
π₯π₯π₯
Sampai di hotel, Lona langsung berlari menuju kamarnya. Lalu mengunci pintu kamarnya erat, bersembunyi di dalam kamar, dengan tujuan melindungi dirinya dari amukan taun Devan.
Dipojok dinding, Lona menekuk erat lututnya. Wajahnya ia sembunyikan di balik lututnya. Memikirkan apa yang akan tuan Devan lakukan padanya. Membuat air matanya mengalir begitu deras.
Didalam lift, tuan Devan sudah memikirkan segela hukuman yang akan ia berikan kepada Lona. Jika Ayah Loja Lona telah membunuh Daddynya. Maka Lona telah membuatnya kehilangan babynya, juga wanita yang ia cintai. Ia tak akan membiarkan Lona begitu saja. Ia akan membalaskan semua yang telah Lona lakukan juga Daddynya lakukan.
Melewati ruang tamu, melewati dapur, tuan Devan berhenti di depan kamar Lona. Memutar gangang pintu dengan kasar.
"Wanita sialan! Cepat buka pintunya." Seru tuan Devan dengan mada tinggi.
Mendengar teriakan tuan Devan. Lona semakin ketakutan, gemetaran, Lona semakin mengeratkan pelukan pada kakinya.
Tak ada sautan dari dalam, dengan langkah lebar tuan Devan menuju sebuah nakas disampingnya. Membuka salah satu lemari kecil, ia berhasil mendapatkan kunci cadangan untuk kamar Lona. Bergegas ia membuka kamar Lona.
Braaak....
Tuan Devan membuka pintu dengan kencang, menimbulkan suara yang membuat Lona kaget. Tak peduli Lona semakin memeluk erat kakinya, di pojokkan.
Dengan langkah lebar, tuan Devan menuju pojok dinding, tempat Lona bersembunyi.
Dengan salah satu tanganya, ia gunakan untuk menarik rambut kasar agar berdiri.
"Lepaskan, tuan. Ini sangat sakit tuan," lirih Lona seakan tak bertenaga. Ya! Ia sudah mengira hal seperti itu akan terjadi.
"Apa yang kau lakukan pada Myla ha! Apa kesalahan yang ia lakukan hingga kau membunuhnya. Kau tidak ada bedanya dengan Ayahmu. Kalian berdua sama-sama hina. Sama-sama pembunuh." Bentak mengeratkan cengkramannya pada rambut Lona.
"Apa maksud anda, tuan. Saya tidak membunuh Nona Myla. Dia terjatuh sendiri, taun. Bukan saya yang mendorongnya. Saya berani bersumpah saya bukanlah seorang pembunuh," lirih Lona memejamkan matanya merasai sakit di kulit kepalanya.
"Berani sekali kau menjawabku! Kau adalah pembunuh. Kau telah membunuh Myka kekasihku juga babyku. Dan aku akan membalas semua perbuatanmu. Aku akan menyiksamu seumur hidupmu, Lona. Kau tidak akan bisa lolos dariku. Aku akan membuatmu Hidup tersiksa dan membunuhmu pelan-pelan," teriak tuan Devan menghentakkan cengkramannya pada rambut Lona. Hingga membuat Lona tersungkur dilantai, dengan memar dikeningnya akibat terbentur dinding.
__ADS_1
"Saya mohon jangan lakukan itu pada saya, tuan. Saya tidak membunuh Nona Myla. Saya berani bersumpah, tuan. Saya mohon percayalah," ujar Lona lirih dengan berlinang air mata.
"Kau kira aku akan percaya padamu. Pembunuh mana yang mau mengakui kalau dia adalah seorang pembunuh. Kau adalah pembunuh, darah ayahmu mengalir padamu." Ujar tuan Devan mengapit pipi Lona kasar.
"Ayah saya memang melakukan tindakan kriminal tuan. Tapi, tidak dengan saya," jawab Lona meringis menahan sakit pada keduan pipinya.
