
Malam semakin larut. Dia bahkan tidak memberiku kabar baik pesan ataupun telepon. Aku sendiri tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi pada hatiku. Yang pasti, aku terluka di abaikan olehnya.
Aku tidak bisa melakukan apapun untuk mengobati luka hatiku sendiri. Ingin mencoba menanyakan kabar, aku takut hanya akan mengganggunya.
Dia sedang asik dengan wanita lain. Lalu apa artinya aku untuknya, kenapa aku berharap dia menghubungiku saat dia sedang bersama yang lain.
Hidup ini memang terasa sangat tidak adil. Meski Tuhan jelas memberikan apa yang menurutnya baik.
Aku berada di sini, di rumah yang layak di sebut istana. Meski dalam kondisi yang menyedihkan, ini terjadi bukan tanpa alasan, meski aku tidak tau apa alasan aku berada di sini.
Sumpek. Itu yang aku rasakan saat ini. Aku memutuskan untuk naik ke atas. Mengajak Bibi dan dua bodyguard untuk ikut serta. Aku masih takut akan mimpi tadi malam.
"Bibi, apa boleh saya meminjam ponselnya?"
"Boleh, Nyonya. Untuk apa?"
"Saya pinjam sebentar, ya."
"Silahkan."
"Terima kasih. Oh, ya. Bibi jangan pergi kemana-mana, tunggu di sini. Ok?"
"Kami tidak akan kemana-mana tanpa seizinmu, Nyonya."
Aku merasa tenang. Membuka kubah dan naik ke atas. Mungkin ini terlihat sangat aneh dan kekanak-kanakan. Tidak ada cara lain.
[Presdir, Nyonya masih di dalam kamar.]
[Kenapa]
[Dia tidak mau makan sama sekali]
[Biarkan saja, pastikan saja ada bodyguard yang menjaganya]
[Saya takut terjadi sesuatu padanya]
[Biarkan saja. Saya masih banyak urusan]
Perih. Dia bahkan tidak perduli dengan kondisiku saat ini.
"Astaga! kenapa aku masih berharap lebih saat dia sedang bersama wanita lain? ayo Kinanti, sadaaar!"
Aku hanya bisa menatap layar ponsel, berharap dia akan mengirim pesan dan menanyakan diriku. Nihil.
Malam semakin larut. Tidak mungkin aku meminta mereka yang di bawah menunggu sampai tengah malam meski mereka akan melakukannya. Bagaimana pun, mereka butuh istirahat.
Aku turun ke bawah. Kembali menutup kubah kaca. Memberikan ponsel pada Bibi lalu pergi ke kamar. Aku langsung tidur dan menutup seluruh tubuh dengan selimut.
Mata yang lelah karena kemarin terus menerus menangis, akhirnya terpejam.
Kesadaranku perlahan kembali. Aku mengangkat kepala sedikit dan melihat kiri dan kanan, tubuhku yang tengkurap ingin ku angkat hingga aku merasa ada sesuatu yang terasa berat. Aku menoleh. Ternyata Jun tidur di atas punggungku. Apa yang harus aku lakukan?
Diam. Itu pilihan yang aku ambil. Aku tidak akan membangunkan dirinya. Kenapa kepalanya saja begitu berat?
Setelah hampir satu jam, akhirnya dia bangunan. Menggeliat, lalu berangsur pindah ke sampingku. Dia kembali tertidur membelakangi diriku.
Aku segera bangun dan masuk ke kamar mandi. Membersihkan diri di bawah guyuran air hangat.
Aku keluar dengan sehelai handuk di tubuh dan satu lilitan di kepala untuk mengeringkan rambut.
Dia sudah duduk di tepi ranjang. Aku yang sedikit terkejut pura-pura tenang dan mengabaikannya.
"Apa semalam kamu tidak makan lagi?" tanyanya. Aku diam.
"Kenapa kamu sering melakukan ini? aku tidak suka kamu menyiksa tubuhmu itu."
Tidak ku perdulikan ucapannya. Aku menyibukkan diri mengeringkan rambut di depan cermin.
"Jawablah. Aku tidak suka di abaikan seperti ini."
"Memang tidak akan ada yang suka jika di abaikan. Siapapun itu."
Setelah rambutku hampir kering, aku berjalan menuju lemari. Biasanya aku berganti pakaian di kamar mandi, entah kenapa kali ini aku ingin memakainya di sini--di hadapan Jun.
Meski agak sedikit takut, aku melakukannya. Ternyata tidak ada reaksi. Dia hanya diam menatapku heran. Ya, dia pasti merasa heran melihat tingkahku.
"Saya izin pergi, Presdir."
"Mau kemana?"
