
***
"Tu-tuan A-aron," ujar Anna kaget, karena seseorang yang menangkap tubuhnya, tidak lain dan tidak bukan adalah Sekretatis Aron. Lama keduanya saling menatap, sadar akan posisi mereka. Keduannya kompak membenahi posisi.
"Apa yang kau lakukan di ruamah sakit ini. Kenapa kau keluar tanpa meminta izin lebih dulu padaku." Tanya sekretatis Aron sedikit membentak.
"A-aku , oh aku hanya ingin membeli vitamin karena tubuhku kurang enak. Jadi aku datang ke rumah sakit untuk membeli vitamin," bohong Anna.
"Mana vitaminnya?" Tanya Aron.
"I-ini tuan." Tunjuk Anna pada vitamin yang diberikan dokter tadi.
"Apa sudah selesai?"
"Iya tuan, sudah selesai." Jawab Anna yakin.
"Aku akan mengantarmu pulang." Kata sekretaris Aron langsung menggenggam pergelangan tangan Anna. Dan membawa Anna pulang.
***
"Tetaplah disini dan jangan kemana-mana. Kau harus meminta izin padaku bila ingin pergi. Apa kau paham?" Anna menjawab dengan anggukan kepalanya.
Setelah mengantarkan Anna sampai dikamarnya. Barulah Sekretatis Aron kembali ke kantor.
"Aku tidak ingin kehilanganmu Anna. Kau harus bertanggungjawab karena kau mampu membuatku jatuh cinta padamu." Batin sekretaris Aron yang diam-diam sudah memiliki rasa untuk Anna. Namun gengsinya begitu tinggi, dan akhirnya ia tidak punya keberanian untuk menyatakan perasaanya kepada Anna.
***
"Aku mencintaimu dan kamu tidak mencintaiku. Kita tinggal bersama tanpa adanya ikatan. Kau memang baik tapi hanya karena iba padaku. Maaf karena salah menilaimu. Kau tidak seharusnya kujerat dengan perasaan cintaku. Aku akan pergi bersama dengan rasaku. Selamat tinggal Aron Mero, kau bebas sekarang. Tidak akan ada lagi parasit sepertiku dikehidupanmu. Kuharap kau menemukan gadis yang kau cintai, aku masih akan selalu mencintaimu. Selamat tinggal pria yang kucintai, semoga kau bahagia tanpaku." Tutur Anna pada foto Aron yang ia letakkan berdampingan dengan potonya. yang Anna pajang dikamarnya sendiri.
Setelah menyelipkan selembar surat difotonya. Ia pun segera keluar dan pergi menjauh dari apartemen.
__ADS_1
Anna pergi ke mansion Chao dan Zanna (dinovel my bossy my husband). Yang berada cukup jauh dari apartemen Aron. Sekitar 4 jam perjalanan menggunakan mobil barulah ia akan sampai.
***
"Apa ada keluhan, nona Lona?" Tanya dokter Kelvin.
"Sejauh ini saya rasa biasa saja, dok. Hanya bekas luka di dada saya terasa begitu nyeri." Ujar Lona yang memang terlihat menahan nyeri.
"Apa nona sudah makan?" Tanya dokter Kelvin.
"Sudah dok, setelah buang angin. Saya makan dengan bubur." Jawab Lona jujur.
" Tuan Devan yang terhormat, bantu calon istrimu minum obat. Apa tidak ada suster yang memberitahumu untuk memberikan nona Lona obat pereda nyeri bila sudah makan." Dokter Kelvin begitu memanfaatkan keadaan Devan untuk mengerjainya. Ya, kapan lagi dia bisa mengerjai sahabatnya yang paling arogant itu.
Sadar jika ia memang lupa, dengan segudang rasa bersalah tuan Devan membantu Lona untuk meminum obatnya.
"Apa ada keluhan lainnya Nona? Seperti sulit bernafas, atau yang lainnya?" Tanya dokter Kelvin lagi, setelah Lona selesai meminum obatnya.
"Maafkan saya nona. Kami semua tidak tahu siapa pendonor itu. Dia sangat misterius dan ....
"Apakah ayah saya, yang mendonorkan jantungnya untuk saya?" Ujar Lona memotong ucapan dokter Kelvin yang belum selesai.
Semua yang ada Disana terkejut dengan ucapan Lona. Tapi mereka tidak dapat lagi menyembunyikan semua itu.
"Jadi benar, ayah saya memang telah mendonorkan jantungnya untuk saya." Ujar Lona berlinang air mata kala mengingat ayahnya.
"Sayang, aku mohon jangan bersedih. Ayah Brandi melakukan semua ini demi kebahagiaanmu, dia pasti akan sangat sedih jika melihatmu bukannya bahagia tapi malah bersedih." Ujar tuan Devan mencoba menenangkan.
"Tinggalkan aku sendiri, aku ingin istirahat." Ketus Lona.
"Baiklah kalau begitu aku permisi. Kalau ada apa-apa laporkan padaku." Kata dokter Kelvin segera keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Aaahk..." Ringis Lona tiba-tiba. Mendengar hal itu dokter Kelvin menghentikan langkahnya. Sedangkan Devan langsung mendekati Lona dengan wajah kautirnya.
"Ada apa, sayang. Apa ada yang terasa sakit?" Tanya Tuan Devan.
"Dadaku sangat nyeri." Jawab Lona masih meringis.
"Maksud nona dibagian luka?" Tanya dokter Kelvin.
"Ti-tidak, tapi payud*Ra saya," ujar Lona malu, tapi ia tidak kuat menahan nyeri itu.
"Kau, apa kau tidak membelikan istrimu penyedot asi. Kau tunggulah disini jaga istrimu, aku akan kembali dengan alat itu." Ujar Dokter Kelvin segera keluar.
Tak lama ia datang dengan alat yang ia sebutkan tadi.
"Ini Nona, tinggal diletakkan lalu dipompa. Apa nona mengerti?"
"Saya mengerti, dok." Jawab Lona.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi keluar."
"Tu-tuan Devan tolong bantu saya," mohon Lona. Dengan senang hati tuan Devan mendekat pada Lona, dan akan mengambil alat itu dari lona.
Bersambung ...
.
.
.
.
__ADS_1
Like, komen, hadiah, vote, rate bintang 5 nya yaπππππ