Bukan Pangeran Berkuda

Bukan Pangeran Berkuda
Rahasia Terpendam


__ADS_3

Aku terbangun saat ada seseorang yang membangunkanku. Begitu membuka mata, aku masih ada di tempat yang sama.


Aku melihat sekeliling dengan penuh rasa takut. Bajuku masih melekat sempurna. Aku melihat orang yang membangunkan aku ternyata seorang polisi.


Jumlah mereka cukup banyak. Satu mobil dan beberapa motor dengan dua orang yang menaiki masing-masing motor itu.


"Anda tidak apa-apa? sedang apa anda di sini?"


"Pak, tadi saya akan di perkosa. Apa dia sudah Anda tangkap?"


"Tidak ada siapapun di sini selain Anda. Di mana rumah Anda, biar kami antar. Ini sudah tengah malam. Mari."


"Saya tidak punya rumah, Pak."


Dia melirik temannya. Lalu menghela nafas dalam.


"Nyonya!" Seseorang berteriak. Wanita yang usianya sudah tidak muda lagi berlari menghampiriku di ikuti beberapa pelayan dan bodyguard.


"Nyonya," bisiknya lirih. Dia menyelimuti tubuhku dengan jaket yang dia pakai. Memeluk tubuhku erat disertai isak tangis. Entah kenapa aku pun ikut menangis.


"Maaf, Pak. Ini majikan saya, beliau menghilang dari rumah. Kami pikir beliau di culik, mau melapor tapi belum 24 jam. Maaf sebelumnya."


"Tidak apa-apa, Bu. Sebaiknya bawa saja dulu ke rumah sakit. sepertinya kondisinya tidak baik."


"Iya, Pak. Kalau begitu kami permisi."


"Silahkan. Lain kali hati-hati, Nyonya," ucapnya seraya memegang lenganku dan tersenyum. Aku mengangguk kecil di dalam dekapan Bibi.


"Minumlah." Bibi memberikan botol minum padaku. Aku raih dan segera ku teguk. Aku memang sangat haus.


"Ada apa sebenarnya? kenapa Anda bisa seperti ini? tergeletak di pinggir jalan."


"Bi, apa presdir ada di rumah?"


"Tidak ada, Nyonya. Presdir belum pulang semenjak pergi tadi pagi."


"Owh, mungkin dia pulang ke rumah yang satunya."


"Bibir anda kenapa terluka? apa Anda di pukul seseorang?"


"Tidak, ini bukan apa-apa."


Bibi kembali meraihku. Dan aku bersandar di bahunya. Apa seperti ini rasanya bersandar pada seorang ibu? ibu, aku merindukanmu ....


Mobil berhenti. Aku turun di bantu oleh Bibi dan dua pelayan lain. Sebenarnya aku merasa sangat tidak kuat lagi untuk berjalan. Kupaksakan karena tidak mungkin aku meminta bodyguard menggendong tubuhku.


"Bibi, kita ke kamar bawah saja. Saya tidak kuat jalan lagi," rintihku.


"Baik, Nyonya. Kita ke kamar yang lama saja."


Akhirnya, kami memutuskan untuk masuk ke kamar yang pertama aku tempati. Begitu sampai ke sana, aku harus kecewa karena pintu kamar terkunci. Tidak ada yang memegang kunci cadangannya.


Aku kembali berjalan menuju kamar atas. Perih tak terkira membuat aku menangis saat itu juga. Ingin menjerit tapi aku tahan.


"Nyonya, apa yang harus kami lakukan? lebih baik para bodyguard ini menggendong Anda saja."


"Jangan, Bi. Itu akan membahayakan mereka nantinya. Aku akan berusaha berjalan sekuat yang aku bisa."


"Tapi ...."


"Bibi!" aku menjerit. Rasanya sangat perih dan kepalaku terasa pusing. Tubuhku lemas.


