Bukan Pangeran Berkuda

Bukan Pangeran Berkuda
Kisah di Bathtub


__ADS_3

Ah! rasanya badanku remuk semua. Aku meregangkan tubuh. Waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari.


"Dia bilang, acaranya sederhana. Apanya yang sederhana? tamu ribuan yang datang. Acara super megah dan mewah." aku membaringkan tubuh di atas kasur di hotel tempat kami mengadakan acara pesta.


Bagaimanapun juga dia orang terpandang dengan kolega dimana-mana. Wajar kurasa.


"Nona. Permisi."


"Ya, ada apa?" jawabku malas.


"Kita bersihkan tubuh dulu. Saya sudah menyiapkan air hangat dengan aroma terapi. Nona akan merasa rileks."


"Berhentilah memanggilku Nona, tidak ada Presdir di ruangan ini. Santai lah."


"Panggil dia Nyonya. Apa kalian lupa bahwa dia sudah menjadi istriku."


Hadeuhhhhhh. Apa lagi ini?


"Ba-baik, Presdir. Kami minta maaf."


"Keluarlah. Biarkan dia istirahat."


"Baik. Kami permisi, Presdir."


Apa? aku hanya berdua sekarang. Ah! tenang saja, di kontrak tertulis bahwa aku tidak boleh menyentuhnya.


"Ayo, bangun. Bersihkan dulu tubuhmu."


"Kenapa mereka anda usir, Presdir? bukankah mereka yang bertugas mengurus tubuhku ini? aku bahkan tidak tau botol mana yang untuk tubuh, mana yang harus aku pakai terlebih dahulu."


"Berendam saja. Itu akan membuat kamu fresh."


"Bisakah saya istirahat sebentar? rasanya sangat lelah ...," ucapku. Rasa kantuk membuat aku tertidur.


๐ŸŒบ


Aku merasa wajahku hangat. Mataku terpejam tapi aku bisa merasakan silau. Rasanya cahaya itu menusuk bola mataku. Sepertinya matahari telah terbit sejak lama.


Perlahan aku membuka mata. Samar.



"Astaga! mengagetkan saja." Aku terkejut saat mataku membulat sempurna, aku melihat dia di depan mukaku begitu dekat.


"Apa tidurmu nyenyak?" tanyanya. Aku tidak menjawab. Berusaha bangun.


Tangannya menarik tubuhku kembali ke tempat semula. Kami berhadapan dan saling menatap. Matanya ... O, ya ampun.


"Ada apa? apa kamu terkesima melihatku?" godanya. "Kamu seperti bangkai saat sedang tertidur. Bahkan, kamu tidak sadar apa yang telah aku lakukan. Ckckck!"


"Memangnya apa yang anda lakukan, Presdir? bukankah di dalam perjanjian, kita tidak boleh saling menyentuh. Lalu?"


"Dalam kontrak tertulis Pihak wanita tidak boleh sesuka hati menyentuh pihak pria," jelasnya.


"Apa?" apa itu artinya dia sendiri boleh menyentuhku? dan ... tunggu, bukankah kemarin tertulis bahwa aku sama sekali tidak boleh menyentuhnya?


"Aku sudah merubah isi kontrak kita. Sekarang, cepat bangun dan mandi."


"Bagaimana aku bisa mandi jika tangan anda menahan tubuh saya, Presdir?"


"Ah, maaf, aku lupa. Silahkan." Dia mengangkat tangannya dari punggungku yang sedari tadi dia tahan.


Aku bangun. Menuruni kasur dan berjalan menuju kamar mandi. Aku melihat cermin, dan mendapati diriku begitu 'hancur'. Rambut yang seperti singa, wajah dengan bagian mata yang hitam dan bibi yang belepotan. Kenapa bisa belepotan seperti ini? ckck! Aku menggelengkan kepala melihat kondisi tubuhku.

__ADS_1


Aku memutar badan di depan cermin. Dan ... Astaga! kenapa bajuku jadi baju tidur? bukankah semalam aku masih memakai gaun resepsi? lengkap dengan perhiasan danโ€“, apa jangan-jangan ....


Aku segera menoleh. Mengangkat sudut bibirku ke atas. Mata melotot dengan tangan yang berkacak pinggang.


"Kenapa? apa suami tidak boleh mengganti pakaian istrinya? sudahlah, sekarang pergilah ke kamar mandi. Bersihkan tubuh dan wajahmu, menakutkan sekali." Dia terlihat begitu santai dengan koran di tangannya. Duduk di sofa dengan kaki yang saling menumpang.


"Akan saya buat anda menyesal telah menikahi saya, Presdir." aku menggertak.


