Bukan Pangeran Berkuda

Bukan Pangeran Berkuda
Balutan Luka


__ADS_3

"Berendam terlalu lama membuatku terasa lapar." Aku bergumam. Siapa sangka Jun mendengar apa yang aku ucapkan.


"Kita makan setelah kamu selesai bersiap."


"Presdir," ucapku mendekat, saat dia sedang memakai jam tangan di depan cermin. "Apa telinga anda begitu sensitif? bahkan bisa mendengar saya yang bergumam dengan diri saya sendiri." Dia tertawa kecut. Merapikan kembali rambutnya. Lalu berdiri tegap saat dia mungkin merasa sudah tampil sempurna.


Dia menghadap ke arahku. "Belajar mengenal notasi suaramu. Bergumam tapi seperti orang yang sedang memberi pengumuman."


"Apa suara saya sekeras itu?" aku memegang mulutku sendiri. Presdir menarik tanganku dan ... cup! dia mencium bibirku.


"Aku menunggumu di lobby." teriaknya saat hendak membuka pintu. Dan aku masih mematung.


"Kenapa dia selalu membuat jantungku meminta pensiun dini? Astagaaa! menyebalkan sungguh. Ck!


Seperti biasa, aku yang emang tidak mengerti urusan baju, make-up, dan apapun itu tentang fashion di dandani tiga asisten pribadiku. Tiga asisten dengan fungsinya sendiri-sendiri. Setelah semua dirasa siap, aku turun di ikuti ketiga asistenku. Menemui Jun yang sudah menunggu di lobby hotel.



"Prsdir, apa ini tidak berlebihan?" tanyaku, dia masih terpaku menatapku. Aku memukul pelan perutnya. "Presdir!" aku sedikit menyentak.


"Ya! ada apa?"


"Saya merasa tidak nyaman, ini terlalu terbuka. Sedari tadi orang-orang menatap saya."


"Itu karena kamu cantik."


"Apa?"


Jun terlihat gugup. "Sudahlah, ayo kita masuk." dia merangkul dan kami masuk ke dalam mobil. Tangannya melindungi kepalaku.


"Apa kamu sangat lapar?"


"Lumayan."


"Kita ke kantor sebentar, ada urusan mendadak. Setelah itu kita makan, bagaimana?"


"Bisakah kita membeli cemilan? saya sangat lapar."


"Baiklah, kita pesan beberapa makanan dan makan saja di kantor."


Aku hanya mengangguk. Aku rasa pekerjaannya memang sedang menunggu. Baiklah, aku akan menunggu meski perut sudah terasa perih.


Sepanjang perjalanan, Jun fokus pada laptopnya. Dia sepertinya begitu resah. apa mungkin sesuatu terjadi? Aku diam, tidak ingin mengganggu.


"Oh, iya. Aku punya sesuatu untukmu." dia memberikan sebuah kotak dengan pita merah.


"Apa ini?" aku menerima lalu membukanya. Aku menganga dengan mata membulat sempurna. Sebuah ponsel yang bisa di lipat, yang selama ini hanya aku lihat di brosur-brosur. Kini, aku memilikinya.


"Aku ingin memberikan yang lebih dari ini, tapi tidak akan cocok untuk kamu yang ceroboh dan pelupa."


"Terima kasih." Aku memeluk tangannya dengan riang. Ini bahkan bukan hanya lebih dari cukup bagiku. Astaga, ini bukan mimpi.


Jun membelai rambutku lembut. Kemudian dia kembali fokus pada laptopnya. "Otak atik saja sendiri. Nomerku sudah ada di sana. Kalau ada apa-apa bisa telpon segera."


"Baik, Presdir.


"Bisakah jangan memanggil presdir lagi?"


"Tidak. Aku menyukainya."


"Hm! lakukan sesukamu saja."


Aku asik mengutak-atik ponsel baru. Sampai tidak sadar perjalanan kami telah sampai ke tujuan.


"Ayo, turun." Dia mengulurkan tangannya padaku.