"Bawa Nyonya ke mobil. Kita ke rumah sakit sekarang!" teriak Bibi. Aku masih sadar dan bisa mendengar semuanya. Hanya saja, aku merasa benar-benar lemas. Tidak cukup tenaga untuk aku berdiri ataupun bergerak.


"Darah! Nyonya pendarahan. Cepat bawa dia, angkat tubuhnya."


"Tunggu! jangan ada yang menyentuh dia sejengkal pun!"


Presdir, itu suaranya.


Aku mencium bau parfumnya. Semakin lama semakin kuat menusuk hidung. Aku merasakan hawa dari tubuhnya. Dia ada di dekatku. Mengangkat tubuhku menuju mobil.


Aku tertidur di pangkuannya. Dia mengelus kepalaku. Kau juga merasakan dia menyentuh pantatku yang terasa basah. Mungkin itu darah.


"Cepatlah! dia terlalu banyak mengeluarkan darah," bentaknya. Supir menginjak gas dengan kecepatannya penuh. Jalanan lengang karena ini sudah mendekat waktu subuh.


Begitu sampai di rumah sakit. Jun turun terkena dahulu. Dia membawaku ke ruangan. Bau khas menyeruak. Perlahan terdengar suara ribut kecil. Aku merasa beberapa orang mengerumuni tubuhku. Mereka pertugas rumah sakit.


Aku berusaha membuka mata, meski hanya bisa mengintip. Benar saja, mereka adalah petugas kesehatan yang sedang memeriksa diriku.


Setelah mereka memeriksa keadaanku, salah satu dari mereka memasang selang di hidungku. Satunya lagi mengambil tanganku lalu menusukkan sebuah jarum di lengan kiri ku. Infus


Mereka membuka gaun panjangku. Menutup tubuhku dengan selimut yang ada di sana.


"Tolong ambilkan anastesi. Kita harus menjahit lukanya segera."


"Baik, Dok."


"Apa kamu sudah mengambil darah untuk periksa lab?"

__ADS_1


"Sudah, Dok."


"Baiklah, kita hentikan dulu sumber perdarahannya. Ck! kenapa bisa sampai sobek seperti ini? apa ini korban pemerkosaan bergilir? penjahat seperti itu harus musnah dari dunia."


"Sepertinya memang korban pemerkosaan."


"Astaga!"


"Baiklah, kita hampir selesai. Tolong kain kasa, kita bersihkan dulu darahnya. Biar kita lihat apa masih ada robekan di bagian yang lain?"


Aku merasa sesuatu menekan kewanitaanku.


"Bersih. Tidak ada luka lain. Tolong infusannya di percepat. Agar keadaan umum pasien sedikit membaik. Wajahnya sangat pucat." Dokter dan petugas lainnnya membersihkan dan merapikan tubuhku. Aku terlentang dengan hanya memakai bra dengan selembar selimut tipis yang menutupi badan.


Setelah menghabiskan satu kantung infus, aku merasa sedikit memilikinya tenaga. Aku membuka mata meski kepala terasa masih berat. Aku membuka mata seperti ayam tidur.


"Bi ... bibi," lirihku.


"Dia ada di rumah."


"Presdir."


"Istirahatlah. Aku akan menyelesaikan admistrasi terlebih dahulu."


Meski samar, aku bisa melihat dia pergi dengan baju bernoda merah bercak darah.


Rasanya lelah sekali. Paling tidak saat ini, perih dan panas dari bagian kewanitaanku sedikit berkurang. Tidak teras linu, nyut-nyutan yang begitu menyiksa kini berkurang.


Karena tertidur, aku tidak sadar kapan aku pindah kamar. Saat aku membuka mata, aku sudah berada di ruang perawatan. Dengan infusan berwarna merah. Transfusi.


"Nyonya."


"Bibi, apa itu kamu?"


"Iya, saya ada di sini."


"Syukurlah," ucapku pelan.


"Anda kenapa, Nyonya? apa anda benar-benar di peโ€“"


"Keluarlah! aku memintamu menemaninya, bukan menginterogasinya."


"Tuan, saya minta maaf."


