
Aku berjalan menyusuri gang kecil yang gelap dan becek, sisa hujan sore tadi. Gang kecil yang semakin sempit saat mereka menyimpan barang tergeletak begitu saja.
Menyusahkan orang lewat saja! Ck.
Apapun situasinya, aku harus terima. Bisa tidur pun sudah sangat bersyukur. Entah panas, keras, dan sempit tempat tinggalku.
Setelah lima ratus meter berjalan dari jalan utama menuju kontrakan yang hanya ada kamar dan kamar mandi, akhirnya aku sampai di depan pintu.
Kunci belum pun terbuka. Tiba-tiba sebuah tangan dengan kasarnya menarik bahu hingga aku berbalik arah.
Astaga! mereka penagih hutang. Bagaimana ini? lari pun percuma, mereka berdua sudah mengepungku. Shit!
"Nape, Lo? mau kabur? coba aje."
"Kagak, bang! siapa yang mau kabur. Gua cuma kaget aja barusan," kilahku.
"Bebal, Lo! bikin kerjaan gue kagak kelar-kelar. Sekarang, cepetan bayar, kagak ada toleransi lagi. Pokonya, kalau mau selamat Lo harus bayar."
"Kalo Lo kagak bayar, gue gibeng juga!" ancam mereka. Sebagai seorang wanita aku merasa takut, mau bagaimana? ini sudah bagian hidupku.
"Aduh, bang. Gue kagak ada duit sekarang. Minggu depan, yak. Gue janji, gue bakalan bayar."
"Janji mulu bisanya. Lo pikir kite ini bloon? kagak! kali ini kagak ada janji-janji. Lo bayar pokoknya hutang Bapak Lo itu. Lagian, kagak punya duit pake judi segala. Ngutang pula."
"Gue beneran, bang. Kagak ada duit, gue belom gajian."
"Halahhhh! kebanyakan bacot!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi. Panas dan perih.
"Ampun, bang. Gue janji bakalan bayar."
"Kagak bisa! Lo bayar atau gue hajar."
"Bang, gue beneran kagak ada duit. Gue harus bayar pake apa?" ucapku di sela tangisan dengan tangan masih memegang pipi yang perih.
"Pake ini, nih."
Plak!
Bugh!
Dzigh!
__ADS_1
Rintihan dan tangisanku tak mereka gubris.
"Awas Lo! Minggu depan gue balik lagi, Lo harus bayar pokoknya. Kalau kagak!? gue bakalan habisin Lo. Ngerti?"
Aku tidak menghiraukan lagi apa yang mereka katakan. Nyeri di sekujur tubuhku membuatku benar-benar sangat tidak berdaya. Merek pergi dengan meninggalkan satu tendangan di bahuku.
Argh. Sialan! kenapa juga aku harus memiliki orang tua ******** seperti bapak.
Dengan sisa tenaga yang aku miliki, aku berusaha bangkit. Rasanya ada yang mengucur hangat di wajahku, bau anyir.
Tanganku bergetar saat hendak membuka pintu. Langkah yang ku seret masuk ke dalam, dan segera membaringkan tubuh di atas kasur yang sudah seperti papan penggilasan pakaian.
Mungkin, dengan tidur bisa melupakan segala rasa dan kepedihan yang aku alami. Semoga aku bisa bahagia sedikit saja, meski hanya dalam mimpi.
Mataku mengerjap. Perlahan aku buka mata yang masih terasa sangat berat. Suara berisik para tetangga membuat aku terbangun dari tidur.
Kepalaku terasa sangat sakit. Beberapa bagian di wajah terasa perih. Perutku rasanya enek. Dengan mata yang sesekali terpejam kembali, aku mencoba berdiri memegang apapun yang bisa ku pegang untuk membantuku berdiri.
Ada luka di bagian pelipis. Darah kering menjuntai sampai dagu. Segera ku lap agar baunya segera lenyap.
Sudut bibir membiru. Kedua pipiku terlihat cap lima jari. Belum lagi perutku yang sangat sakit. Bahu yang terasa pegal hebat.
Berharap rasa sakit ini sedikit luntur saat aku mengguyur tubuh dengan air. Air yang terasa sedikit asin dan licin di kulit.
Memakai kaos putih pendek, yang sebenarnya sudah tidak terlihat putih lagi. Celana jeans hitam yang sudah memudar dan hampir terlihat memerah.
"Ngenes amar hidup, Lo. Punya bapak bisanya nyushin aje anak. Miskin kok belagu."
