Budakku Canduku

Budakku Canduku
Episode 41


__ADS_3

πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


"Aku akan membuat mu. Tidak akan pernah bisa lari dariku," tutur tuan Devan dengan nafasnya yang memburu, tampak nafsunya begitu besar memandang tubuh Lona. Ia menyeret kaki Lona dan langsung menerkam Lona. Lona berusaha berontak. Namun, tenaganya tidaklah cukup. Lona meringis merasakan sakit saat tuan Devan menghimpit kaki mungilnya dengan tubuh kekar itu. Masih menindih kaki Lona kasar, tuan Davin melepaskan bajunya.


"Tuan, saya mohon jangan lakukan, saya mohon jangan begini tuan," tutur Lona lirih. Air mata kehancuran begitu deras mengalir membasahi kedua pipinya.


"Melepaskanmu. Jangan harap! Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja," ujar tuan Devan yang kini telah bertelanjang dada. Lalu berlanjut melespaskan ikat pinggangnya guna melepaskan celananya.


"Tidak tuan, saya mohon jangan tuan," teriak Lona memohon. Taun Devan tak bergeming. Meraih kedua tangan Lona dengan kasar, lalu mengikatnya kencang dengan ikat pinggangnya.


Lona tak dapat lagi berontak, kaki serta tanganya telah dikunci erat oleh tuan Devan. Tuan Devan berusaha melepaskan pakaian yang melekat pada tubuh Lona. Lona hanya memejamkan matanya, ia telah kalah dan tak dapat melakukan apapun lagi. Berteriak! Siapa yang akan menolongnya walaupun ia berteriak hinggga suaranya habis.


Kini, tuan Devan telah berhasil mempoloskan tubuh Lona. Mata tuan Devan tak berkedip kala melihat keindahan lekuk tubuh Lona. Dan ia mulai melancarkan aksinya dengan memc*um paksa bibir Lona. Lona melengoskan wajahnya menghindar. Hal itu sukses membuat emosi seorang Devan semakin memuncak.

__ADS_1


"Kau jangan berlagak sok suci. Tubuhmu tidak ada harganya bagiku," bentak tuan Devan mencengkram erat dagu Lona. Melancarkan aksinya, tuan Devan mel*mat bibir Lona kasar. Bahkan meninggalkan lecet dimana-mana. Ia benar-benar candu pada tubuh Lona, tak pernah puas ia bermain ditubuh Lona.


"Aaaaaaaargh ... Sakiiiiit ... " Jeritan Lona memenuhi kamar itu, Lona menggeliatkan tubuhnya. Kala merasakan sakit yang luar biasa saat tuan Devan menghentakkan tubuhnya kasar, guna melakukan penyatuan pada inti Lona.


Hanya dua kali hentakkan yang begitu kasar. Mampu menembus pertahanan yang Lona jaga selama ini.


"Ternyata kau masih perawan! Seharusnya kau bersyukur karena aku yang mengambilnya. Aku tau! Kau menyukaiku bukan? Aku yakin kau sangat bahagia saat ini," ujar Tuan Devan tersenyum sinis menatap rendah Lona.


"Aku membencimu tuan Devan, aku sangat membencimu. Aku bersumpah! Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Demi Tuhan aku tidak akan memaafkan," batin Lona berucap dengan segala kesedihannya.


"Tuhan! Aku tau kau menguji setiap umatmu dalam batas kesanggupannya. Aku tak sangup Tuhan, aku menyerah! Bawalah aku bersamamu Tuhan, aku mohon akhiri semua ini. Bagaimanapun caranya. Jemputlah aku Tuhan, aku benar-benar lelah," kembali Lona membatin.


Dibawah sana, tuan Devan semakin mempercepat ritme permainnya. Hal itu membuat Lona sudah tak sangup. Pendanganya semakin buram, samar- samar ia berusaha mengingat wajah penuh nafsu itu, ia akan membenci wajah itu Sampai kapanpun. Ia tidak akan pernah melupakan senyuman licik di wajah itu. Pandangan Lona semakin gelap. Hingga akhirnya ia kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


Walau Lona sudah tak lagi sadar. Tapi hal itu tak kunjung memberikan rasa iba pada tuan Devan. Ia terus melakukan hal yang membuatnya melayang diudara. Tubuh Lona! benar-benar menjadi candu baginya. Hingga tak sangup ia lepaskan.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Like, komen, hadiah, dan, vote


Rate bintang 5 nya mana nih, kok nggak ada ya😭


Maafkan typonya


Selamat membaca dan semoga suka


Lope readersss 😘

__ADS_1


πŸ”₯πŸ‚


__ADS_2