
π₯π₯π₯
Di perusahaan:
"Tuan, tuan dimana?" Pannggil Anna, berusaha mencari keberadaan sekretatis Aron.
Tok ... Tok ...
"Aaaakh ..."
Teriak Anna kaget, karena tiba-tiba Sekretaris Aron menarik salah aatu tangannya, ketika ia sedang mengetuk pintu kamar mandi.
Anna begitu terkejut, dengan penampilan sekretaris Aron yang tidak memakai sehelai benang pun kala itu.
Anna lebih terkejut lagi, katika sekretaris Aron mengunci tubuhnya di dinding kamar mandi yang luas itu. Mata Anna membulat sempurna saat kini sekretaris Aron ******* bibirnya dengan kasar.
"Hemp ..." Anna berusaha memberontak, tapi sia-sia. Andai dia punya kekuatan seperti adiknya Zanna. Mungkin ia tidak akan pernah mendapatkan pelecehan seperti saat ini. Tapi sayangnya, yang melecehkannya sekarang, adalah lelaki yang selama ini diam-diam ia sukai.
__ADS_1
Cium*n panas itu, benar-benar membuatnya bimbang. Jika hatinya berkata Tidak, lain lagi dengan insting tubuhnya yang begitu menikmati adegan yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Anna begitu bimbang, tapi tubuhnya menikmati. Itulah yang terjadi padanya. Haruskah ia menyerahkan dirinya untuk lelaki yang begitu ia cintai.
Tidak! Ini tidaklah benar. Ia harus memastikan terlebih dahulu, apakah lelaki itu mau bertanggung jawab atasnya.
Tidak! Itu juga tidak benar. Hal seperti ini tidak boleh terjadi. Anna bukanlah keturunan barat yang bila melakukan hal sepeti ini sebelum menikah, tidaklah apa-apa.
Berbeda dengan di negara kerajaanya, dimana keperawanan itu adalah sebuah kesucian. Jika seseorang perempuan sudah tak perawan sebelum menikah, maka perempuan itu bukanlah manusia pada umumnya. Tapi, ia akan diangap lebih Hina dari kaum hewan.
Sadar akan tradisinya, Anna berusaha melepaskan diri dari sekretaris Aron yang kini semakin tak sopan memperlakukan tubuhnya.
Karena sedari tadi menikmati, Anna baru menyadari, jika benang dibagian atas tubuhnya telah meninggalkannya. Tubuh bagian atasnya telah polos. Terlihat bagaimana gemasnya sekretaris Aron memainkan dua gundukkannya.
"Tuan, jangan tuan. Saya mohon lepaskan saya. Saya mohon lepaskan saya, tuan," teriak Anna berusaha melepas diri.
Teriakan Anna, tak kunjung menyurutkan aksi sekretaris Aron. Ia terus memainkan dibagian kesukannya. Dengan insting kelelakian-nya, ia mengangkat tubuh Anna keluar dari kamar mandi menuju ranjangnya.
__ADS_1
"Tuan, lepaskan saya. Tolooooong," teriak Anna semakin berontak. Tubuh yang kurus dan kecil, serta tenaga yang lemah, bukanlah tandingan sekretaris Aron yang begitu kekar dan perkasa.
Teriak pun percuma, karena kini, hanya ada mereka berdua di perusahaan besar dan luas itu. Siapa yang akan menolongnya.
"Tuan, saya mohon jangan lakukan ini pada saya tuan. Saya mohon lepaskan saya, tuan," lirih Anna pasrah. Ia sadar jika hanya berteriak dan berontak hanya akan membuatnya kehabisan tenaga. Hingga pada akhirnya, pasrah menjadi pilihan Anna.
"Anna aku mohon, biarkan aku melakukannya. Aku diberi obat perangsang Anna, aku bisa gila jika tidak melakukannya. Aku berjanji akan bertanggung jawab atasmu. Bukankah kau menyukaiku." Jawab Sekretaris Aron dengan nafasnya yang memburu.
Mendengar perkataan sekretaris Aron, membuat Anna begitu terkejut. Haruskah ia merelakan tubuhnya demi menyelamatkan lelaki yang ia cintai.
Iya!
Menjadi jawaban serta pilihan seorang Anna, yang memang telah Buta karena cinta.
Anna yang tidak menjawab apapun. Diangap Iya oleh sekretaris Aron. Dan sekretaris Aron pun melakukan hal yang seharusnya ia lakukan sedari tadi.
πππ
__ADS_1