
...Prang!!!...
Karena begitu terkejut, aku tidak sengaja menjatuhkan sesuatu hingga pecah.
"Tidak, jangan itu," gumam Presdir. Dia berlari ke arahku. Berjongkok lalu memunguti pecahan keramik yang tadi aku jatuhkan.
"Jangan, jangan yang ini. Pliss." Tangannya bergetar. Pecahan itu terlalu kecil hingga tidak bisa di ambil. Dia putus asa, menangisi dan segera bangkit.
"Pres-presdir, sa-sa-sakit." Aku kesulitan bernafas saat cengkraman tangannya begitu kuat mencekik leherku.
"Beraninya kamu masuk kemari." Dia begitu marah, matanya memerah dengan rahang yang mengeras.
"To-tolong, le-le-pas-kan say-sayah." Aku begitu sesak. Rasanya kepalaku mulai sakit. Pandangan mataku terasa pudar. Aku berusaha meraih kerahnya dengan tangan yang bergetar.
Aku merasa mulai lemas. Dengan penglihatan yang samar, tanganku menyentuh wajahnya. Hingga aku benar-benar lemas dan tidak sadarkan diri.
πΊπΊ
Kepalaku terasa pusing. Namun, aku merasa sedang tertidur di tempat yang nyaman. Samar terdengar suara jarum jam. Perlahan aku membuka mata. Silau. Aku kembali menutup mata. Selang beberapa menit, aku berusaha membuka mata kembali. Mengerjap. Hingga aku bisa melihat sekeliling.
Aku masih berada di kamar yang sama. Aku memejamkan mata dalam karena rasa sakit di bagian pangkal hidung.
Memijat kening perlahan. Lalu berusaha bangkit. Duduk dan berusaha mengatur nafas. Saat aku menoleh, aku melihat Presdir sedang duduk di kursi, persisi di samping tempat aku berada, kini.
Dia memang sangat tampan.
Saat sedang tidur, dia terlihat begitu tenang. Hanya saja, saat dia membuka mata, aku tidak mengerti dirinya. Dia sangat baik, tapi terkadang begitu menakutkan. Sulit di tebak.
Tenggorokan ku kering. Perlahan aku turun dari ranjang. Berjalan untuk mengambil air minum. Dimana airnya? apa di sini tidak ada air minum? aahh! kepalaku.
"Mau kemana?"
"Hh? Presdir? anda sudah bangun?"
"Kenapa turun?"
"Aku haus. Tapi di sini tidak ada air. Aku akan mengambilnya ke dapur."
"Tunggu saja di sini, aku akan menyuruh pelayan membawakannya."
"Tapi Presdir."
"Ada apa?"
__ADS_1
"Perut saya juga minta di isi."
Presdir melirik jam. "Ah, ini sudah larut rupanya. Baiklah, sekalian kita makan malam di sini saja,"
Aku kembali duduk di ranjang. Sementara presdir keluar kamar. Hanya berselang berapa menit dia sudah kembali. Dan duduk di tempat saat dia tertidur. Dia duduk sambil menatapku.
"Presdir,"
"Panggil aku Jun saat kita hanya berdua."
"Apa?" tanyaku, bukan karena aku tidak mendengar. Aku hanya merasa aneh saja. Dia menatapku begitu tajam. "Ba-baiklah, Jun."
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
Aku menghela nafas. "Kenapa hidupku begitu rumit? waktu itu, di hajar dua orang preman. Kemudian aku bertemu dengan Anda, aku ke klinik dan bertemu dengan Evan." Ah, Evan. Kamu dimana sekarang?
"Dia menyelamatkan diriku, menjadikan aku seperti ratu di rumah ini. Memberiku semua fasilitas dan materi. Memberiku kasih sayang dan cinta." Aku mulai menangis. "Bahkan, saat aku tau di beristri, rasa ini tidak berkurang sedikitpun. Aneh bukan?" Aku menyeka air mata.