Kami berjalan agak cepat. Sepertinya dia memang sangat buru-buru. Aku yang memakai sepatu dengan hak yang tinggi--menurutku, begitu kerepotan menyeimbangkan langkahnya.


"Kenapa?" dia bertanya. Apa dia sadar bahwa aku kesulitan mengimbangi langkahnya? "Lepaskan." dia memerintah, seraya melepaskan sepatunya. "Pakai ini." di menenteng sepatuku. Mengingat dia yang sedang di tunggu oleh pekerjaan, aku segera memakai sepatunya. Kebesaran, hiks.


Kami sampai di ruangannya. Bodyguard dan asistenku menunggu di luar. Aku segera melepas sepatunya. Dan memilih untuk telanjang kaki. Lagi pula ini di dalam ruangannya, hanya aku dan Jun yang ada di sini.


"Sebentar lagi makanan datang, nanti akan ada orang yang mengantarkannya kesini."


"Ya, saya mengerti."


"Aku ada meeting penting. Tunggu di sini, aku akan segera kembali, dan kita akan pergi makan."


"Iya. Anda tenang saja, Presdir."


Jun segera pergi dengan beberapa map di tangannya. Selang berapa lama ada sedek yang masuk. Seorang wanita cantik dengan nampan di tangannya.


"Apa itu?" tanyaku. "Apa kamu yang menyediakan minuman untuk Presdir?"


"Ya. Kenapa?" tanyanya dengan nada mengejek. Astaga! tidak punya sopan santun sama sekali.


"Akan saya cicipi terlebih dahulu."

__ADS_1


"Tidak. Saya menyiapkan ini untuk Presdir, bukan untuk cleaning servis seperti kamu."


"Apa kamu bilang?"


"Semua orang di sini tau, kamu itu hanya menikah pura-pura dengan presdir. Derajat kamu tetap sama di mata kami."


"KAMU SAYA PECAT!" Teriak Jun. Ternyata dia ada di ruangan ini. Kenapa aku tidak sadar kapan dia masuk?


"Pres-presdir, saya minta ma–."


"Keluar! siapa yang menaruh wanita ini di pantry saya? Mia!" Jun memanggil sekertasirnya.


"Iya, Presdir."


"Sekarang juga, kamu singkirkan wanita ini."


"Baik. Ayo!" Mia menarik tangan wanita itu. Dan menutup pintu rapat.


"Kamu! harusnya kamu jangan diam saja saat ada yang merendahkan harga dirimu."


"Kenapa? dia berkata sesuai fakta. Kenyataannya kita hanya menikah kontrak, dan saya? saya masih cleaning service di kantor ini. Anda lupa? kontrak saya masih berlaku."


Jun berjalan menuju meja. Dia mengambil gagang telepon. "Antarkan berkas Kinanti dan kontrak kerjanya ke ruangan saya," titahnya, dengan mata yang masih menatapku. Merah.


Tok


Tok


Tok


"Masuk."


"Maaf, Presdir. Ini berkas yang anda minta."


Tanpa melihat lagi, Jun langsung merobek berkas yang isinya adalah kontrak kerjaku.


"Kamu! sudah bukan karyawan di sini lagi. Mia."


"Iya, Presdir."


"Kumpulkan semua kepala bagian di aula utama."


"Baik."


"Ikut." Presdir menarik tanganku. Kami berjalan di aula utama yang terletak di lantai tiga. Sebuah aula besar yang biasa di gunakan untuk acara kantor. Seperti : pesta perayaan, buka bersama saat bulan ramadhan, natalan, atau famili gathering.


"Dia," menunjukku. "Adalah istri saya. Istri sah saya di mata negara dan agama. Keluarga saya mengetahui dan menerima kehadirannya. Lalu, siapa kalian yang berani menentang kenyataan ini?" suasana hening, lebih tepatnya kami semua tegang.


"Jika ada satu orang saja di antara kalian yang menghina istri saya, saya tidak akan segan melenyapkan kalian dari muka bumi ini. Faham?"