"Keluar sekarang. Pergilah."


Aku melihat Bibi ketakutan. Aku ingin membantunya, tapi kondisiku saja sangat tidak berdaya.


Aku mengedipkan mata dan tersenyum padanya. Bibi pergi. Tinggallah kami berdua di ruangan ini.


Jun duduk di ranjang tepat di sampingku. Menatapku dengan penuh kemarahan. Aku berpaling karena tidak ingin melihatnya wajahnya yang menakutkan itu.


"Apa kamu bodoh!" sentaknya.


"Ya. Lebih dari itu bahkan."


"Dengar! apa yang kamu pikirkan sampai keluar kantor melewati lobby depan?"


Aku tidak menjawab dan tidak ingin menjawab pertanyaan darinya. Aku masih lemah dan kepalaku masih pusing. Apa dia tidak mengerti?


"Kami berjalan meninggalkan jejak tetesan darah. Aku menunggumu di parkiran dan kamu? kenapa malah pergi ke arah lain?"


Apa? dia menungguku? untuk apa? memperkosaku lagi?


"Untuk apa menungguku? untuk menyiksaku lagi?"


"Dengar, apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkan milikku."


"Kenapa? apa Anda senang dan bahagia melihat milik anda teraniaya? apa anda memiliki kepuasan tersendiri saat melihat saya menderita?"


"Aku menunggu hingga larut, sampai satpam mendapati aku di dalam mobil dan menceritakan semuanya. Aku mencarimu ke mana-mana. Karena putus asa, aku meminta temanku andrean untuk mengerahkan anak buahnya mencarimu."


"Bahkan saya ingin anda tidak menemukan saya."


"Kamu terdampar di pinggir jalan. Andrean menemukanmu berbarengan dengan para pelayan yang juga sedang mencarimu atas inisiatif mereka sendiri."


"Saya berharap tidak bangun lagi saat polisi itu membangunkan saya."


"Kinan. Aku sudah bilang padamu bukan? aku tidak suka milikku di sentuh orang."


Aku saat itu menyadari dengan pasti, Jun melihatku dengan Evan sedang berciuman.


"Saya merasa kotor dan hina saat ini. Bahkan, saya tidak ingin anda ada di sini. Bisakah anda pergi saja?"


"Kinanti ...."


"Kalau anda tidak pergi, saya yang akan keluar dari sini."


Aku berusaha bangun meski kepalaku terasa sangat berat.

__ADS_1


"Baiklah. Saya akan keluar dari sini. Bibi yang akan menjagamu."


Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya. Dia bersikap seolah peduli padaku. Di sisi lain, dia begitu kejam padaku. Memperlakukan aku seenaknya tanpa memikirkannya perasanku sedikitpun.


"Kakak."


Aku menoleh. Yesi?


Dia berlari dan memeluk diriku. Ada genangan air mata di netra indahnya. Dia seperti begitu cemas melihatku.


"Aku tidak apa-apa, Yesi. Tenanglah."


"Kakak yakin? aku sangat cemas begitu mendapat kabar dari Kaka Vito."


"Vito?"


"He-em, itu loh temennya Kak Evan. Semalam dia nelpon, katanya liat Kakak lagi di gangguin orang. Dia mau nolongin kakak tapi denger suara polisi, jadi Kak Vito sama preman itu kabur semua."


"Oh, begitu rupanya." Pantas saja, dia hampir memperkosaku tapi saat bangun bajuku masih utuh. Apa dia di suruh Evan? Ah! kenapa aku masih berharap padanya?


"Sebenarnya ada apa? kenapa bisa sampai seperti ini? kenapa juga Kak Jun ada di luar, tidak menemani Kakak di dalam?"


Jun masih di luar? aku pikir dia pergi.


"Tidak ada apa-apa, kami hanya bertengkar sedikit. Namanya juga suami istri."


"Setelah kepergian ibu, baru kali ini aku melihat Kak Jun secemas sekarang. Mungkin dia khawatir sama Kakak."