"Anda, entah kenapa setiap saya melihat Anda, saya tidak pernah bisa berpaling ke lain tempat. Anda begitu dingin meski tidak sampai beku. Terasa baik tapi juga begitu kejam." aku ingat bagaimana dia mencekik leherku tadi.
"Kemana Evan sekarang? rumah siapa ini? siapa wanita tadi? kepalaku begitu berat memikirkannya."
"Keramik yang kamu pecahkan tadi adalah milik mendiang ibuku. Dia meninggal karena mengalami serangan jantung saat mengetahui ayahku memiliki istri lain, Evan adalah anak selingkuhan ayahku."
"Apa?"
"Evan sudah beristri, dia memiliki dua orang anak. Perusahaan kami saat ini, penyokong dana terbesarnya adalah mertua Evan. Jadi, sekeras apapun kalian saling mencintai, Evan tidak akan meninggalkan istrinya karena itu akan menghancurkan segalanya."
"Aku tidak akan mengambil Evan seutuhnya. Sebagai istri kedua pun itu cukup bagiku."
"Istri kedua? bahkan jika istri Evan tau hubungan kalian, mungkin akan ada hal yang akan membuatmu menyesal."
"Kenapa? aku dan Evan saling mencintai."
"Dan Evan sangat di cintai istrinya."
Aku hanya bisa menelan ludah. Aku membenarkan apa yang Jun katakan adalah suatu kebenaran. Hanya saja, hatiku tidak bisa berbohong. Aku mencintainya. Evan.
"Permisi, Tuan. Ini makanan yang Anda minta."
"Tata semua di meja, Bi."
"Baik, Tuan." Bibi dan beberapa pelayan menyajikan makanan di meja. Aku yang sedari tadi merasa lapar, kini sudah tidak bernafsu lagi.
"Saya permisi, Tuan, Nona."
__ADS_1
"Ya, terima kasih, Bi."
"Sama-sama." Bibi membungkuk, kemudian keluar dari kamar.
"Ayo, kita makan. Bukankah tadi kamu bilang lapar."
"Sudah tidak berselera." aku membaringkan tubuh di atas ranjang. Menarik selimut lalu menutupi tubuh sampai ke dada. Membelakangi Jun.
"Makanlah sedikit. Kalau kamu sakit, aku yang akan repot."
"Saya akan kembali ke kontrakan. Anda tidak akan kerepotan lagi."
"Begitukah? lalu bagaimana dengan keramik yang kamu pecahkan?"
"Saya akan menggantinya." aku menarik selimut menutupi seluruh tubuh hingga kepala.
"Kamu harus menggantinya sebesar 50 juta dolar Amerika."
Aku membuka mata lebar-lebar saat mendengar apa yang dia ucapkan. Bagaimana bisa aku mengganti dengan 50 juta dolar! lima puluh juta rupiah saja aku tidak punya. Laki-laki ini, kenapa?
"Apa anda tidak merasa ini keterlaluan?" aku bertanya. Membuka selimut dan duduk menghadap dirinya.
"Itu peninggalan mendiang ibuku, apa kamu bisa meminta ibuku membuatkannya lagi? silahkan kalau begitu, coba saja. Maka kamu akan selamat."
Sialan! mana bisa aku meminta orang yang sudah tidak ada, membuat keramik. Gila!
"Tapi, saya tidak punya uang, Presdir."
"Jun."
"Iya, Jun. Anda tau sendiri bagaimana kondisi saya, bukan?"
"Ada satu solusi untuk keluar dari masalah ini. Apa kamu mau?"
"Ya, saya mau. Tidak ada pilihan lain kan?"
"Yakin? bahkan aku belum mengatakan apa solusinya."
"Hidup saya tidak pernah berada di posisi memilih, salin terpaksa menerima keadaan."
"Menikahlah denganku."
"Apa?"
πΊπΊπΊπΊ
__ADS_1