"Faham, Presdir." semua orang kompak menjawab.


"Ayo, kita kembali." Dia menarik kembali lenganku. Langkahnya tiba-tiba berhenti.


"Kenapa, Presdir?" tanya Mia. Jun menatap ke bawah--ke kakiku--yang tidak memaki alas kaki. Tanpa basa-basi, dia mengangkatnya tubuhku di hadapan semua orang. Dia menggendongku. Ya ampun, kenapa dia senang sekali memperlakukan aku seperti ini? Malu.


"Turunkan saja saya, di sini tidak ada orang." aku berbisik saat di dalam lift. Dia bergeming. Bahkan menoleh pun tidak. Keras kepala.


Jun menurunkan tubuhku saat kami sudah di dalam ruangannya.


"Makanan sudah datang, makanlah."


Aku melihat ke arah meja. Tampak berbagai macam cookies dan cake tersaji di sana. Hanya saja, selera makan ku sedikit menghilang.


"Kenapa?"


"Mendadak tidak lapar."


"Wanita itu. Kurang ajar! berani dia menghina istriku. Akan ku beri pelajaran karena berani membuat kamu kehilangan selera makan."


"Tidak. Bukan dia, Presdir."


"Lalu?"


"Presdir, apa anda benar-benar akan melenyapkan seseorang yang telah menghinaku?"


"Ya!"


"Sungguh, aku baik-baik saja. Tidak perlu berlebihan seperti itu."


"Aku tidak suka jika ada yang menghina apapun yang menjadi milikku." Aku terdiam saat dia berbicara dengan mulut yang bergetar karena menahan amarah.


"Presdir, jangan begini. Saya–"


"Apa kamu takut? bahkan kamu belum melihat apapun sisi hidup saya."


Deg!

__ADS_1


Aku benar-benar ketakutan. Dia yang bersikap baik dan manis padaku, apa dia seseorang sangat kejam?


Aku berusaha tenang dan berjalan menuju meja. Mengambil satu kue dan berusaha memasukkannya ke dalam mulut. Tanganku masih bergetar. Aku mengatur nafas ada bisa lebih tenang. Sulit.


"Maaf." dia memelukku dari belakang. "maaf karena kamu harus melihat semua ini? jangan takut, aku tidak akan melukaimu."


"Saya ingin pergi. Bisakah saya pergi tanpa anda? kumohon."


"Baiklah, lagi pula ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan. Ajak supir bersamamu."


Aku melepas pelukannya. Segera keluar tanpa membawa apapun juga.


"Jangan ikuti saya." aku memerintahkan pada asisten dan bodyguard yang hendak mengikuti.


Dalam mobil, aku menangis sekencang-kencangnya. Rasanya sangat sesak saat berada di perusahaan itu bersamanya. Aku semakin ragu pada keputusan yang aku ambil. Benarkah apa yang aku lihat? apa dia benar-benar akan membunuh semua orang yang menyakitiku?


"Kenapa? apa dia memang seperti ini?"


"Nona, kita mau kemana?" aku melihat sekeliling. Kini, kami berada di dekat tempat tinggalku dulu.


"Berhenti di depan gang itu, Pak."


"Baik, Nona." Mobil pun berhenti. Aku menatap lurus pada gang sempit tempatku tinggal dulu. Melihatnya seperti melihat jurang berduri. Hanya saja, entah kenapa aku ingin turun dan melihatnya ke sana.


Aku membuka pintu mobil, turun lalu berjalan perlahan. Langkahku terhenti saat melihat seseorang yang begitu familiar, duduk di warung kopi di samping gang.


Langkah kaki ini berubah haluan. Insting kuat membawaku menghampiri pria itu.


"Pak?"


Laki-laki dengan uban dimana-mana. Wajahnya terlihat keriput. Kulitnya seperti langsung melekat pada kulit. Baju yang dia kenakan tampak turun sebelah di bagian tangannya--kelonggaran.