"Yee. Itu mah nasib si Kinan aje, jelek. Kagak ada bagus-bagusnye."
"Padahal dia cantik, kenapa kagak jadi istri simpanan aje, yepan."
"Cantik juga, kagak terawat mana ada yang mau."
Ocehan mereka perlahan samar saat langkah kaki ini semakin menjauh. Biarkan mereka menceritakan kisahku yang begitu menarik. Siapa sih, yang tidak tertarik dengan kehidupan Kinanti? Meski miskin, dia itu Syahrininya 'gang neraka', begitulah aku menyebutnya.
Kenapa nih angkot kagak lewat-lewat, yak.
Lama aku menunggu, tak ada satupun yang lewat. Tidak mustahil, hal ini akan membuat aku terlambat masuk kerja.
Ish! ada apa hari ini? apakah mereka sedang berdemo? apa mereka sudah mendadak kaya dan tidak mau narik angkot lagi?
Setelah tiga puluh menit menunggu, akhirnya angkot datang juga. Aku melambaikan tangan. Begitu berhenti di depanku, aku segera masuk.
Angkot ini berhenti di sebarang gedung tempat aku bekerja. Untuk menuju kantor, aku harus naik jembatan penyebrangan yang cukup menguras tenaga.
__ADS_1
Halah! bos sudah terlihat kecut. Gue kena marah lagi aja ini, sih.
"Enak benerrrrr ... serasa kantor milik sendiri ya, Neng!"
"Maaf, Bos. Angkot yang biasa lewat sini, terlambat." aku menundukkan kepala dalam.
"Kamu pikir, alasan kamu yang basi ini bisa saya tolerir? tidak! kamu harus mendapatkan hukuman."
"Tapi, Bos. Saya benar-benar terlambat karena angkotnya enggak datang-datang."
"Sama saja! kalau kamu bangun lebih pagi, pasti tidak akan terlambat. Dasar kamunya aja yang pemalas."
"Iya, Bos. Saya minta maaf." aku berlutut, beharap akan ada maaf dari atasanku. Aku masih sangat membutuhkan pekerjaan ini. Bekerja sebagai cleaning service.
"Kamu saya pecat!"
"Jangan, Bos. Saya mohon, jangan pecat saya. Saya masih sangat butuh pekerjaan ini. Tolong ...." aku bersimpuh hampir sujud di kakinya. Dia menepis dan menendang kecil. Berusaha melepas tangan yang menempel di kakinya. "Saya mohon, Bos. Jangan pecat saya."
"Lepaskan! kamu apa-apaan ini, sudah saya bilang, kamu saya pecat!"
"Jangan, Bos." aku semakin memohon dengan memegang kedua kakinya.
"Lepaskan saya bilang!"
"Tidak, saya tidak akan melepaskan kaki Bos. Saya mohon, jangan pecat saya." aku menangis. Atasanku berusaha kerasa melepaskan diri, gerakan seperti menendang membuat perut bahkan wajahku yang terkena kakinya semakin sakit.
"Ada apa ini?" tanya seorang laki-laki dengan suara berat menggema.
"Presdir." ucap atasanku gugup. Mendengar nama Presdir, aku segera melepas kaki atasanku, segera membenahi posisi dudukku seperti seorang sinden. Aku bisa melihat sepasang kaki dengan sepatu yang mengkilap ada tepat di hadapanku.
"Kamu, berdiri," perintahnya padaku. Pasti padaku karena hanya aku yang duduk saat itu. Dengan memetik jari jemariku karena gugup, aku mencoba berdiri dengan rasa sakit di sekujur tubuh akibat semalam.
"Saya minta maaf, Pak. Saya terlambat karena angkot yang saya naiki terlambat datang."
"Kenapa kami selalu mendudukkan kepala? saya ini bukan raja," ketusnya. "Angkat kepalamu, liat orang yang sedang menjadi lawan bicaramu."
Sebenarnya aku tidak ingin menunjukkan wajahku yang banyak belur, hanya saja aku tidak punya pilihan. Semoga saja dia lebih mau mengerti dan tidak memecat aku dari perusahaannya.
Dengan perlahan aku mengangkat wajah. Menatap wajahnya hingga mata kami saling bertemu. Dia menggerakkan kepala sedikit miring saat melihat kondisi wajahku. Aku tau, dia pasti heran.
Entah kenapa, aku tidak bisa menarik mata dari pandangannya. Hingga untuk waktu yang agak lama kami saling menatap satu sama lain.
TO BE CONTINUE ....
__ADS_1
Kinanti, 27 tahun.