Bukan Pangeran Berkuda

Bukan Pangeran Berkuda
Pernyataan Cinta


__ADS_3

Kali ini, aku melihat bintang tak lagi sendiri Evan yang menemani. Rasanya sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya.


"Apa kamu sering ke sini saat aku tidak ada di rumah?"


"Hmm. Setiap kali aku merindukanmu, aku selalu datang ke sini. Aku selalu bilang pada bintang agar mereka segera membawamu pulang."


"Kamu benar-benar merindukan aku?" aku menarik kepala dari bahunya. Dia menoleh.


"Harusnya aku yang bertanya, bukankah selam ini kamu yang pergi, tanpa kabar dan tidak bisa di hubungi. Apa kamu sendiri merindukan aku?". Tidak ada jawaban. Dia hanya menatapku lekat. Tanyanya meraih pundak ku membuat wajahku semakin mendekati wajahnya. Dia menatap kedua mataku bergantian. Aku tau apa maksudnya. Perlahan-lahan aku menutup mata, tidak lama setelah itu, aku merasakan dingin di bibirku. Nafasnya beradu dengan nafasku. Dan di saksikan bintang-bintang di langit, kami melepas rindu dengan begitu panas.


🌺🌺


"Hari ini, boleh ya aku kerja? bagaimana pun juga, aku harus berpamitan secara baik-baik. Ya?" aku berusaha membujuk Evan saat kami sedang sarapan. Dia masih saja diam. "Sayang, plisss." aku duduk di pangkuannya. Dengan tangan melingkar di lehernya.


"Morning kiss dulu."


Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang manja dan kembali lunak itu. Dengan senang hati aku mencium pipinya.


"Bukan di situ. Di sini." dia menunjuk bibirnya. Agar mendapatkan izin darinya, aku mencium bibirnya meski harus menahan malu karena ada beberapa pelayan di sana.


Evan memang sangat menyebalkan. Dia menahan kepalaku dan kissing berlanjut pada tahap yang lebih panas. Para pelayan yang mang seperti sudah mengerti, mereka langsung pergi meninggalkan kamu berdua.


"Sudah. Nanti kita telat masuk kerja." aku menarik paksa kepalaku. Dan lagi-lagi dia yang tanpa menyerah, menarik tengkuk dan kembali menciumku.


"Sayang, hentikan. Cukup." Evan mendengkus kesal. Meski akhirnya dia menurut. "Sekarang kita harus berkerja. Kita lanjut lagi nanti."


"Janji?"


"Hmm. Janji. Sekarang kita harus segera berangkat kerja."


"Baiklah. Aku sungguh tidak sabar kamu segera mengundurkan diri dari tempat itu."


"Sabar, nanti juga aku hanya akan fokus pada dirimu seorang."


"Baiklah. Let's go!"


Aku benar-benar bahagia. Kali ini, aku kembali bekerja dengan dia yang mengantar, tidak, kami memang satu arah.


Sepanjang perjalanan, aku bergelayutan manja di lengannya. Sungguh, aku sangat bahagia.


Kali ini, untuk pertama kalinya aku merasa kesal harus naik angkot. Entah kenapa aku ingin sekali berangkat bersamanya sampai kantor. Tapi dengan berbagai pertimbangan, aku memutuskan untuk melakukan rutinitas seperti biasa. Sabar, sebentar lagi.


Dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajahku, aku melangkahkan kaki begitu ringan. Tidak seperti biasanya.


"Apa kami baru saja dapat hadiah?"

__ADS_1


"Astaga! Anda mengagetkan saya, Pak."


"Hahaha. Kemarin kamu begitu frustasi, dan sekarang? bahkan matahari kalah ceria oleh senyuman kamu."


"Iya, Pak. Hari ini saya sangat bahagia. Karena Evan sudah kembali. Ada tempat untuk saya berbagi saat Presdir kita yang ganas itu memarahi saya. Hehehe."


"Evan? sudah kembali?" tanyanya heran.


"I-iya, Pak. Kenapa?" tanyaku ragu.


"Tidak apa-apa. Seharusnya dia kembali Minggu depan, kenapa cepat sekali kembalinya." Dia berbisik namun masih bisa aku dengar. Aku hanya diam tanpa ada niatan untuk bertanya lebih jauh.


