
"Bagiamana keadaannya, Dok?" tanyanya pada Dokter yang memeriksa keadaanku. Aku yang berbaring di ranjang hanya sekilas curi-curi pandang padanya. Ada rasa sesal, takut dan juga malu. Campur jadi satu.
"Apa dia mengalami kekerasan? saya selalu bertanya padanya, tapi dia tidak menjawab. Luka di perutnya seperti bekas tendangan atau pukulan."
Dia menoleh. Bisa 'ku lihat dari matanya yang seperti begitu sangat penasaran.
"Obati saja, Dok." Dia pergi begitu saja.
"Lebih baik kamu jelaskan sekarang." Dokter lunak itu tiba-tiba sudah berada di samping.
"Mengagetkan saja." aku kesal padanya.
"Kenapa tubuhmu penuh dengan luka? jika bukan KDRT, apa kamu berkelahi dengan preman? atau kamu malah preman sesungguhnya, atau–"
"Penagih hutang." Dokter terdiam dengan mulut yang masih terbuka. "Aku dikejar para deptcolektor, ayahku yang suka judi berhutang banyak, dan aku yang harus melunasi semuanya." aku menghela nafas. "Setiap mereka menagih, akan menyiksaku saat aku tidak memberikan mereka uang."
Aku melihat Dokter tidak berkedip sama sekali. Entah apa yang dia pikirkan. Aku segera turun dari ranjang. Pergi begitu saja meninggalkan Dokter yang masih terpaku.
Mungkin, bagi mereka yang dari kalangan atas seperti Dokter dan Presdir, akan merasa aneh saat melihat manusia miskin seperti aku ini babak belur hanya karena persolan uang! ah! bukankah di luaran sana ada yang harus meregang nyawa karena uang?
Waktu kerjaku tinggal satu jam tersisa. Aku menggunakan waktu untuk membersihkan cangkir dan alat makan bekas karyawan makan siang tadi.
Kadang, aku harus diam sebentar saat perut ini terasa kembali sakit.
"Ya ampuun ... kenapa harus kejedot meja segala sih?" gerutuku seraya mengelus perut.
__ADS_1
Setelah selesai, aku duduk dengan secangkir kopi. Menunggu waktu untuk jam pulang kerja.
Kenapa kantor masih terasa ramai? Tidak biasanya.
Aku keluar dari sarangku. Mencoba ke lobby dan melihat apa yang terjadi.
Ah! pantas saja masih ramai. Di luar hujan.
Tidak terasa, waktu pulang kerjaku lebih satu jam. Mau tidak mau aku harus hujan-hujanan menuju halte. Aku tidak mungkin menunggu sampai malam.
Jalan untuk kami para karyawan rendahan, punya jalan khusus. Di belakang. Lorong yang menuju parkiran untuk para elite. Ya, parkiran mereka tidak berada di depan. Mereka tidak membiarkan mobil mereka kena sinar matahari ataupun air hujan. Rusak–katanya.
Aku melihat hujan begitu lebat. Semenit saja aku berjalan di bawahnya, pasti sudah basah kuyup. Mau tidak mau aku harus pulang, meski hujan begitu deras.
Tidiiddd.
"Dokter?" ucapku begitu kaca pintu terbuka dan melihat orang yang ada di balik kemudi.
"Ayo, masuk!" teriaknya di antara berisiknya suara hujan.
Aku ragu. Benarkah aku harus masuk ke dalam? tapi, apa kata orang kalau melihat ini?
Aku melangkah saat aku melihat ada mobil lain di belakangnya.
Presdir?
__ADS_1
Dia menatapku tajam. Selalu dan selalu aku membeku saat bertatapan dengan laki-laki itu.
Ayo dong, kaki. Kenapa berat sekali.
Tiddidddd.
Kembali klakson Dokter membuat aku terkejut. Untunglah ... dengan begitu rantai di kakiku segera terlepas dan aku bisa segera melangkah.
"Terima kasih, Dok."
"Panggil aku Evan saat di luar kantor."
"Eum, baiklah."
"Di mana tempat tinggalmu? aku akan mengantarmu sampai rumah dengan aman."
Aku menoleh. Jujur, aku terharu. Namun, aku juga merasa heran. Kenapa dia mau melakukan ini untukku, apa dia merasa kasihan padaku setelah tau cerita hidupku?
"Jangan menatap seperti itu. Aku jadi grogi di liatin cewe cantik."
Ah! dia ngomong apa barusan? kenapa wajah ini seperti ada di depan api unggun? panas.
Dr. Evan. 32 tahun.
__ADS_1
To Be continued