"Orang bilang, dengan pergi berbelanja akan memperbaiki mood wanita. Saya ingin mencobanya."
"Dengan siapa kamu pergi, bahkan mereka pergi bersama teman-temannya. Sementara kamu? teman satu saja tidak punya bukan?"
"Banyak, orang-orang di sini adalah teman bagi saya."
Dia berjalan menuju nakas. Mengambil dompet dan memberikan kartu untukku.
"Ini kartu kredit dan debit, ambilah. Pakai pin tanggal pernikahan kita, aku mengubahnya kemarin."
"Tidak perlu, saya punya kartu sendiri."
"Apa?"
"Kartu yang Evan berikan masih saya simpan dengan baik, saya akan menggunakan itu saja."
Mendengar perkataanku, dia marah besar. Dia melemparkan dompet dan semua yang ada di tangannya. Dengan mata memelotot, dia melangkah cepat penuh hentakan ke arahku.
"Mana kartu itu?"
Aku diam dengan menelan ludah. Aku takut melihat wajahnya yang terlihat sangat murka. Dia mengalihkan pandangan pada tas kecil yang mengait di bahuku. Di ambilnya kasar, setelah dia mendapat kartu yang dia cari langsung dia patahkan.
"Jangan berani memakai uang pemberian dari orang lain. Ingat itu!"
"Kenapa? apa anda merasa harga diri anda tersinggung?"
"Aku lebih dari mampu untuk memberikan semua kebutuhanmu."
"Tidak. Anda tidak mampu melakukannya."
"Beraninya kamu–"
"Manusia tidak hanya membutuhkan materi, Presdir." aku menepis kedua tangannya yang mencengkram bahuku kuat.
Aku yang memang tidak berniat pergi kemanapun, kembali menuju tempat tidur. Menutup seluruh tubuh dengan selimut.
Langkah kakinya terdengar menjauh, menuju kamar mandi. Dia mengabaikan aku, lagi.
__ADS_1
Aku memejamkan mata. Berpikir untuk kembali tidur, agar bisa melupakan semuanya.
"Kinan," sapanya seraya membuka selimut. Dia duduk di sampingku.
"Ada apa? apa aku melakukan kesalahan? apa kamu marah?"
Aku diam. Ini orang bener-bener tidak tau apa hanya pura-pura polos?
"Jangan begini. Bicaralah jika kamu marah, katakan apa kesalahan yang aku perbuat. Aku tidak tau apa yang telah aku lakukan."
Aku hanya diam menatapnya dan kembali meneteskan air mata. Dia mendekat lalu menyeka air mata yang jatuh dari sudut mataku.
"Seharusnya kita tidak menikah. Itu kesalahan yang kita lakukan. Seharusnya aku memilih Anda membunuh orang tuaku saja, mungkin itu jauh lebih baik."
Aku membalikkan badan. Menghindari dirinya. Pernikahan ini benar-benar membuat aku tertekan. Aku masih mencintai Evan, tapi entah kenapa aku selalu merasa sakit saat dia mengabaikan diriku. Di tambah wanita itu.
"Kinan, apa kamu ingin pergi jalan-jalan? bagaiman kalau kita ke pantai?"
Aku diam.
"Apa kamu ingin jalan-jalan ke luar negeri? aku akan mengajakmu keliling dunia."
"Presdir, kenapa Anda ingin melakukan itu?"
"Yaaa karena aku ingin membuatmu bahagia."
"Kenapa?"
"Karena kamu istriku."
Benarkah hanya itu? kenapa aku kecewa.
"Tapi aku merasa aku hanya sebuah pajangan. Aku tidak merasa Anda memperlakukan aku sebagai istri. Apa anda tau apa itu hubungan suami istri?"
"Kinan, apa yang kamu maksud adalah ..."
"Bukan. Yang saya maksud bukan hubungan intim, tapi perasaan. Oh, tidak maksud saya adalah–"
"Apa kamu ingin mendengar tentang apa yang aku rasakan padamu? begitu?"
"Tidak." aku duduk dan menghadap ke arahnya. "Saya tidak perlu tau bagaimana perasaan Anda pada saya, itu terlalu berlebihan. Saya cukup tau diri untuk tidak meminta lebih. Saya hanya ingin Anda tidak mengabaikan saya, itu saja."
Jun mengernyitkan dahi. Astaga, apa dia benar-benar tidak mengerti maksudku?
"Jika ingin membahagiakan wanita, Anda tidak perlu mengajak saya keliling dunia. Saya bisa bahagia hanya dengan sesuatu yang sederhana."
"Katakan, apa itu."