"Pak, ini." aku memberikan bekal. "Nasi dan lauk-pauknya."


"Aah. Iya, terima kasih. Nanti, saya akan mampir ke pantry. Saya harus menemui seseorang dulu."


"Baik, Pak. Saya akan membawa ini ke pantry."


"Terima kasih sekali lagi."


"Iya, Pak. Sama-sama."


Aku kembali melanjutkan langkah menuju pantry pribadi Presdir. Berat rasanya setiap kali aku ingat pada orang yang di panggil 'Presdir' itu.


Apa dia memakai susuk? mustahil!


"Kinanti, tolong sediakan teh dan juga beberapa cemilan. Nanti bawa ke ruangan Presdir. Oh, iya. Nanti akan ada pengantar kue, kamu tolong terima dan sediakan juga ke ruangan Presdir." dia adalah sekertaris Presdir, Mia.


"Iya, Bu. Saya mengerti."


"Untuk teh nya, kamu sediakan sekarang. Presdir menunggu."


"Iya, baik. Akan segera saya siapkan."


"Ok." wanita jangkung dengan body yang aduhai itu melenggang. Dan aku segera ke pantry untuk membuat Teh.


Dari berbagai pengalaman buruk saat aku dekat dengannya. Kini aku lebih ekstra hati-hati.


Aku memasuki ruang yang aromanya begitu aku sukai. Aku tidak menyimpan cangkir teh ini di dekatnya. Menghindari kejadian yang tidak di inginkan.


"Kenapa jauh banget?"


"Maaf, Presdir. Saya tidak ingin ada hal yang membuat anda merasa sial saat bersama saya."


"Apa?" gumamnya pelan.

__ADS_1


"Saya permisi, Presdir."


"Hey! tunggu!" aku terus melangkah keluar dan tidak memedulikan panggilannya. Jika sesuatu yang buruk terjadi lagi, aku belum siap mendengar hinaan darinya lagi. Mungkin dia marah karena aku tidak mengindahkan panggilannya, biarlah.


Aku baru saja duduk di pantry dengan saat yang bersamaan pintu terbuka keras hingga menimbulkan bunyi yang membuat aku kaget.


Presdir?


Dia mengikuti sampa ke pantry dengan wajah yang sangat murka. Memerah. Bodo amat! toh hari ini aku akan keluar dari perusahaan ini.


"Kamu." dia mendorong tubuhku hingga menabrak meja dapur. Mencengkram kedua bahuku dengan kasar, sakit. Aku meringis.


Matanya bergantian menatap kedua mataku begitu intens. Wajahnya berubah menjadi lembut saat tanpa sadar aku menitikkan air mata.


Wajah kami saling menempel. Hidungnya dan hidungku bersentuhan. Nafasnya begitu memburu. Aku bisa merasakan dadanya turun naik dengan cepat.


Aku memejamkan mata begitu rapat saat dia mencium keningku dengan lembut dan sangat lama.


Perasaan apa ini? kenapa tubuhku bergetar hebat? aku merasa seluruh jari tanganku kebas. Ada sesuatu di dalam hatiku, apa itu?


Aku merasa sangat nyaman.


"Maaf," ucapnya saat dia kembali menatapku. Ada ketulusan yang aku dapat dari sinar matanya.


Ya ampun. Aku terkunci lagi. Kenapa selalu begini?


Dia mengernyitkan dahi saat melihat aku tidak berkedip menatap wajahnya.


"Kenapa kamu selalu melihatku seperti itu?"


"Saya tidak tau. Setiap melihat wajah anda, saya tidak bisa berpaling." oops! apa yang barusan aku lakukan? bodoh, bodoh, bodoh.


"Hahaha." dia tertawa. "Apa kamu menyukaiku?" dia bertanya dengan mata mengintimidasi.


"Bukan, bukan seperti itu. Mana mungkin saya berani menyukai anda, Presdir."


"Tapi aku menyukaimu."


"Apa?" aku begitu kaget.


Dia tertawa kembali dan pergi begitu saja, meninggalkan aku yang ada dalam kebingungan luar biasa.


Apa dia sedang mempermainkan aku? kurang ajar!


🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2