Bukan Pangeran Berkuda

Bukan Pangeran Berkuda
Cemburu


__ADS_3

kenapa aku begitu ceroboh?


"Argh!" aku mengacak-acak rambutku kasar. Betapa memalukannya saat mengingat apa yang terjadi tadi siang.


🌺


Aku mengejar Presdir dengan berlari. Aku takut dia akan marah lagi saat aku tidak mendengar perkataannya.


Kakiku tersangkut pembatas ban mobil di parkiran, insting untuk menyelamatkan diri timbul. Tanganku meraih apapun yang terdekat dan itu adalah tangan Presdir.


Aku meraih tangannya, hingga dia berbalik badan. Tak ku sangka dia begitu lemah hingga tidak bisa menahan beban berat badanku. Dia yang harusnya jadi penyelamat malah ikut terjatuh.


Nahasnya lagi, saat kami berdua berusaha bangkit, diaalah terpeleset. Dia menarik pinggangku dan kami kembali berada di lantai. Kini, dengan posisi yang sangat memalukan. Tubuhku berada di atas tubuhnya ,dan ....


"Arrrgh! kenapa ciuman pertamaku tragis seperti ini? hiks hiks." aku mengutuk diriku di dalam kamar. Selera makan pun hilang meski entah untuk keberapa kalinya pelayan mengetuk pintu meminta aku segera keluar dan makan malam.


"Kinan, are you oke?"


Itu Evan.


"Ya, aku segera keluar." aku meloncat dari atas kasur. Segera membenahi wajah dan berhenti baju. Evan selalu memintaku berpakaian rapi meski hanya makan di dalam rumah. Ribet!


Begitu keluar dengan gaun dan rambut yang rapi, aku di buat heran oleh penampilan Evan, dia hanya memakai celana pendek dengan kaos pendek berwarna hitam.


"Mau kemana? ada janji sama Presdir?" tanyanya seperti tidak senang.


"Oh, bukan. Aku pikir kamu mau ngajak aku makan malam."


"Owh, kamu belum makan malam? apa dia tidak memberimu makan setelah merusak rencana kita untuk bertemu dengan temanku?" ucapnya tanpa jeda. Aku hanya termangu mendengar dia mengoceh.


"Maaf, aku tadi–."


"Sudahlah, ganti pakaian. Kita pergi malam ini."


"Tapi, aku lapar, Evan."

__ADS_1


"Nanti kita makan di luar, ganti dulu bajunya."


"Baiklah." Diapun pergi. Aku kembali masuk ke dalam kamar, berganti baju. Aku pikir Evan akan membawaku ke tempat yang lebih santai, karena pakaian yang dia pakai pun sangat santai.


Apa sebaiknya aku juga hanya memakai celana pendek dan kaos, ya?


Aku keluar dengan memakai celana pendek di atas lutut dan kaos over size berwarna hitam. Tidak ketinggalan sandal andalan, Swallow biru.


"Ayo, Van."


Evan yang sedang duduk, bangkit. Dia terdiam beberapa saat begitu melihatku. Ada apa? apa aku salah kostum lagi? bukankah dia juga begitu santai?


"Kalau seperti ini, kita akan terlihat pasangan yang kompak."


"Kenapa?"


"Warna baju kita sama."


Aku melihat bajunya lalu melihat tubuhku sendiri. Ya Tuhan! Evan benar.


"Siapa?" tanyaku polos."Oh, iya. Pacar kamu, ya sudah aku ganti baju dulu."


"Enggak perlu. Berdoa saja kita tidak bertemu Presdir di jalan."


"Lah, apa hubungannya?" tanyaku sambil mengikutinya dari belakang. "Kalaupun ketemu, emang kenapa? kita hanya harus menyapanya, bukan?"


"Apa kamu bisa melakukan itu?"


"Melakukan apa?" tanyaku saat kami hendak masuk ke dalam mobil. Evan terdiam, dengan tangan yang memegang pintu mobil yang terbuka.


"Karena kamu hanya akan menjadi patung saat bertemu tatap denganya." dia masuk kemudian menutup pintu begitu kerasa.


Ada apa dengannya?


Sepanjang jalan kami hanya saling diam. Evan terlihat masih marah dan aku? aku tidak akan bertanya saat dia marah, tidak ingin hal buruk timbul setelahnya.

__ADS_1


"Apa kamu seperti ini saat di bawa pergi seseorang?"


"Maksudnya?"


"Tidak bertanya kemana kamu akan di bawa "


"Karena aku percaya sama kamu."


"Kalau sama yang lain?" tanyanya dengan senyuman sinis terukir di wajahnya.


"Aku tidak pernah di bawa kemana-mana sama siapapun selain kamu."


"Presdir?"


Aduuuhh! kenapa sih Presdir selalu dia sebut? nyebelin.


"Dia kan cuma bawa aku ke kantor, udah."


"Emang, dia gak anter kamu pulang? sampai aku mau jemput aja kamu udah gak ada."


"Heh! kalau mau jemput itu, pastikan dulu orangnya ada atau tidak? kamu jemput tapi gak nyari aku ada di mana?"


"Aku takut ganggu acara kamu sama Presdir."


"Astagah! kamu kenapa selalu nyebut nama Presdir sepanjang hari ini? kamu kangen sama dia?"


"Uhuk!"


"Tuh 'kan sampe batuk, sambat namanya biar gak keselek. Inget namanya dalam hati."


"Idih. Amir Khan! Sorry, ya!"


Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya. Meski aku tidak mengerti dia kenapa hari ini, tapi aku suka dia bersikap seperti ini padaku. Aku rasa marahnya karena membatalkan janji dengan temannya, tidak cukup kuat. Aku yakin ada hal lain, meski aku masih harus mencari tau apa itu.


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2