Dia menatapku penuh selidik. ah! aku lupa, bahwa aku sudah berbeda sekarang.


"Pak. Aku Kinanti, anak bapak. Ini aku, Pak." aku menangis. Laki-laki itu berdiri dan masih menatapku. Aku ingin sekali mendekapnya. Sejahat apapun dia, dia tetaplah orang tuaku. Aku menyayangi dirinya. Apa lagi saat ini, dia begitu memperhatikan, berbanding terbalik denganku. ah, Bapak. Maafkan anakmu ini.


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Perih.


"Hidup enak Lu, yah? kagak inget sama bapak sendiri. Anak durhaka!" dia mendorong tubuhku hingga terjatuh ke tanah. Supir datang menghampiri hendak memukul Bapak.


"Jangan! dia orang tuaku. Kembalilah ke mobil."


"Tapi, Nyonya."


"Kembali aku bilang."


"Baik."


"Wah! bahkan lu punya supir pribadi rupanya. Dasar kurang ajar!" Bapak menendangku. Tepat di bagian dagu. "Gue di sini sengsara. Makan aja gue harus mungut dari sampah! demi menutupi lapar, gua juga harus nyopet. Elu? elu hidup enak, pakaian lu bagus dan rapi. Sementara gue? gue pake baju aja udah berbulan-bulan kagak ganti. Nyaho!" Bapak terus memaki dan memukul serta menendang tubuhku.


Aku meringkuk. Melindungi kepala dengan tangan. Menangis sejadinya. Bukan karena sakit akibat perlakukan Bapak. Aku menangis pilu mendem keluhan Bapak. Anak macam apa aku ini?


"Cukup, Pak. Sakit." aku merintih. Memohon agar Bapak mau menghentikan pukulannya. Orang-orang hanya melihat tanpa membantu. Mereka yang tau siapa Bapak, tampak takut jika harus berurusan dengannya.


"Aku akan memberi uang. Berapapun yang Bapak minta. Tolong, berhentilah." dengan menyebut kata 'uang', Bapak diam.


Dengan rasa sakit di sekujur tubuh. Aku berusaha bangun. Tak ku hiraukan lagi pakaian yang mahal ini kotor bahkan robek.


Aku berhasil berdiri meski dengan keadaan yang bergetar. Perih, linu, panas, sakit, semua terasa dalam waktu yang bersamaan.


"Ayo, ikut aku, Pak."


Dengan langkah yang di seret, aku berjalan menuju mobil. Astaga! apa yang harus aku berikan? uang saja aku tidak bawa. Tas yang aku bawa hanya sebagai hiasan semata.


"Bagus juga mobil lu! jadi simpenan pejabat Lu?"


"Bukan, Pak. Sebentar, aku ambilkan dulu uangnya." Aku masuk ke dalam mobil. Dan meminta pinjaman uang pada supir.


"Ini, Pak. Uang untuk Bapak." Aku memberikan uang itu pada Bapak. Setelah di hitung, Bapak kembali marah.


"Anak kurang ajar! mobil lu bagus, tapi lu cuma ngasih gue duit sejuta? mana cukup!"


"Aku lupa membawa uang, Pak. Nanti aku akan memberi Bapak lebih banyak lagi. Untuk saat ini, hanya ini saja."


"Awas lu kalau bohong. Hahaha lumayan, bisa main malam ini," ucapnya.


"Pak, tolong uangnya jangan di pake judi. Gunakan uang ini untuk keperluan Bapak sehari-hari." aku memelas dengan memegang tangan Bapak.


"Apaan sih lu?" Bapak mendorong kembali tubuhku. Hingga aku tersungkur ke tanah.


Aku menangis, kulihat Bapak pergi. Dia tertawa sumringah karena bisa judi lagi.


Kenapa hidupku harus semenderita ini? apakah aku tidak akan pernah merasakannya hidup bahagia? aku ingin hidup seperti orang normal pada umumnya.


🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2