
Hanya sebagian orang yang tau sosok Presdir dari sebuah perusahaan bernama PT Sigma Cipta Nusa. Mereka yang bekerja di bagian paling rendah seperti aku—Kinanti, bahkan tidak pernah sekalipun melihatnya.
Hari ini, dia berdiri tepat di hadapanku. Dia yang begitu terlihat jutek dan dingin. Matanya sipit dan begitu tajam, membuat aku merasa takut saat bertatapan dengannya.
"Kenapa wajahmu? apa kamu habis bertengkar dengan suamimu?"
pertanyaan apa itu? suami? bahkan pacar saja aku tidak punya. Hm.
"Hey! Presdir sedang bicara padamu, jawablah! kenapa diam?" ucap ajudannya dengan bernada sedikit marah.
"Ma-Maaf, presdir."
"Obati dulu luka di wajahmu, baru bekerja kembali."
Ucapannya membuat aku terkejut dan memiliki harapan. "Apa saya tidak jadi di pecat?" tanyaku spontan, dengan menatap kembali dirinya dengan penuh harap.
"Hmm. Kamu masih bekerja di sini. Pergilah ke klinik kantor kita. Jangan sampai orang lain berpikir bahwa saya atasan yang kejam, mempekerjakan karyawannya yang babak belur karena KDRT."
"Ta-tapi, Presdir."
Aish. Dia malah pergi begitu saja.
"Beruntung kamu kali ini."
"Hehe, iya Bos."
Aku segera pergi menuju klinik yang di sediakan oleh perusahaan. Biasanya klinik itu hanya di pakai karyawan biasa seperti aku dan yang lainnya.
Ya, iyalah! para bos mana mau berobat atau periksa di sini. Mereka pasti pergi ke rumah sakit mewah meski hanya terkena flu biasa.
Klinik itu tidak terlalu jauh. Dia berada dekat kantin yang juga tempat makan karyawan biasa.
Sebuah klinik yang memang sangat layak, bersih dan wangi. Ruangan ber AC dan juga ada TV yang besar di sana. Petugasnya pun mereka yang ahli dan ramah. Melayani kami yang di anggap kelas paling rendah dengan sopan.
"Ini luka habis ngapain?" tanya Dokter gemas sambil memberikan luka di seluruh wajahku."Masa iya habis berantem? KDRT? laporin aja ke polisi."
"Astaga. Kenapa semua orang menyangka kalau aku korban KDRT? bahkan pacar pun aku belum punya, apa lagi suami. Ck."
"Masa? kamu itu cantik, masa gak ada yang mau jadi pacarnya."
"Cantik tapi miskin. Kedua hal yang enggan laki-laki dekati."
"Terus? ini kenapa? ini loh, pelipis kamu sampai sobek gini. Bibir juga sampe kaya gitu. Ngeri aku."
"Aku di ...."
Ah! kenapa juga harus menceritakan semuanya pada Pak Dokter molek ini?
"Di apa? kan penasaran jadinya."
"Sudahlah, obati saja."
"Yakin, lukanya cuma ini aja?" tanyanya.
Aku mendelik. "Iya! gak ada lagi kok."
"Baiklah. Nanti bagian pelipis jasanya ganti pagi sore, aku jahit sedikit, paling cuma tiga jahitan."
"Kok gak berasa?"
"Magic," ucapnya centil dengan tangan seperti sedang memantrai. "Ini obatnya diminum. Semuanya tiga kali sehari. Jangan lupa makan dulu sebelum minum obat."
"Ok. Terima kasih, Dok."
"Sama-sama. Jangan balik lagi ke sini, yaaaa."
siapa juga yang mau sakit.
Sepulang dari klinik, aku langsung mengerjakan pekerjaan. Membersihkan dan membereskan bagian ruangan HRD.
__ADS_1
"Kok telat?" tanya Pak. Rudi, pimpinan HRD.
"Maaf, Pak. Tadi saya habis ke klinik dulu," jawabku. Dia yang sedang duduk membelakangiku langsung berbalik.
"Ya ampun. Itu muka kenapa lagi? di hajar preman lagi?" Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya. "Ya sudah, nanti tolong berikan ini ke kantor Presdir, ya."
"Saya? tumben."
"Kamu lihat, di sini tidak ada orang. Semua sibuk karena ada perekrutan karyawan baru di aula utama. Udah, kamu kasih aja ini. Tau kan ruangannya?" Aku menggelengkan kepala."Tanya saja sama karyawan yang lain. Beliau ada di lantai tujuh. Sampai sana kamu tanya saja sama orang lain."
"Iya, Pak." Aku membawa amplop cokelat cukup tebal. Entah apa isinya. Begitu keluar kantor HRD yang terletak di lantai dua, aku berbelok kiri menuju ruangan yang isinya terdiri dari sofa satu set dengan meja. Sofa merah yang membelakangi jendela besar hingga kita bisa melihat keluar dengan leluasa. Pohon palm kecil sedikit memberikan kesan sejuk meski rasa dingin di sini karena adanya AC. melangkah sedikit aku bisa menemukan lift. Naik bersama beberapa karyawan lain.
Lantai 7.
Aku celingukan kesana kemari. Di sini tidak banyak orang seperti lantai lain.
"Kenapa sepi banget? gue harus nyari kemana?" aku berjalan menyusuri lorong dengan karpet merah maroon. Ruangannya sepi tapi begitu wangi. Dingin.
"Sedang mencari siapa?" tanya seseorang di belakangku.
Perasaan pernah denger suaranya, tapi dimana ya?
Aku membalikkan badan perlahan. Dan ....
Presdir?
Mataku selalu tidak bisa berpaling saat menatapnya. Seakan terkunci begitu saja.
"Hey! Presdir bertanya padamu. Jangan bengong!"
Aku yakin itu adalah ajudannya yang lain. Seragamnya seperti pengawal presiden negara saja.
"Hey! kamu."
Aku segera menggelengkan kepala. Berusaha untuk segera sadar.
"Maaf, saya harus menemui Presdir," ucapkan sambil menunduk.
"Angkat kepalamu."
Aku sebenarnya ragu untuk kembali mengangkat kepala dan menatap wajahnya. Aku takut akan terhipnotis lagi.
Bagaimana ini?
"Saya tidak suka bicara dengan orang tanpa wajah."
"Hah?" spontan aku mengangkat kepala dan menatapnya.
"Apa lukamu sudah membaik?"
"Em, ini, itu ...."
"Kenapa kamu gugup? santai saja, saya juga manusia bukan hantu yang harus kamu takutkan."
Masalahnya bukan itu, Presdir. Saya takut ketahuan kalau setiap memandang wajah anda, saya sellau tidak bisa berpaling.
"Itu sudah biasa. Mereka terutama perempuan, akan terpesona begitu melihat wajah saya."
Ya ampun! apa dia paranormal juga?
"Ikut ke ruangan saya." Dia berjalan melewatilku. Aku segera berbalik dan mengekor di belakangnya. Begitu pintu terbuka, kesan pertama yang aku dapatkan adalah wangi. Aroma mawar yang begitu harus dan lembut. Aku tidak tau apa itu ....
"Kemarilah."
Aku mengikutinya menuju sebuah sofa yang terbuat dari kulit. Besar.
Lantainya di lapisi oleh karpet bulu yang terlihat begitu lembut.
Bolehkah aku memintanya untuk alas tidur di kontrakan? ketimbang di injak-injak.
__ADS_1
"Apa yang kamu bawa?"
"Ah, ini Presdir." aku menyerahkan amplop yang aku bawa.
"Baiklah. Kamu boleh pergi."
"Iya, Presdir. Saya mohon undur diri."
"Tunggu!" dia menghentikan langkahku yang sudah hampir mendekati pintu.
"Ya."
"Apa kamu bisa membuat minuman? maksdu saya, teh atau kopi."
"Bisa, kami di ajarkan membuat minuman untuk para karyawan di sini."
"Kalau begitu, buatkan saya teh. Jangan terlalu manis, tapi jangan hambar juga."
"Baik, saya akan turun kebawah untuk membuatnya."
"Tidak perlu. Kamu keluar dari sini menuju tempat tadi kita bertemu. Lurus sedikit dan masuk ke pintu kedua yang kamu lihat. Buatlah teh di sana."
"Iya, baik."
Aku berjalan sesuai petunjuk yang dia berikan. Begitu masuk, aku kembali di buat kagum. Dapur yang luasnya bisa lima kali dengan tempat aku tinggal. Dengan peralatan yang lengkap serta modern.
Aku bahkan rela kalau di suruh tinggal di sini.
Mataku masih senang melihat setiap inci dari dapur ini. Setelah puas, aku segera menyalakan kompor untuk memanaskan air.
Aku membuka satu-satu lemari untuk mencari teh. Dan akhirnya aku menemukannya. Teh dengan gula.
"Kenapa lama sekali?" aku ditodong pertanyaan begitu pintu ruangan Presdir terbuka.
Masa iya, aku harus bilang kalau aku lihat-lihat dulu di dapur?
"Maaf, Presdir. Saya kebingungan mencari teh dan gulanya."
"Baiklah. Bawa ke sini."
Aku segera berjalan mendekati dia yang kini duduk di meja kerjanya sambil menatap laptop.
"Ini, silahkan.
"Terima kasih. Kamu boleh pergi."
"Iya." aku sedikit mundur sebelum membalikkan badan. Tidak tau bahwa tepat di belakang ada meja kecil yang di atasnya ada sebuah kotak kayu yang entah apa isinya.
"Aww!" sungguh sakit, perutku yang para preman itu tendang berkali-kali, terasa sangat linu begitu menabrak tepat di ujung meja.
"Aww ...." aku meringis dengan posisi duduk.
"Kamu kenapa?" dia mendekat. Memegang bahu kiri dan tangan satunya memegang tangan kananku yang ada di perut.
"Sakit ... perut saya luka, Presdir."
"Coba saya lihat."
Apa? dia mau melihat perutku?
Sontak aku menengadahkan wajah menatapnya. Tidak ku sangka wajah kami begitu dekat.
Bodoh! kenapa aku harus menoleh?
Aku kembali terkunci saat melihat wajahnya. Dadaku hampir saja tidak bisa bergerak lagi, aku ingin berpaling tapi tidak bisa. Bahkan, aku bisa merasakan hembusan nafasnya di mataku.
Astaga! bagaimana ini? kenapa dia juga tidak segera berpaling. Oh, jantung, segeralah berdetak, aku tidak ingin kamu mengundurkan diri dari jabatanmu saat ini. Plisss.
TO BE CONTINUE
__ADS_1
Presdir Kim Joon Hartadinata. 36 tahun. Blasteran Korsel-Jawa.