
Aku hanya bisa berdiri mematung hampir beku. Apa yang aku lihat hari ini tepat seminggu setelah aku keluar dari rumah sakit.
Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di rumah Jun yang sesungguhnya. Jangan di tanya seberapa besar dan mewahnya rumah ini. Akan tetapi bukan itu yang membuat aku membuka mulut dengan kedua telapak tangan di depannya.
"Aku tau kamu akan seperti ini. Duduklah."
Aku hanya bisa menurut. Tanpa menolak dan tapa reaksi. Hanya diam terpaku.
Evan, Laras, Yesi, Jun dan ayah mertuaku berkumpul di sana. Hanya saja ada dua orang yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Wanita yang Jun sebut sebagai istri. Seorang anak perempuan sekitar 5 tahun, dia adalah anak Jun.
"Maaf aku tidak memberitahumu sebelumnya. Situasi ini memang rumit dan sangat membingungkan. Aku bahkan tidak tau harus menjelaskannya dari mana."
"Intinya, Kakak hanya harus tau, bahwa Kak Jun tulus mencintai Kakak," jelas Yesi. Aku melirik wanita yang bernama Yasmin. Dia tampak tenang dengan penjelasannya Yesi. Bukankah harusnya dia marah atau cemburu?
"Aku tidak apa-apa. Kamu jangan khawatir." Yasmin seolah mengerti dengan apa yang ada di kepalaku.
"Adakah yang bisa menjelaskan semuanya dari awal? kalian ini sebenarnya siapa? apa yang kalian inginkan dari wanita rendahan seperti saya?" tanyaku dengan nada yang bergetar.
"Kinan, tenanglah. Kami semua akan menjelaskannya padamu," ucap Ayah.
"Presdir?"
"Lebih baik kita pergi dari sini. Aku akan menjelaskannya padamu, berdua saja."
Tanpa bertanya dan tanpa berpameran pada Siapapun, Jun menarik tanganku. Dia membawaku ke lantai atas. Masuk ke dalam sebuah kamar yang lebih pantas di sebut rumah. Besar.
__ADS_1
Hening. Aku terdiam karena bingung. Jun pun terdiam. Entah apa yang sedang dia pikirkan.
"Aku tidak tau harus menjelaskannya dari mana? Aku hanya akan menjawab apa yang kamu tanyakan."
"Evan. Jelaskan tentang dia dulu. Apa perasaannya tulus padaku atauโ"
"Aku tidak tau, dia tidak pernah mengatakan apapun padaku. Lagipula, kami memang tidak terlalu dekat."
"Baiklah. Kalau begitu jelaskan kenapa dia membawaku ke rumahmu?"
"Aku." Jun berjalan menuju jendela. Menatap jauh ke depan.
"Aku yang memintanya."
"Kenapa?"
"Hanya itu saja? benarkah?"
"Aku melihatmu bukan hanya sekali, pertemanan kita saat kamu babak belur, bukan untuk yang pertama kali. Aku sering melihatmu. Karyawan rendahan yang selalu hidup sendiri. Bekerja sendiri, melakukan apapun sendiri. Aku penasaran dan mulai mencari tau siapa dirimu."
Jun berbalik badan. Dia menatapku dengan mata nanar.
"Aku teringat pada diriku sendiri. Saat keluargaku hancur karena sikap ayah. Aku selalu sendiri tanpa teman ataupun sodara."
"Aku meminta Evan merawatmu saat itu. Meminta bantuannya untuk menjagamu. Hanya saja, Evan yang membawamu diluar rencanaku, setelah mendengar penjelasan dari Evan bahwa preman itu datang lagi, maka aku setuju untukmu tinggal di rumahku."
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Aku tidak menyangka kalian akan sejauh itu. Aku menyuruh dia pergi dari rumah, melanjutkan rencanaku sendiri."
"Apa pernikahan ini adalah bagian dari rencana?"
"Tidak. Aku menikahimu karena ingin melindunginya mu dari Laras. Dia tau hubungan kamu dan Jun. Hanya dengan kamu menjadi bagian dari keluarga ini, dia tidak akan berani menyentuhmu."
"Hh! menyedihkan. Bahkan sekarang aku merasa seperti pelakor. Menikahi pria yang sudah beristri. Itupun laki-laki yang menikah denganku, tidak memiliki perasaan apapun."
"Kinan ...."
"Aku hanya wanita yang terlalu berhayal tinggi. Bermimpi akan ada pangeran berkuda putih yang menjemputku dan melindungi diriku. Ternyata? aku hanya terjebak dalam permainan konyol kalian."
"Kinan, dengarkan apa Yesi bilang."
"Aku tidak akan menerima ketulusan dari laki-laki yang sudah beristri. Dulu, aku memang sangat mencintai Evan hingga aku menerima dengan ikhlas kenyataan bahwa dia sudah beristri. Sekarang? aku bahkan tidak ingin ada di sini. Ahhh, maaf. Sejak kapan saya bersikap tidak sopan pada Anda, Presdir," sindirku. Aku bergegas keluar kamar. Menuruni tangga dan segera pergi dengan berlari kecil. Aku tidak perduli meski seluruh anggota keluarga memanggil namaku.
Bahkan dia, Jun, tidak terdengar memanggilku. Dia bilang dia tulus padaku, apanya yang tulus? belas kasihnya kah?
Kalau memang dia mencintaiku, seharusnya dia mengejarku bukan? lagi pula untuk apa? dia sudah memiliki istri dan anak.
Tidak kuperdulikan telapak kaki yang terasa panas karena menginjak aspal tanpa alas. Saat ini yang aku inginkan hanyalah pergi sejauh mungkin.
Kali ini jangan menangis Kinan, kamu harus kuat. Untuk apa menangisi mereka yang benar-benar menjadikanmu kelinci permainan.
__ADS_1
๐บ๐บ๐บ๐บ