
π₯π₯π₯
"Tuan, tuan buka pintunya, tuan." Teriak sekretaris Aron dari luar ruangan tuan Devan.
Tak ada sautan dari dalam membuat sekretaris Aron kuatir. Dan pada akhirnya ia memilih mendobrak paksa pintu itu.
"Astaga ... " Teriak sekretaris Aron kaget, kala melihat tuan Devan telah tergeletak tak berdaya di lantai. Dengan kondisi yang begitu berantakan. Sedangkan botol anggur berserakan begitu banyak di lantai.
Melihat tuannya yang tak sadarkan diri, sekretaris Aron segera memanggil para pengawal untuk membantunya membawa tuan Devan ke rumah sakit.
Tak butuh waktu lama, sekretaris Aron dan tuan Devan sudah berada di rumah sakit.
"Devan sayang. Kenapa kamu jadi seperti ini nak. Sadarlah sayang, Mommy mohon lupakan Lona, lupakan gadis sialan itu. Bukan salahmu jika dia pergi. Mommy mohon sadarlah, pikirkan kesehatanmu sayang. Mommy tidak ingin kehilanganmu Devan," tutur nyonya Zeline terisak-isak seraya memeluk tubuh tuan Devan yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.
__ADS_1
"Berhenti berbicara yang tidak baik tentang Lona, mom. Dia perempuan baik-baik, aku yang salah, aku yang salah karena telah melakukan balas dendam kepadanya. Dan dendam yang Devan lakukan berujung salah alamat. Aku mengira bahwa Lona adalah putri Hitoru, hingga Aku menyiksanya terus-terusan hingga ... Hingga aku merengut hal yang paling berharga baginya. Aku benar-benar bersalah padanya. Apa yang harus aku lakukan pada rasa bersalah yang terus menghantui ku, mom?" Sesal Devan, kala mengingat semua adegan penyiksaan yang telah ia lakukan pada Lona.
"Devan sayang. Itu bukan salahmu nak. Kamu hanya tidak tau kenyataan itu. Kamu tidak bersalah, sayang. Yang bersalah itu adalah Hitoru. Ia telah membunuh ayahmu dan menghancurkan hidup kita. Jadi, semua yang terjadi pada Lona. Itu bukanlah kesalahanmu, nak. Mommy mohon berhenti minum terlalu banyak. Apa kau benar-benar akan meninggalkan Mommy sendirian," jawab nyonya Zeline, menatap putra semata wayangnya dengan seksama. Demi meyakinkannya bahwa semua yang dialami oleh Lona bukanlah kesalahan sang putra.
"Tapi Mom. Devan berdosa padanya Mom." Lirih tuan Devan berlinang air mata. Kondisinya begitu memprihatinkan, tampak lingkaran hitam dimatanya begitu pekat, kumisnya semakin tebal dengan rambut yang tebal yang begitu berantakan. Bukan hanya perutnya yang bermasalah karena terlalu banyak mengkonsumsi alkohol. Tapi juga rasa bersalahnya pada Lona. Adegan-adegan penyiksaan terhadap Lona terus menari-nari dipikirannya. Membuatnya merasa akan menggila.
"Maaf mengganggu nyonya. Mohon tunggu diluar terlebih dahulu. Karena saya akan memeriksa kondisi tuan Devan." Ujar seorang dokter muda sopan pada nyonya Zeline.
Nyonya Zeline segera keluar dari ruangan itu. Di luar ia bertemu dengan sekretaris Aron yang masih betah dan setia menunggu.
"APA ... " Teriak nyonya Zeline kala syok mendengar pembicaraan sekretaris Aron dengan entah siapa. Yang jelas inti pembicaraan mereka mampu membuat nyonya Zeline pingsan dan tak sadarkan diri.
"Nyonya, suster tolong suster," dengan bantuan suster yang berada disana. Sekretaris Aron segera membawa nyonya Zeline menuju ruangan rawat untuk nyonya Zeline.
__ADS_1
Sekretaris Aron juga tak kalah terkejut, karena tiba-tiba saja nyonya Zeline pingsan dan dapat ia pastikan, penyebabnya adalah dirinya pula.
Tapi, ia tidak dapat berbuat banyak. Masalah yang dihadapi oleh tuannya cukup rumit. Belum lagi masalah hidupnya yang juga tak kalah rumitnya. Entah apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
πππ
Alhamdulilah, berkat doa temen-temen semua, Othor sudah kembali sehat lagi. Terima kasih kepada semuanya, Terima kasih banyak untuk doanya π
walau udah sehat, maaf karena masih akan slow up. Alasannya, karena Othor masih akan menyelesaikan tugas kuliah yang sudah sangat menumpuk. Othor janji, kalau tugasnya selesai Othor akan up seperti biasa. 3-4 bab perharinya. Othor mohon maaf sekali lagiπππ
Oh iya, cover barunya gimana?
kalian suka nggk?π
__ADS_1