Bukan Pangeran Berkuda

Bukan Pangeran Berkuda
Kissing


__ADS_3

"Kenapa? enggak suka sama tempatnya?"


"Bukan, bukan. Aku hanya heran aja, orang seperti kamu mau makan di tempat seperti ini."


"Hehehe. Ini angkringan tempat temen aku jualan, namanya Vito. Yuk, kita ke sana. Kamu sudah lapar bukan?"


"Apa dia, teman yang akan kita temui?"


"Bukan, temen yang sudah membuat perjanjian untuk ketemu tapi di gagalkan oleh Presdir itu bukan Vito."


Buset, itu ngomong enggak sesek nafas apa?


"Terus?"


"Nanti aja kita bahas, sekarang kita makan saja dulu."


"Hey, broo!" sapa seseorang yang memakai celemek, mungkin itu Vito. Evan dan Vito saling sapa. Berjabat tangan ala lelaki dengan mengadu bahu satu sama lain.


Mereka berdua asik berbincang. Mungkin, mereka sudah lama tidak bertemu. Terlihat dari antusiasme keduanya saat berbincang.


Berasa jadi nyamuk!


"Eh, kenalin. Ini Kinanti." Evan sadar aku mulai kesal saat dia tidak sengaja melirikku.


"Halo, aku Vito." kami berjabat tangan. "Cantik ya, lebih cantik dari yang dulu." goda Vito.

__ADS_1


"Apaan sih Lo! dia cuma temen gue doang. Kagak lebih."


"Yakin?" goda Vito lagi."Boleh dong gue deketin?" sambungnya.


"Eh, coba aja kalau berani, gue pastiin Lo gak bisa masak lagi."


"Lah? kan cuma temen Lo doang."


"Dia itu milik Presdir." Dengan entengnya Evan mengatakan hal itu. Tanpa sadar bahwa ada jeroan yang tersakiti di dalam tubuhku ini. Hati.


Ingin marah, tapi pada siapa? Evan? ahh, dia memang keterlaluan. Dengan semua yang dia berikan, apa aku masih bisa marah padanya.


Ya ampun. Mata aku kelilipan duren. Hiks!


Aku duduk lesehan dengan memakai tikar ala angkringan kebanyakan. Meski, ada beberapa bangku yang kosong. Sepertinya Evan lebih nyaman duduk di bawah. Kembali, dia dan temannya itu–Vito, berbincang. Entah apa yang mereka obrolkan. Aku hanya sibuk dengan pikiran dan perasaan aku saja saat ini.


"Kinan." Evan menyapa dengan menyentuh tanganku. Aku melirik. "Kenapa diem aja? dimakan," ucapnya sambil memberi isyarat pake dagu–menunjuk makanan yang sedari tadi terabaikan. Aku menggeleng kepala sebagai jawaban tidak.


"Kenapa? katanya lapar, udah dingin ya? mau bikin yang baru?" tanyanya dengan tangan masih ada ditanganku. Aku kembali menggelengkan kepala.


"Makanya, kalo ngomong tuh di jaga bro! Lo sih!" Vito menyalahkan. Sepertinya Vito tau bahwa hatiku sedang tidak baik.


"Gue? kenapa?"


"Tanya aja sendiri sama Kinan." Evan menoleh, dia semakin mendekatkan diri padaku.

__ADS_1


"Hey," sapanya lembut. Tangannya semakin erat menggenggam. "Kamu kenapa? aku salah? sorry, ya." Aku menggelengkan kepala lagi. Aku tidak ingin saat membuka mulut, malah suara tangisan yang keluar, padahal sudah sangat lama aku menahannya dengan merapatkan kedua bibirku begitu erat.


"Pulang, gih. Dia pasti akan lebih nyaman saat kalian berdua." Vito memberi saran.


"Baiklah, gue pulang dulu. Kapan-kapan gue ke sini lagi."


"Santai aja."


"Ayo, kita pulang." Evan membantuku berdiri." yakin gak makan dulu?" tanyanya. Dan aku masih menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak. "Ya sudah, kita pulang saja."


Evan berjalan terlebih dahulu dengan posisi tangan kami yang masih terpaut. Entah kenapa tapi aku ingin menoleh kebelakang. Hingga aku bertatapan dengan Vito. Dia tersenyum, lalu menggerakkan jarinya agar aku pun ikut tersenyum. Hanya seulas ku berikan senyumku padanya.


"Kinan, ada apa? apa aku benar-benar menyinggungmu? pertanyaan itu terlontar setelah sekian lama kami saling diam.


Tidak ada niatan dalam hati untuk menjawab pertanyaan darinya. Entah ada apa dengan hatiku. Rasanya dada ini sesak saat dia bilang bahwa aku ini milik Presdir.


Aku seperti wanita rendahan. Apa aku terlalu berlebih dengan perasaan ini? aku sangat tidak suka dia mengatakan hal itu.


"Kinan ...." dia mencoba memegang tanganku saat kami masih ada di dalam mobil meski sudah ada di depan rumah. Aku menepis dan segera keluar. Evan mengejar dan mengikuti sampai depan kamar.


"Kinan, tunggu!" dia menarik lenganku hingga aku berhadapan dengannya.


"Aku bukan milik siapapun. Aku bukan barang meski kenyataannya kini, aku berada di rumahmu dan ada dalam asuhanmu. Bukan berarti aku barang yang bisa di miliki siapapun begitu saja." Dengan keras aku menepiskan dengannya.


Dengan keras aku membuka pintu, dan menutupnya dengan kuat. Namun, sebelum pintu benar-benar tertutup, Evan menahannya. Dia menerobos masuk. Aku begitu terkejut saat dia kembali menarik tubuhku dan kebalikannya. Bukan hanya itu, dia mencium bibirku begitu saja.

__ADS_1


Aku hanya bisa diam tanpa perlawanan. Bukan aku menikmati, aku hanya bingung harus melakukan apa.


Rasanya sangat berbeda ....


__ADS_2