Bukan Pangeran Berkuda

Bukan Pangeran Berkuda
Siap Dimadu


__ADS_3

"Kamu kenapa diem aja hari ini?"


"Van?" aku yang sedang berdiri di tepi kolam ikan, begitu kaget saat tiba-tiba Evan memelukku dari belakang.


"Ada apa? tumben kaget saat aku peluk? mikirin apa sih?" tanyanya seraya melepas pelukannya. Kini, kami saling berhadapan.


"Aku hanya sedikit tidak enak badan, aku butuh istirahat. Boleh ya aku permisi ke kamar?"


"Apa perlu kita periksa ke dokter?"


"Apaan sih? kamu kan Dokter, kenapa harus periksa ke orang lain?"


"Kalau di mana aku memeriksa tubuhmu yang sakit? apa di sini?" godanya. Wajahnya terlihat seperti orang yang bernafsu padaku. Jujur saja, aku sedikit takut.


"Evan, gak seru ah!" aku segera menepis lengannya dan beranjak pergi. Langkahku tertahan saat tangannya menarik tanganku.


"Kamu masih punya janji padaku." Aku mengernyitkan dahi. Evan mendekat, wajahnya maju hendak mencium bibirku. Dengan spontan aku menghindar.


"Van, jangan ah! ini di luar, malu."


"Apa kita harus mencari tempat yang lebih privacy?" matanya seperti singa yang siap menyergap mangsa.


"Vaaan, jangan begini. Aku lelah, aku ingin istirahat. Plisss." Aku berusaha melepaskan cengkramannya. Dia melepas dengan begitu kasar. Pergi meninggalkan aku.


Apa dia marah lagi? ah! sudahlah. Besok dia pasti akan kembali membaik.


🌺


"Sayang, kamu masih marah? aku kok di diemin aja?" tanyaku. Aku berusaha mendekatinya yang sedang melahap sandwich buatanku. "Makanannya di lahap, yang masaknya kok di diemin aja?" Dia berhenti mengunyah. "Loh? kenapa berhenti makan?"


"Ini kamu yang buat?"


"Iya."


"Tau gitu akan enggak akan memakannya."


"Evan, kamu kenapa sih? masih marah? aku minta maaf."


"Besok, bikinin yang banyak biar bisa aku bawa juga ke tempat kerja."


Ahh, dia itu. Gemeshhh banget!


"Aku tidak akan bisa lama-lama marah sama kamu." Dia mengelus kepalaku, menarik tubuhku ke dalam pelukannya. "Maaf, kemarin aku hanya sedang kesal. Aku janji tidak akan membuat kamu takut."

__ADS_1


"Aku tidak akan memberikan tubuhku pada orang lain, selain untuk suamiku kelak. Jika kamu ingin diriku seutuhnya, kita menikah."


"Ya, aku akan menikahimu segera. Aku juga tidak akan membiarkan dirimu di ambil orang lain."


"Benarkah?" aku menengadahkan kepala.


"Iya, sayang. Mana pernah aku mengingkari janji. Aku akan secepatnya menikahi kamu."


"Makasih, sayang."


Seperti biasa, kami melakukan morning kiss. kali ini terasa sangat berbeda. Bahkan, aku membayangkan saat ini aku sudah menjadi istrinya. Bak gayung bersambut, aku yang merasa begitu kehilangan dirinya saat jauh, akan bersama untuk selamanya.


"Kamu selalu membawa bekal lengkap, untuk siapa? oh, iya. Kapan kamu akan mengundurkan diri dari perusahaan itu?"


"Ini? aku tidak tau siapa beliau, nama atau jabatannya. Aku hanya menyebutnya Pak Gendut. Untuk pengunduran diri, mungkin hari ini aku akan berbicaralah pada Presdir."


"Bicara pada Presdir? bukankah kamu di bagian kebersihan? harusnya surat pengunduran diri sampaikan saja pada atasanmu. Kenapa harus bilang langsung pada Presdir?"


"Aku lupa bilang, kalau aku bekerja sebagai penyaji minuman pribadinya. Aku bekerja di pantry pribadi presdir."


"Apa?" Evan kaget. Entah kenapa dia sampai menghentikan mobilnya. "Kamu bekerja di pantry pribadinya?"


"He-em. Sayang, kamu kenapa begitu kaget? apa ada yang salah?"


"Sayang, jangan begini. Aku takut. Kamu kenapa? kalau tidak suka, aku akan segera keluar dari kantor itu. Aku akan menjadi istri yang baik dan diam di rumah saja. Aku–"


"Jika perempuan yang menempati pantry pribadinya, itu artinya dia menyimpan perhatikan lebih."


"Maksudnya?" aku benar-benar tidak faham dengan apa yang dia ucapkan.


"Lupakan. Aku akan membantumu keluar dari sana secepatnya. Dan ...."