"Lakukan apapun. Sekarang mandilah."


Aku mendengkus kesal. Membalikan badan dan berjalan dengan langkah yang sengaja di tekan kuat.


Ahhh ... rasanya nyaman sekali. Berendam di air hangat setelah sehari semalam berdiri menyambut tamu.


Aku memejamkan mata--berusaha menikmati. Aroma terapi yang ada di kamar mandi ini menambah rasa nyaman. Sesekali aku mengusap lengan dan tubuhku. Sedikit memijat agar lebih rileks.


"Apa terasa nyaman?" aku melonjak kaget. Saat Jun datang dengan tangannya yang meraba bahuku.


Dia diam. Menatap tanpa berkedip. Aku yang masih kaget hanya bisa menatap dirinya dengan kesal. Aku merasa heran saat dia begitu lama menatap tanpa berkedip.


"Astagaaa ...." Aku segera kembali duduk, membenamkan tubuh ke dalam bathtub. Ada apa denganku? jelas saja dia melotot melihat tubuhku tanpa sehelai pun benang yang melekat. Rasanya sekujur tubuhku memanas. Kau ingin tenggelam saja di kutub Utara. Hiks!


"Kenapa? bukankah itu bagian dari hak-ku?"


Apa yang harus aku lakukan? dia memang benar. Tapi ....


"Kemarilah!" Dia menarik tubuhku dengan keras. Hingga tubuhku terjatuh dalam dekapannya yang sama-sama tidak tertutup apapun. Sejak kapan dia ada di bathtub?


"Berbalik." Dia mendorong tubuhku dan aku membelakangi dirinya. "Aku akan memijit bahu dan punggung mu, aku yakin kemarin sangat melelahkan."


Aku berusaha menahan nafas saat tangannya yang begitu lembut memegang pundak ku. Dia mulai memijat dengan begitu lihainya. Dan aku sangat menikmatinya.


"Presdir, apa sebelumnya anda bekerja sebagai tukang pijat? kenapa anda seperti begitu ahli."


"Hmm. Pijatan anda pas sekali."


"Dulu, aku sering memijat ibuku saat dia lelah. Dia selalu memberitahuku bagian mana saja yang harus aku pijat, seberapa besar tekanan yang harus aku berikan."


"Aahh. Begitu rupanya."


"Andai dia masih ada di sini, aku rasa dia akan sangat menyukaimu."


"Kenapa?"


"Karena ...." tangannya berhenti memijat. Aku mendengarnya dia menghembuskan nafas begitu kuat, seakan ada beban yang ingin dia buang bersama dengan nafas yang dia keluarkan.


"Jangan di lanjutkan jiโ€“."


"Tidak apa. Aku ingin menceritakan semuanya padamu."


"Baiklah, saya akan menjadi pendengar yang baik, Presdir."


"Dulu, saat aku akan tidur dia selalu menggaruk kepalaku perlahan agar aku tidur. Saat sedih, ibu selalu memijat semua jari tanganku satu persatu sambil bercerita. Aku tidak bisa makan nasi dalam jumlah banyak, aku hanya bisa makan nasi paling banyak dua sendok saja." dia memijat tengkukku sedikit naik ke kepala. Sungguh nikmat rasanya.


"Lalu apa yang anda makan? kentang? roti? gandum? ubi? atau singkong rebus?"


"Tidak. Bukan itu." dia berhenti memijat. Sepertinya dia bergerak mengambil sesuatu. Berapa detik kemudian, dia kembali memijat dengan sesuatu yang terasa dingin di kepala. Apa ini? Bodo lah! yang penting enak di kepala.


"Ibu itu kreatif, dia membuat bolak-balik nasi yang di padukan dengan sayuran yang sama sekali tidak aku sukai. Mengisinya dengan daging atau keju. Di goreng dengan tepung panir. Dan aku bisa memakannya dengan jumlah banyak. Itulah kenapa badanku sangat gemuk."


Gemuk?


Aku menarik tangannya yang sedang fokus memijat kepala. Aku melihat tangannya tidak gemuk, meski terlihat sangat kuat dan kekar.

__ADS_1


"Tidak gemuk sama sekali."


Peletak! Dia menjitak kepalaku. "Itu kan dulu."


"Ah, iya. Saya lupa, Presdir."


"Apa ini sakit?" dia memijat punggungku.


"Ya, semalam itu terasa sangat panas. Seperti orang mau melahirkan."


"Memangnya kamu pernah melahirkan?"


"Belum. Hanya saja, orang bilang saat mau melahirkan, punggung begitu terasa panas. Mungkin seperti ini rasanya."


"Orang melahirkan itu, bukan punggung yang sakit. Tapi, ini." Dia memijat pinggangku.