"Itu karena dia suamiku, sudah seharusnya dia cemas dan khawatir pada istrinya sendiri bukan?"


"Ya, Kakak benar. Aku bersyukur akhirnya Kak Jun menemukan wanita yang benar-benar dia cintai, tidak ...." Yesi berhenti bicara.


"Kenapa? apa ada yang kamu sembunyikan?"


"Aaahh tidak. Maksudku seperti Kak Evan. Ya, ya, Kak Evan."


"Kenapa Evan?"


"Dia menikah dengan wanita jahat! penguasa yang terobsesi banget sama Kak Evan. Sayangnya wanita itu teman Kak Jun."


"Oh, begitu." Aku berusaha menggali informasi tentang Evan dari Yesi. Anak polos itu dengan gamblang menceritakan segalanya.


Aku ternyata kini tau semua. Evan memanglah sodara tiri Jun. Evan anak dari selingkuhan Ayahnya.


Istri Evan yang bernama Laras Widjayanti adalah seorang pengusaha sukses, dia adalah penyuntik dana saat perusahaan Jun hampir bangkrut.


Mereka bertukar dengan sebuah pernikahan. Alih-alih keluarga ingin menikahkan Jun dan Laras karena mereka sudah dekat sejak masih sekolah, Laras ternyata menaruh perhatian lebih pada Evan.


Evan hanya bisa menurut karena itu adalah syarat, ibunya akan diterima di keluarga ini sebagai pengganti ibu Jun yang sudah tiada.


Evan masuk dalam daftar keluarga jika mau menerima pernikahan ini dan Evan pun setuju. Laras begitu mencintai Evan, tidak ada satu orangpun yang berani mengganggunya.


Aku merasa heran, kenapa Laras tidak marah padaku waktu itu?


"Dulu, pernah ada rekan kerja kak Evan kegatelan, Kak Laras langsung marah dan sampai saat ini orang itu tidak di terima kerja dimanapun."


"Sekejam itukah Laras?"


"Huum. Sebenarnya dia baik, hanya saja jangan Coba-coba deh nyentuh Kak Evan. Tamat riwayat!"


"Evan baik padaku. Aku ada disini karena dia, aku menikah dengan Jun juga karena dia, kenapa Laras tidak marah?"


"Hahaha. Apa kakak tidak tau?"


"Apa?" aku penasaran.


"Kak Jun yang minta Kak Evan untuk jagain Kakak. Makanya kak Evan ajak kakak tinggal di rumah kak Jun. Fasilitas yang Kak Evan berikan, itu semua milik Kak Jun."


"Apa?" kali ini aku kaget.


"Iya, jadi begini loh. Waktu ituโ€“"


"Dia harus banyak istirahat. Kenapa kamu malah mengganggunya? pulanglah kalau sudah selesai." tiba-tiba Jun muncul.


Aku sedikit kecewa karena tidak bisa mengorek info lebih banyak dari Yesi. Paling tidak, aku tau apa yang di katakan Laras waktu itu tidak benar. Jika mereka menikah karena terpaksa, itu artinya perasaan Evan untukku serius. Aku masih ada harapan tentang perasaan dia. Sukurlah.


"Iya, iya. Perhatian banget sama Nyonya." Yesi menggembungkan pipinya. "Baru kali ini aku mendapat Kakak ipar yang baik daripada sebelumnya. Oops!"


"Apa? maksudmu apa, Yesi?" tanyaku penuh selidik.


"Tidak, itu bukan apa-apa. Aku permisi dulu ya, bye semua." dia kabur begitu saja.


Aku tidak bodoh dengan apa yang dia katakan. Apa Jun pernah menikah sebelumnya?


"Ada apa? lupakan apapun yang dia katakan. Fokus pada pemulihanmu saja."


"Apa anda pernah menikah? atau anda masih memiliki istri, Presdir?"


Dia hanya berdiri menatap dengan kedua tangan ada di saku celana.

__ADS_1


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


__ADS_2