"Apa? ada apa lagi sekarang?"


"Pria gendut itu, kamu jangan terlalu dekat dengannya."


"Kenapa? dia sangat baik. Aku merasa dia seperti Bapak dulu, dulu sebelum dia menjadi seperti iblis." Nyeri di dalam sini--hati, saat aku mengingat tentang Bapak. Ya, bagaimana kabarnya sekarang?


"Jangan! sudah aku katakan, jangan dekati dia." Aku membuka mulutku karena terkejut melihat Evan yang begitu marah.


Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Kenapa Evan begitu marah saat aku dekat pria gendut itu? aku yang masih sangat syok, tidak sadar bahwa kami sudah ada di depan kantor. Evan berhenti di parkiran depan.


Apa? kenapa dia parkir di sini? apa dia ....

__ADS_1


"Ayo." Evan membukakan pintu untukku. Aku hanya bisa diam dan berat untuk menurunkan kaki. Pasalnya, begitu banyak karyawan lain di tempat ini. "Sayang, kamu akan terlambat. Siap-siap akan dapat masalah besar dari Presdir."


Mau tidak mau aku turun. Benar saja, mata orang-orang yang ada di sekitar tertuju padaku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? semoga saja Evan tidak macam-macam.


Krep! Evan menggenggam jemari tanganku. Kami berjalan melewati loby utama. Astaga!


Para karyawan memperhatikan kami, mereka–karyawati saling berbisik. Aku tau, mereka pasti sedang membicarakan aku. Evaaan. Awas kamu! tidak akan aku beri ampun saat di rumah nanti. Aku mengencangkan genggaman tangan. Dan dia hanya tersenyum so manis! menyebalkan.


Evan membawaku ke lift. Tunggu! kenapa dia juga ikut naik? bukankah klinik adanya di lantai bawah? ya ampuunn, apakah kepalaku kali ini akan benar-benar copot?


Aku berusaha melepaskan genggaman tangannya. Namun, dia begitu kuat. Aku sudah tidak memiliki muka lagi saat ini, malu.


Evan begitu sumringah. Dengan santainya dia menggenggam tanganku dan mengabaikan aku yang hampir pingsan ini.


Kenapa dia berjalan ke sini? bukankah ini menuju kantor Presdir? gustiiii, apa yang akan dia lakukan kali ini? Evaannn, kamu benar-benar tidak akan selamat kali ini. Camkan itu!


Brak! Evan membuka kasar pintu ruangan Presdir. Dia masuk tanpa permisi sama sekali. Apakah ini pantas dilakukan oleh seorang bawahan? Evan, kamu kenapa?


"Apa tidak bisa mengetuk pintu sebelum masuk?" Presdir segera berdiri dengan wajah yang begitu kesal.


"Wow! apa sopan santun harus di terapkan juga? bukankah dimana-mana, seorang kakak punya hak penuh atas adiknya?"


Kakak? adik? siapa yang Evan maksud?


Presdir menatapku. Kali ini aku bisa menghindar, mungkin karena aku terlalu takut berada dalam situasi yang membingungkan ini.


"Kak, tolong jaga sikap saat ada–"


"Dia?" Evan melirikku.


"Tenang saja, dia calon Kakak ipar kamu, kami akan segera menikah?"


"Apa? jangan gegabah. Atas dasar apa kalian akan menikah. Keluarga akan menentang ini, terlebih kamu sudah–"


"Memiliki istri?" tanyaku menyela ucapan Presdir. Evan dan Presdir menatapku berbarengan. Aku tau mereka berdua pasti sangat terkejut saat mengetahui aku tahu bahwa Evan sudah memiliki keluarga.


"Nona, entah kenapa saya begitu menyukai Anda. Rasanya saya menghormati anda bukan karena anda adalah majikan saya." ucapnya saat aku duduk termenung sendirian menatap langit di atas kubah. Saat itu Evan pergi tanpa kabar. "Tapi, ada yang harus saya katakan pada Nona, bahwa Dokter Evan tidak sendiri. Dia sudah memiliki istri dan dua orang putra yang masih kecil." lanjutnya. "Saya harap, Nona bisa merahasiakan bahwa saya yang telah memberitahukan ini. Kalau tidak, saya mungkin tidak akan selamat."


Meski Bibi telah memberitahukan rahasia besar yang Evan sembunyikan, nyatanya rasa dalam hatiku tidak berubah sedikitpun. Aku masih mencintai dirinya, tulus. Dia adalah malaikatnya penyelamat hidupku. Orang yang telah merubahku dari sampah menjadi barang berharga. Hanya dia yang memandang aku sebagai manusia.


Evan, apapun statusmu, jika kita bisa bahagiain, aku tidak perduli. Bahkan jika aku menjadi istri ke tiga mu pun. Aku siap.


🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2