
Pikiranku kacau. Ingin bertanya tapi takut. Diam diri seperti ini mungkin akan lebih baik. Kita lihat saja kemana dia akan membawaku.
Hampir dua jam perjalanan. Akhirnya kami sampai pada satu tempat di mana ada seseorang yang membuka pintu gerbang yang tinggi menjulang. Saat kami melewatinya, aku melihat seorang laki-laki dengan pakaian seperti security.
Mataku kembali terbelalak melihat rumah yang lebih pantas di sebut istana itu.
Mobil berhenti tepat di depan pintu yang lagi-lagi begitu besar, mirip seperti gebyog pengantin dengan ukiran yang sangat indah seperti khas Jawa.
Dua orang wanita datang menghampiri, mereka membuka pintu mobil. Wanita dengan seragam hitam, dengan setelan rok seperti orang Belanda.
Evan kembali menyeret lenganku menuju ke dalam rumah. Entah untuk yang keberapa kalinya mataku di buat membulat sempurna saat melihat isi rumah ini.
Siapa yang menyangka rumah seorang Dokter di klinik kecil yang hanya terletak di bagian kecil sebuah perusahaan, memiliki rumah sebesar ini.
Apa yang aku pikirkan. Harusnya aku sadar hanya dengan melihat mobil yang dia pakai. Bloon banget!
Aku memukul jidatku. Langkah kaki ini berhenti saat diapun–Evan, berhenti. Dia berbalik dengan wajah yang masih terlihat begitu marah.
"Mulai detik ini, jangan tinggal di tempat sampah itu lagi! tinggal di sini saja." Hanya itu yang dia ucapkan sebelum dia pergi berlalu. Aku? apa yang harus aku lakukan di rumah sebesar ini. Bisa-bisa aku tersesat.
Saat aku begitu kebingungan, ada dua pelayan wanita yang berbeda dari sebelumnya. Mereka datang menghampiri dan mengajakku pergi ke suatu tempat.
"Silahkan masuk, Nona. Ini kamar yang akan anda tempati selama di sini. Nanti kami akan membawaku pakaian ganti." mereka berbicara dengan tubuh menunduk, posisi tangan bertumpuk di perut.
Ya ampun! dua jam kebelakang, aku adalah makhluk menjijikan, dan sekarang? bahkan aku merasa sedang ada dalam film drakor. ckckck!
"Kalian tidak perlu bersikap seperti itu padaku, kita ini sama. Santai sedikit."
"Maaf, Nona. Kami tidak bisa, silahkan anda masuk dan istirahat. Kami permisi." Mereka membukakan pintu kemudian pergi.
Astaga! mata ini bisa copot karena terlalu sering melotot.
"Ini kamar siapa? kenapa desainnya cewek banget. Apa Evan punya adik perempuan?" gumam ku.
__ADS_1
"Dulu." suara itu benar-benar membuat aku terperanjat. Jantungku berdetak tidak beraturan karenanya. "Sekarang dia sudah tidak ada lagi. Sudahlah, lupakan saja. Oh, iya. Apa pelayan sudah membawakan kamu baju ganti?"
Aku hanya menggeleng.
"Setelah selesai mandi dan ganti pakaian, kita makan malam. Aku lapar."
"Iya."
Evan kembali pergi. Tak berapa lama kemudian, pelayan membawakan baju ganti untukku. Mereka menunggu di luar kamar dengan pintu yang tertutup, mungkin mereka menunggu untuk mengantarkan aku makan malam.
Ahhhh rasanya sejuk sekali. Entah mimpi apa, aku bisa berada di sini. Meski ini hanya mimpi, aku akan menikmatinya, berharap saat bangun nanti aku akan begitu fresh untuk kembali berkutat dengan dunia yang kejam.
Setelah badan ini kering, aku mengambil baju yang tadi di bawa. Ternyata itu sebuah gaun, gaun berwarna biru navy yang sangat indah.
kenapa bisa pas gini ya?
Aku berlenggak-lenggok di depan cermin. Rambutku yang masih setengah basa di biarkan tergerai.
Begitu membuka pintu, dua wanita yang tadi masih ada di sana. Mereka menuntun jalan menuju ruang makan.
Astaga! ini ruang makan apa restoran?
Apa makanan itu akan habis?
"Silahkan duduk, Nona." seorang pelayan laki-laki dengan setelan jas mempersilahkan aku duduk.
"Terima kasih."
"Ayo kita makan." Evan kembali 'melunak'
Dia kenapa bisa bersikap lembut gemulai? padahal aku melihat dengan jelas bagaimana preman itu terkapar karenanya.
"Ini." dia memberikan udang cukup besar. "Makanlah, kamu butuh energi yang banyak. Ini juga, makanlah." dia kembali menaruh makanan di piringku, kali ini dia menyimpan ayam goreng dan juga brokoli.
"Evan, apa bisa kita makan pakai tangan saja? aku tidak terbiasa makan pakai sendok dan garpu, kecuali sayur yang berair. Hehe."
"Hahaha." di tertawa sangat lepas. "Lakukan apapun yang kamu inginkan. Tidak akan ada yang melarang."
__ADS_1
"Baiklah, aku mengerti."
Aku menyimpan sendok dan garpu di samping piring. Dan mulai makan dengan tangan langsung. Aku yang memang tidak pernah makan enak sebelumnya, begitu lahap memakan makanan yang tersaji. Tidak perduli pelayan dan Evan menatapku dengan pikiran mereka masing-masing.
"Pelan-pelan, nanti tersedak." Dia kemudian memberikan segelas air putih padaku. Aku yang memang merasa tenggorokan ini sangat seret, segera mengambil dan meminum air sampai habis. Kemudian lanjut makan.
"Jangan kaya anak kecil, ah!"
Aku hampir benar-benar tersedak saat tangan Evan menyentuh ujung bibirku. Dia mengusap noda makanan yang belepotan di mulutku.
"Ayo, lanjutkan."
"Kamu enggak makan?" tanyaku dengan makanan masih memenuhi rongga mulut.
"Aku udah selesai."
Aku melihat piring Evan yang hanya menyisakan tulang paha ayam.
Apa dia makan sangat sedikit? sementara aku?
Rasanya malu saat melihat begitu banyak makanan dalam piringku. Aku segera menyimpan udang yang belum selesai aku makan.
"Kenapa? kok berhenti?"
"Maaf, ya. Aku makan seperti orang kesurupan. Aku memang tidak pernah makan makanan seenak ini sebelumnya. Jadi–."
"Sudahlah, ayo makan lagi. Apa perlu aku menyuruh mereka pergi agar kamu leluasa?"
"Ahh, tidak perlu. Aku juga sudah kenyang."
"Bener?"
"Hemm."
"Baiklah, sekarang kita ke atas, ya. Temani aku malam ini."
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Ikut saja, toh kamu sudah ada di sini sekarang. Ikut saja dulu. Nanti juga kamu pasti menikmatinya."
Apa? kenapa dia ingin mengajak aku ke atas? astaga! bodoh banget aku ini ... kenapa juga aku harus mau ikut dia ke rumah ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang?