Bukan Pangeran Berkuda

Bukan Pangeran Berkuda
Malam Surga Dunia


__ADS_3

Sungguh, baru kali ini aku merasa benar-benar di perlakukan seperti seorang putri.


Evan, dia yang selama ini aku tau adalah Dokter yang lunak karena sikapnya yang terlalu lembut dan gemulai, ternyata dialah yang memberikan kenikmatan dan keindahan yang benar-benar hanya aku impikan selama ini. Bahkan, mimpi pun aku tidak pernah.


Aku sangat menikmati malam ini, rasanya seperti ada di surga dunia. Apakah memang seperti ini surga dunia yang orang-orang maksud?


"Bagaimana? apa kamu menikmatinya?"


"He-em. Terima kasih untuk semuanya. Malam ini, adalah malam yang benar-benar tidak akan bisa aku lupakan."


"Kamu akan terus merasakan malam-malam seperti ini. Nikmati saja."


Aku menghirup udara begitu dalam. Rasanya tidak pernah aku menghirup udara se-sejuk ini di ibu kota. Mungin karena hujan telah membawa pergi polusi dan debu-debu siang tadi.


Orang kaya. Mereka bebas melakukan apapun termasuk Evan. Dia membangun rumah yang tidak pernah bisa aku bayangkan sebelumnya. Rumah besar dengan berbagai kejutan di dalamnya. Termasuk tempat yang sedang aku pijak saat ini.


Dia membuat sebuah kubah besar dengan atap kaca yang bisa di buka dan tutup semau kita. Bahkan, kau bisa naik melewati tangga dan berada di puncaknya.


Dingin. Itu yang aku rasakan. Sisa-sisa hujan masih sangat terasa.

__ADS_1


"Apa kita bisa melihat bintang dari sini?"


"Ya, kalau sedang cerah, langit akan sangat begitu indah."


Aku kembali memejamkan mata. Menikmati apa yang terjadi padaku dengan begitu cepat. Nikmati saja meski ini hanya sebuah mimpi.


"Jangan terlalu lama, takut masuk angin. Ayo, kita turun."


"Sebentar lagi. Aku masih ingin menikmati semuanya. Aku takut ini hanya mimpi yang akan hilang saat fajar datang."


"Ini bukan mimpi. Besok, kamu masih bisa ke sini."


"Terima kasih, Van. Kenapa kamu begitu baik padaku? apa ada sesuatu di balik semua ini?" eumm maksudku, ini semua terlalu–"


"Ya! ini semua tidak gratis. Ada harga yang harus kamu bayar. Tapi tidak sekarang. Kalau sudah tiba waktunya, kamu akan tau apa yang harus kamu lakukan untukku."


Apa? apa yang harus aku berikan untuk membayar semuanya? bahkan, aku tidak memiliki apapun di dunia ini, selain diriku sendiri.


Tidak. Tidak mungkin Evan menginginkan tubuhku bukan?

__ADS_1


Evan terkekeh. Mungkin dia bisa melihat kecemasan di wajahku.


"Tenang saja, aku tidak akan meminta sesuatu yang merugikan dirimu. Aku hanya butuh sedikit bantuanmu saja."


"Oh, baiklah."


"Ayo." Evan mengulurkan tangannya. Mengajakku untuk segera turun. Saat menuruni tangga, dia mengambil remot untuk menutup kalo kubah surga ini. Begitulah aku menyebutnya. Evan masih menggenggam tanganku sampai depan kamar.


"Tidurlah, mimpi indah. Selamat malam."


"Malam," ucapku dengan sedikit gugup saat Evan membelai rambutku.


Panas. Kenapa wajahku kembali panas.


Aku hanya bisa menghela nafas panjang saat Evan pergi. Masuk ke kamar dengan perasaan yang masih sangat takut. Takut besok aku terbang dan ini hanya sebuah mimpi belaka.


Kembali aku menelisik setiap sudut kamar yang indah ini. Kasur empuk dengan bulu-bulu. Karpet yang juga berbulu lebih empuk dari kasur yang ada di kontrakan ku selama ini. Kasur yang sudah bisa di sebut papan triplek.


"Permintaan apa yang akan Evan berikan padaku untuk membayar semua ini? tapi, aku akan memberikan apapun itu selama buka menukar dengan tubuhku. Aku tidak akan menjadi ******* untuk mendapatkan semua ini."

__ADS_1


To Be continued


__ADS_2