Bukan Pangeran Berkuda

Bukan Pangeran Berkuda
Pria Gendut


__ADS_3

Tok! tok! tok!


Aku terperanjat saat pintu terketuk. Segera ku hapus air mata dan berjalan menuju pintu. Aku melihat seseorang berdiri di sana.


Seorang dengan perawakan yang tidak cukup tinggi, perut buncit, memakai kacamata berbingkai warna emas. Rambutnya sebagian sudah beruban, mungkin umurnya sudah cukup lama berada di dunia ini, terlihat dari kerutan yang ada di beberapa bagian wajahnya.


"Apa kamu baru di sini?" suaranya terdengar berat namun sangat sejuk didengar.


"Iya, Pak." aku menjawab dengan menunduk kepala. Laki-laki itu masuk dan duduk di kursi yang ada di tengah-tengah ruangan.


"Bapak mau saya buatkan apa? teh, kopi atau yang lainnya?"


"Buatkan saya teh hijau tanpa gula."


"Baik, pak. Mohon tunggu sebentar."


Aku menyalakan kompor lalu mendidihkan air, mengambil teh lalu meletakkannya di cangkir.


"Kenapa tidak pakai kompor elektrik saja?"


"Menurut saya, airnya berasa aneh. Enak pakai kompor biasa saja, Pak."


"Benar, saya juga setuju. Bahkan saya tidak suka nasi yang di masak pake magic com. Saya lebih suka nasi yang di masak dengan cara yang biasa orang dulu lakukan."


Aku hanya menjawab 'oh' serta mengangguk ria.


"Ini, Pak. Tehnya sudah siap."


"Terima kasih. Duduklah."


"Tidak usah, saya biar berdiri saja."

__ADS_1


"Tidak apa. Duduklah di sini. Saya tidak akan mengigit."


Dengan sedikit rasa ragu, aku pun duduk. Meski hanya bisa mencuri pandang. Rasanya sangat tidak etis duduk bersama petinggi seperti ini.


"Siapa nama kamu?" tanyanya setelah menyeruput Teh.


"Kinanti, Pak. Panggil saja saya Kinan."


"Oh, ya, ya. Kinanti, berapa usiamu?"


"Emm? usia saya 27 tahun, bulan depan, Pak."


"Ya, ya. Masih sangat muda. Dulu, waktu usia istri saya seusia kamu saat ini, dia sangat energik. Hidupnya selalu di penuhi dengan tawa. Tidak seperti kamu saat ini. Menangis sendiri di dapur. Kenapa? apa ada yang membuat kamu sedih?"


"Ah, itu? tidak, Pak. Saya baik-baik saja."


"Apa di marahi Presdir galak itu?" tanyanya. Matanya seperti berusaha menyelidiki dengan sedikit godaan disana. "Dia itu memang sangat pemarah. Padahal umurnya masih muda, tidak bisa saya bayangkan bagaimana dia keriput sebelum waktunya."


"Ha ha ha." aku tertawa begitu saja. Tidak hanya dalam waktu singkat. Aku tertawa sampai keluar air mata dan perut terasa sakit. Bukan hanya aku, tapi kami. Kami berdua tertawa.


"Anda benar, Pak. Apa mungkin jika dia tua diusianya saat ini, bisa mendapatkan pasangan? apa ada wanita yang mau sama dia?" tanyaku di sela tawa.


"Ada."


Aku membuka mata lebar, penasaran.


"Nenek-nenek."


Wkwkwk. Kami kembali tertawa lepas. Disela-sela suara riuh yang memenuhi runahn itu, kami ngobrol ke sana ke mari. Entahlah, aku begitu entengnya menceritakan semua kisah hidupku. Dari bagaimana aku kecil, orang tua bercerai, bapak yang mulai suka judi dan mabuk-mabukan, lalu aku yang di keroyok para penagih hutang.


"Andai saya kenal jauh sebelumnya, akan saya bantu kamu untuk melunasi hutang Bapak mu itu."

__ADS_1


"Terima kasih. Tapi, saya juga bingung. Karena sampai saat ini mereka tidak mencari saya lagi. Apa mereka takut dengan ancaman Dokter Evan?"


"Dokter Evan yang di klinik kantor ini?"


"Iya, waktu itu saya di antar pulang sama dia. Dan kebetulan preman itu kembali datang. Mereka berkelahi dan tumbang. Dokter Evan mengancam mereka dengan menyebutkan nama keluarga Dokter Evan. Hmmm mungkin keluarga Dokter Evan itu sangat berpengaruh. Atau mungkin, keluarga preman juga?"


"Tidak mungkin. Evan itu anak baik, keluarganya juga baik-baik."


"Bapak kenal?"


"Hmm. Saya kenal."


"Oh, keluar Dokter Evan itu kaya raya sepertinya. Rumah dia yang sekarang saya tempati juga besar banget. Ada kubah yang bisa terbuka di atasnya. Saya bisa melihat bintang saat cuaca sedang cerah."


Aku yang merasa nyaman dengan Bapak ini, terus saja mengoceh. Apa yang pernah aku alami, aku beritahu semua.


"Pak? Bapak kenapa?" aku heran melihat orang ini bengong seperti terkejut. Aku melambaikan tangan di depan wajahnya.


"Ah, itu. Tidak apa-apa. Saya baru ingat ada yang harus saya kerjakan. Nanti kita bisa ngobrol lagi besok."


"Iya, Pak. Saya mengerti."


"Besok, apa kamu bisa membawakan saya nasi yang di masak manual?"


"Tentu. Tentu saja, Pak. Besok saya akan bawakan nasi untuk Bapak. Oh, iya Pak. Kalau boleh saya tau, apa ada makanan yang anda pantang?"


"Ada."


"Apa saya boleh tau?"


"Makan kebanyakan. Hahaha." pria gendut itu keluar dengan tawa yang masih bisa aku dengan meski langkahnya sudah jauh.

__ADS_1


Tuhan, terima kasih telah memberikan orang-orang baik padaku. Meski ... sudahlah! Presdir itu pengecualian.


__ADS_2