"Kau semakin berani melawanku ha!" Bentak tuan Devan melepaskan cengkramannya pada dagu Lona dengan kasar.
Setelah itu, tuan Devan keluar dari kamar Lona. Mengunci kamar Lian dari luar.
Lona hanya dapat menangisi nasibnya yang begitu tak diinginkannya. Rasa sakit ditubuhnya semakin bertambah banyak, membuatnya ingin segera mengakhiri segalanya.
π₯π₯π₯
Di kantor, sekretatis Aron sangat sibuk karena ialah yang mengerjaka semua tugas tuannya. Yang hari ini tidak bisa datang ke kantor.
Saking sibuknya, ia Samapi melupakan makan siangnya. Meraih telpon dimejannya, ia segera menelpon karyawan yang bertugas dibelakang.
"Segera datang ke ruangan saya!" Titahnya singkat lalu memutuskan panggilan sepihak.
"Gunakan kartu itu, belikan saya makanan. Apau itu yang penting bisa dimakan," ucap sekretaris Aron, meggeserkan kartunya pada Anna. Tanpa mengalihkan tatapannya pada komputer dihadapannya.
"Baik, tuan," jawab Anna tersenyum memandang wajah sekretaris Aron yang tampak lebih tampan saat sedang serius bekerja. Cinta memang dekat dengan Gila. Lihat betapa Gilanya seorang putri kerajaan saat sedang jatuh cinta.
Ia bahkan rela meninggalkan kerajaan, juga adiknya sendiri. Demi mengejar Cintanya yang bahkan tak diliri sama sekali oleh sang doi.
Putri Grizelle Anna, ia adalah seorang kakak dari Putri Grizelle Zanna. Ia dan sang adik adalah keturuna kerajaan Grizelle di negara D. Karena suatu hal ia dan sang adik tak lagi tinggal di negaranya. Ia dan sang adik merelakan Tahta mereka untuk diberikan pada Pangeran Jain. Yang tak lain adalah sepupu mereka sendiri. Anna dan Zanna, keduannya adalah seorang perempuan. Mereka tak punya nyali yang besar untuk memimpin negara mereka. Melihat betapa tegas dan bijaksananya sang sepupu. ( di novel my bossy my husband).
Dengan semangat Anna kuluar dari ruangan sekretaris Aron. Menuju sebuah restoran yang berada tak jauh dari perusahaan. Ia membeli beberapa makanan mewah disana.
Begitu mendapatkan mekanan yang ia pesan. Anna langsung bergegas kembali ke perusahaan. Menuju ruangan sekretaris Aron, ia memberikan makanan yang ia beli pada sekretaris Aron.
__ADS_1
"Ini pesanan anda tuan," ujar Anna.
"Siapkan dimeja," titah sekretaris Aron singkat.
"Baik, tuan," jawab Anna langsung menuju meja, dan menata boks makanan yang ia beli disana.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya. Sekretaris Aron menuju meja yang ada diruangnya. Untuk menyantap makan siangnya.
"Selamat makan siang, tuan. Saya pergi dulu," izin Anna ramah.
"Kau mau kemana?" Tanya sekretaris Aron menatap Anna untuk yang pertama kalinya.
"Sa-saya ma-mau kembali be-bekerja, tuan" jawab Anna terbata-bata karena gugup.
"Temani aku makan," ujar sekretaris Aron membuat Anna semakin gugup.
"Ta-tapi tu..." Jawab Anna terhenti karena langsung dipotong oleh sekretaris Aron.
"Ini perintah. Saya bosan makan sendirian," jawab Sekretaris Aron membuat Anna menelan salivannya bersusah payah.
"Ba-baik, tuan," jawab Anna pada akhirnya.
πππ
Like, komen, hadiah, dan, vote.
Rate bintang 5 pleaseeeee
Maafkan typonya
Selamat membaca dan semoga suka
__ADS_1
Lopeeeee readerssss π
π₯π