"Jangan abaikan saya. Anda bahkan tidak perduli keadaan saya semalam. Bahkan, saya harus meminjam ponsel Bibi untuk–"
"Kenapa kamu meminjam ponsel orang lain, sementara ponselmu tidak kamu cek sama sekali."
"Buat apa? ponselku tidak cukup berguna. Dia hanya bisa saya pakai untuk Selfi."
Dia senyum miring. Berdiri lalu pergi untuk berpakaian. Aku hanya diam melihatnya dandan.
"Aku pergi." dia menarik kepalaku, lalu mengecup keningku.
Aku kembali berdiam diri. Setiap hari hanya sekali begini. Rasanya sangat bosan. Bangun tidur berdiam diri di kamar. Menunggu pelayan membawakan makan.
"Membosankan. Hidupku benar-benar hanya di habiskan di kamar ini saja."
Aku teringat akan ucapannya. Segera ku ambil ponsel dan membukanya. Ada beberapa pesan masuk dari "My Presdir."
Aku membuka pesan yang masuk satu persatu.
[Sedang apa? apa kamu baik-baik saja?]
[Kenapa tidak membalas? aku sibuk sekali di kantor, aku akan pulang malam. Tunggu, ya.]
[Kinan, apa kamu tidur? Bibi bilang kamu tidak mau makan, kenapa lagi?]
[Tolong angkat teleponku, atau balas pesan ini]
[Begitu urusan di sini selsai, aku akan segera pulang dan memasak untukmu. Kita makan sama-sama.]
[Jika aku punya salah, aku minta maaf Kinan. Jangan siksa dirimu.]
Aku terbelalak melihat pesan yang dia kirimkan. Pesan yang dia kirim dengan jarak waktu yang cukup lama dari satu pesan ke pesan yang lain.
apa aku sudah salah sangka padanya? owhh, dasar payah, Kinanti!!!
"Lebih baik aku telepon untuk meminta maaf."
Cukup lama aku menunggu dia agar mengangkat telpon dariku.
"Halo, Kinan. Ada apa?"
"Tidak, saya hanya ingin menanyakan sesuatu."
"Ada apa? apa kamu sudah membaca pesan dariku?"
"Ya, baru saja. Presdir, apa anda sudah sarapan?"
"Ya, tentu saja. Aku harus menjaga kesehatan agar bisa menjaga perusahaan dan keluargaku."
"Ahh, begitu ...."
"Termasuk dirimu."
"Eh?"
"Kinan, bersiaplah. Nanti siang akan ada pesta di kantor. Aku telah mengirim gaun untuk kamu pakai. Dandan yang cantik."
"Memangnya aku selama ini tidak cantik?"
"Hahaha. Baiklah, aku harus menelpon seseorang, sampai bertemu di kantor."
Aku masih menatap layar ponsel dengan pipi menggembung.
"Kalau di pikir-pikir, aku belum pernah foto berdua dengannya. Kalau ada, aku bisa menjadikannya wallpaper di ponselku."
Tidak lama kemudian Bibi masuk beserta asistenku. Mereka membawa kotak besar dengan pita putih di atasnya. Itu pasti gaun yang Jun kirimkan.
"Apa kita akan bersiap-siap dari sekarang? ini masih pagi."
"Ini sudah pukul sepuluh, Nyonya. Acara akan di mulai pukul dua belas. Kita harus segera bersiap-siap."
"Baiklah, apa yang akan kita lakukan saat ini?"
"Kita akan melakukan Feeling, merawat kuku, setelah itu rambut, baru kita akan mendandani wajah serta pakaian anda."
__ADS_1
"Baiklah, lakukan saja. Jadikan aku wanita tercantik siang ini."
"Baik,Nyonya."
Setelah selesai, aku segera turun menuju mobil yang sudah di siapkan Jun. Awalnya aku ragu, karena mobil ini baru pertama kali aku lihat. Di garasi hanya ada lima mobil yang selalu di pakai Jun bergantian, sesuai keinginan dia.
"Silahkan, Nyonya."
"Ini mobil siapa? aku baru melihatnya. Apa ini benar mobil yang anak membawaku ke pesta?"
"Iya, ini mobil yang baru tuan beli atas nama Anda." Bibi mencoba menjelaskan.
"Atas nama saya? kapan dia membeli ini?"
"Satu Minggu yang lalu, Nyonya."
"Owh, baiklah. Aku akan menelponnya dulu."
Aku mengambil ponsel, lalu menelpon Jun untuk memastikannya sendiri. Entahlah, sejak mimpi buruk itu, aku menjadi paranoid.
"Presdir, apa ini benar mobil yang akan membawa saya ke pesta?"
"Ya, kenapa? tidak suka? kalau begitu aku akan menggantinya dengan mobil lain."
"Bukan. Saya hanya ingin memastikannya saja."