"Nah, iya, itu. Presdir, bisakah anda memijat agak kuat di bagian itu. Rasanya sangat sakit."


"Apa? kamu memerintah saya?"


"Bukan memerintah, apa salahnya istri meminta bantuan suaminya."


"Oh, sudah berani rupanya."


"Sudahlah, jangan berdebat. Lanjutkan ceritanya. Aku ingin tau lebih jelas tentang ibu mertuaku. Hanya mendengar ceritanya saja, aku bisa merasakan betapa baiknya dia."


Jun memijat pinggangku agak kuat dari sebelumnya. Aku hanya tersenyum.


"Presdir, kenapa ibu anda meninggal?"


Tidak ada jawaban, berbarengan dengan berhentinya kembali pijatannya. Aku terdiam. Mungkin aku salah bicara. Apa dia akan mencekik ku lagi sekarang? atau aku akan dia tenggelamkan disini?


Lama sekali dia terdiam. Aku yang sedikit merengkuhkan tubuh--takut dia akan memukul atau menyakitiku, tapi dia diam.


Ku tegakkan tubuh. "Presdir, saya minta maโ€“" aku terdiam begitu membalikkan badan dan melihat apa yang terjadi pada Jun.



"Jun, aku minta maaf." Aku merasa sangat bersalah saat melihat dia menangis. Wajahnya yang datar namun, matanya memperlihatkan luka yang begitu dalam. Aishhh, kenapa juga aku harus bertanya seperti itu?


Aku mendekat. Membelai wajahnya. "Sudah, jangan bersedih. Saya tau, ibu anda pasti bahagia di sana, ya." aku berusaha menenangkan dirinya. Dia masih terdiam dengan tetesan air mata.


Ku raih tangannya pelan. Memijat jari jemarinya sepertinya yang ibunya lakukan--itu yang dia ceritakan.


"Presdir, apa anda tau? saat saya kecil, tinggal di sebuah desa terpencil. Hidup kami sangat bahagia. Ibu saya selalu menyiapkan makan di pagi buta. 'Makan yang kenyang, biar enggak jajan', itu yang selalu dia katakan. Hidup kami sangat miskin. Saya tidak pernah jajan sama sekali, baju pun hanya mengandalkan pemberian dari tetangga yang sudah tidak terpakai." aku menghela nafas, rasanya sesak.


"Ibu saya juga sudah tidak ada di dunia ini, dia meninggal. Dari situlah hidup saya seperti di neraka. Bapak tidak kuat dengan kepergian ibu, memutuskan pindah ke Jakarta. Nahasnya saya, Bapak di sini mulai judi dan mabuk-mabukan, apa anda lihat bekas luka di punggung saya tadi?" aku menatap Jun. "Itu adalah bekas luka setrikaan. Bapak akan seperti orang kesurupan saat kalah berjudi."


Aku tidak bisa menahan air mataku. Mengingat masa lalu, seperti menaburkan air garam pada luka yang baru.


"Presdir," aku menengadah kepala--menatapnya. "Saya bahkan sering makan makanan yang tetangga buang ke tong sampah. Saya juga sering mencuri makanan kucing yang tetangga berikan untuk kucing liar di sekitar kontrakan, dia akan memberikan kucing-kucing nasi dengan ikan bekas mereka makan." aku mulai tersedu.


"Mereka bilang 'lebih baik memberi makan hewan dari pada memberi makan anak seorang pemabuk'. Wajar mereka membenci saya, karena bapak sering membuat onar." Aku menyeka air mata yang sudah begitu banyak keluar. "Itulah kenapa saya bersedia menuruti keinginan anda. Bagi saya, ini bukan apa-apa. Bahkan jika saya harus mati di tangan anda, saya akan merasa bersyukur, paling tidak saya hidup mewah dan makan enak."


Entahlah, rasanya ringan sekali hati ini. Dia adalah orang yang pertama mendengar kisah hidupku. Menangis sepuasnya dengan menumpahkan semua beban di hati, rasanya menyenangkan.


"Rasanya begitu enteng." aku kembali memijat jemarinya. "Saya tidak pernah memiliki teman sebelumnya. Ini pertama kalinya saya berbagai kisah dengan seseorang."


Jun menarik tangannya. Kini, dia yang memijat jari tanganku. Dia fokus memikat jariku, tanpa menatap wajahku sama sekali.


Cup!


Aku mengecup pucuk kepalanya. Dia menoleh. "Terima kasih, Presdir." Meski aku tidak tau apa yang anda inginkan, sampai detik ini aku sangat berterima kasih untuk semua yang anda berikan.

__ADS_1


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


__ADS_2