
***
"Apa tidak bisa sekretaris Aron saja yang pergi, kak?" Ucap Lona.
"Apa kau takut merindukanku, sayang." Goda tuan Devan.
"Bu-bukan begitu maksudku, kak. Han-hanya saja ...
"Kau tenang saja, sayang. Percayalah padaku, hanya dirimu yang aku cintai, tidak ada satupun wanita di dunia ini yang mampu menandingimu. Lagian aku hanya pergi sebentar. Sore nanti sudah pulang dan kemungkinan malam harinya aku sudah ada di rumah." Jawab tuan Devan meyakinkan Lona.
"Baiklah kalau begitu aku pergi, jaga putra kita." Ujar tuan Devan. Ia ingin sekali mencium Lona sebelum pergi, tapi urung karena Lona pasti tidak akan mengizinkannya. Dan ia tidak ingin Lona masih berpikiran jika ia masih belum berubah. Dengan raut wajah kecewanya, ia mulai melangkahkan kakinya ingin keluar dari kamar Lona.
1 langkah, 2 langkah, dilangkah ketiga tiba-riba saja Lona menariknya, dan tanpa ia duga lona memberikan kecupan di pipinya.
Tuan Devan terdiam, ia terlalu keget dengan ciuman tiba-tiba itu. Kalau ia tau Lona akan menciumnya, ia pasti akan menurunkan sedikit tubuhnya. Agar Lona mencium bibirnya. Ah, iya begitu menyesal karena kehilangan kesempatan.
Tapi, hatinya begitu berbunga. Karena Lona sudah berani menciumnya. Dan itu artinya Lona sudah mempercayainya dan sudah tidak trauma lagi terhadapnya.
__ADS_1
"Sekarang ciuman pipi, apakah jika aku pulang nanti ia akan menyambutku dengan memberikan ciuman di bibir. Apakah itu artinya sebentar lagi ia akan menerima bila aku mengajaknya menikah. Ini awal yang baik, Devan. Juniorku, tidak lama lagi kau akan kugunakan," batin tuan Devan dengan segala pikiran mesumnya.
"Hati-hati dijalan, kak. Cepatlah pulang. Aku dan Varon akan menunggu kakak disini." Ucap Lona lancar walau sedikit gugup.
"Baiklah sayang, aku akan pulang untukmu dan juga putra kita. Tetap dirumah dan jangan kemana-mana. Jika aku tidak pulang, kau harus berjanji padaku. Untuk tidak keluar dan tetaplah dirumah untu menungguku. Kalau begitu aku pergi." ujar tuan Devan membuat Lona semakin kuatir.
"Apa aku salah. Aku mencintainya, dia juga mencintaiku. Dia juga sudah berubah menjadi lelaki yang baik dan juga perhatian. Aku mohon jangan salahkan aku bila aku memaafkannya. Aku sangat mencintainya. aku juga Ingin hidup bahagia bersama lelaki yang kucinta." Tutur Lona menatap kepergian tuan Devan.
"Kenapa perasaanku tidak enak," sambung Lona lagi.
***
Pukul 22:00
"Hallo Aron, apa ada kabar dari Devan. Dia bilang jam 9 malam sudah sampai dirumah. Tapi, ini sudah jam 10 malam dan belum ada kabar?" Tanya nyonya Zeline.
"Begitu ya. Kalau ada berita tentang keberadaanya jangan lupa beri tahu, Mom. Mom dan Lona begitu mengkhawatirkannya," jawab nyonya Zeline lalu memutuskan panggilan itu.
__ADS_1
"Bagaiman, Mom. Sekretatis Aron bilang apa?" Tanya Lona kuatir.
"Dia lagi mencari informasi. Dia bilang kita harus tenang dan jangan berpikiran buruk. Sebentar lagi dia akan datang."
"Mom, aku takut terjadi apa-apa pada kak Devan. Bagaimana kalau dia tidak pulang, Mom. Aku mencintainya, Mom. Aku hanya belum siap, makanya aku menolak ajakannya untuk menikah. Aku ingin sekali menikah dengannya, Mom. Putraku membutuhkannya. Apa yang akan aku lakukan tanpanya," Sesal Lona kala mengingat saat ia menolak keinginan Devan untuk menikahinya.
"Tenanglah sayang. Mom yakin Devan akan baik-baik saja." Ujar Nyonya Zeline menenangkan Lona.
Tak lama sekretatis Aron datang, dengan membawa berita yang membuat Lona jatuh pingsan.
Bersambung ......
.
.
.
__ADS_1
.
Like, komen, hadiah, vote, dan rate bintang 5 nya ya ππππ