"Baiklah. Segeralah kemari, acara akan di mulai."
"Baik, Presdir."
🌺
Sesampainya di kantor, aku di kawal oleh beberapa orang menuju aula utama. Kenapa mengadakan pesta di kantor? kenapa tidak di gedung atau di hotel?
Begitu sampai di depan pintu utama, aku di sambut Jun. Dia mengulurkan tangannya, lalu aku gandeng.
Kami berjalan di sebuah red karpet. Semua mata tertuju pada kami. Mereka terlihat berbisik-bisik dengan wajah yang ramah.
"Aku salah memintamu berdandan cantik. Orang lain ikut menikmatinya," bisik Jun.
"Apa aku harus menghapus riasan wajahku, Presdir?"
"Jangan, itu akan membuatmu terlihat lebihan cantik."
Aku menatapnya. Wajahku terasa hangat. Mungkin sudah terlihat seperti tomat matang.
"Aku akan memperkenalkan seseorang padamu. Dia ratu acara ini."
"Siapa?"
"Itu." Jun menunjuk seseorang. Dia adalah wanita yang kemarin dia rangkul.
"Dia Yesi, adikku."
"Apa?"
"Hai, Kak." gadis itu mencium pipiku. "Lain kali, saat cemburu jangan pergi."
"Apa? dia cemburu padamu?" tanya Jun.
"Iya, itulah kenapa dia kemarin dia pergi begitu saja."
"Benarkah?" tanya Jun penuh selidik padaku. Aku hanya tersipu.
"Wajar, kita belum pernah bertemu sebelumnya bukan? maaf ya, saat kalau menikah aku tidak bisa hadir."
"Kamu tidak pernah bercerita bahwa kamu memiliki seorang adik perempuan."
"Tapi aku bisa tau kalau kamu cemburu," ledek Jun. Aku mencubit pinggangnya.
"Lalu, acara apa ini?"
"Aku akan bertunangan, Kak. Aku sengaja memilih aula ini, karena dulu aula ini memang di bangun khusus untukku. Ibu kami yang membangunnya."
"Oh, begitu rupanya."
"Aku sangat iri pada Kakak."
"Kenapa?"
"Kakak sangat cantik, dan jadi pusat perhatian di sini."
"Bukan kecantikanku yang membuat mereka melihatku sedari tadi. Tapi karena aku adalah bawahan mereka dulu."
"Maksudnya mereka mengejek? ahhh, jika memang seperti itu, akan ku hajar mereka."
"Tenanglah," aku terkekeh. "Presdir sudah memberi mereka peringatan." aku mengusap lengan Yesi yang terlihat emosi. Jun dan Yesi, mereka tidak ingin aku di hina siapapun. Aku terharu.
Pihak keluarga pria datang. Acara demi acara telah di lewati. Aku baru pertama bertemu dengannya, tapi merasa sudah sangat dekat. Mungkin karena sikap ramah yang dia berikan padaku.
"Apa kamu lapar?" tanya Jun. Tangannya tidak pernah lepas dari pinggangku. Entah apa yang ingin dia tunjukkan pada orang-orang. Aku sedikit merasa canggung.
"Ayo, kita makan."
"Baiklah."
"Pimpinan Kim Joon." seseorang menghampiri kami saat menuju tempat makan.
"Halo Mr. Alex. Apa kabar?"
"Saya baik. Anda sendiri bagaimana? maaf, saya tidak bisa datang ke pernikahan Anda waktu itu. Apa dia istri Anda?" tanyanya sambil melirik ke arahku. Aku tersenyum sedikit menundukkan kepala memberi salam. Jun tidak mengizinkan aku untuk berjabat tangan dengan siapapun juga, entah itu wanita atau pria.
"Benar, ini istri saya. Kinanti."
"Kebetulan," dia menoleh ke pengawal dan para asistennya, sepertinya. "Ini, saya membawakan hadiah untuk istri Anda."
"Terima kasih, Mr Alex." Jun mengambilnya lalu memberikannya pada bodyguard kami.
"Duluan saja, aku masih harus ngobrol dengannya," bisik Jun.
"Baiklah. Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil makan sendirian. Aku juga meminta bodyguard itu tidak mengikutiku. Aku ingin sendiri dan tidak terlihat mencolok.
Banyak sekali makanan di sini. Seperti pesta pernikahan saja. Makanan internasional dari beberapa negara, dan juga makanan Nusantara dari berbagai daerah ada di sini. Lengkap.
Aku memutuskan untuk mengambil makanan ringan saja. Sepulang pesta, aku akan meminta Jun memasak untukku. Hihi
"Hai, lama tidak berjumpa."
Suara itu?
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