona Lona...


Bersambung ......


.


.


.

__ADS_1


.


Apa yang terjadi pada Lona ya?😢


__ADS_2